Chapter 7 - The Blue Flower (Bunga Biru)
Besok paginya, Lian Yuexin dan ayahnya pergi ke hutan. Ayahnya mengajak dirinya untuk mencari sesuatu. Lian Yuexin tidak tahu apa yang ingin dicari ayahnya, tapi dia hanya menuruti saja dan ikut bersama ayahnya.
Setelah sampai di hutan, Lian Yuexin melihat sekeliling. Kepalanya menoleh ke kanan, kiri, depan, atas, dan bawah. Hutan ini cukup lebat dan agak jauh dari desa.
"Ayah, sebenarnya apa yang kita cari?" mata Lian Yuexin tidak berhenti memperhatikan sekitarnya, ia terus melihat-lihat.
"Nanti kau akan tahu setelah melihatnya." Ayahnya tetap berjalan di depannya.
Mereka terus berjalan masuk lebih dalam ke hutan. Lian Yuexin terus mengikuti dan tidak ingin jauh dari ayahnya. Setelah beberapa saat mereka tiba di suatu tempat, tempat ini terdapat perbukitan dan pegunungan.
"Kita akan melewati perbukitan ini, dan akan tiba di tempat tujuan." Ayahnya terus berjalan.
Lian Yuexin hanya menghela napas, dia terus mengikuti ayahnya di belakang. Mereka melewati jalan setapak di bawah bukit dan pegunungan. Di sekitar, terdapat banyak sekali tumbuhan liar, namun Lian Yuexin tidak tahu apa itu, apakah itu beracun atau tidak, dia tidak tahu sama sekali.
"Jangan pernah menyentuh apapun tanpa ayah perintahkan." Lian Haoyu memperhatikan anaknya yang penasaran, dan terus melanjutkan.
"Baik, ayah."
Setelah beberapa saat, mereka telah melewati perbukitan dan pegunungan. Setelah itu, mereka sampai di sebuah tempat, tempat yang sangat indah yang belum pernah dilihat Lian Yuexin.
Mata Lian Yuexin berbinar, jantungnya berdebar kencang, dia tidak percaya apa yang dilihatnya. Ada danau di depannya, dan di sekeliling danau itu terdapat banyak tumbuhan indah yang hidup, serta ada banyak hewan yang berkeliaran.
"Ayah... tempat apa ini? Indah sekali...."
Ayahnya tersenyum, dia sudah menduga anaknya pasti akan senang. Lalu dia berkata dengan tenang, "Ini adalah Danau Qingshui. Katanya, tempat ini sudah ada sejak lama, jauh sebelum desa kita berdiri."
Lian Yuexin menatap air danau yang berkilau di bawah sinar matahari. Setiap riak memancarkan cahaya, udara di sekitarnya terasa segar dan ringan. Ia menelan ludah, masih tak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
"Benar-benar indah, lebih indah dari danau yang kemarin aku lihat." Lian Yuexin berjalan di sekitar danau, melihat tumbuhan yang ada.
Dia melihat sebuah bunga yang memiliki kelopak yang indah berwarna biru. Lian Yuexin memperhatikannya dengan seksama, matanya melebar saat melihat bunga itu.
Ayahnya yang memperhatikan hanya tersenyum kecil. "Xin'er, ayah akan mencari beberapa tumbuhan. Kau jangan terlalu jauh dan tetap dalam jangkauan ayah."
Lian Yuexin yang masih melihat bunga pun mengangguk. Matanya tidak bisa berpaling sedikit pun saat melihat tumbuhan indah yang ada di sana.
Lian Haoyu melangkah ke dekat pohon yang memiliki tumbuhan kecil di bawahnya. Dia pun mengambilnya dan menyimpannya ke dalam keranjang.
"Mencari beberapa tumbuhan untuk dibawa pulang sangat merepotkan. Tapi, jika tidak dicari maka tidak ada persediaan."
Dia pun terus melangkah mencari beberapa tumbuhan untuk dibawa pulang. Beberapa saat kemudian ia melihat sesuatu, sebuah tumbuhan yang cukup menarik. Tumbuhan ini adalah pohon kecil yang sepertinya baru tumbuh.
"Sepertinya ini pohon buah merah kecil yang baru tumbuh," gumam Lian Haoyu sambil menunduk memeriksa daunnya.
"Jika dirawat dengan baik, pohon ini bisa menghasilkan buah yang sangat bagus... bisa dijual ke kota suatu saat nanti..."
Dia pun mengambilnya dengan hati-hati lalu menyimpannya. Setelah selesai mengambil beberapa tumbuhan, Lian Haoyu pun kembali ke tempat putrinya.
Lian Yuexin duduk di tepi danau, di tangannya ia menggenggam bunga yang tadi dia lihat. Dia sangat menyukainya dan ingin menyimpannya.
"Xin'er, ayo kita kembali. Hari sudah sangat siang, kita harus kembali secepatnya sebelum malam."
"Baik, ayah." Lian Yuexin bangkit dari duduknya, lalu berjalan di belakang ayahnya.
Mereka berdua pun kembali ke rumah, melewati jalan setapak di perbukitan dan hutan yang cukup lebat.
Sesaat kemudian, mereka tiba di rumah. Lian Haoyu meletakkan keranjang yang berisi banyak tumbuhan.
Lian Yuexin masuk ke dalam rumah mencari ibunya sambil terus memegang bunga yang ada di tangannya.
"Ibu!" dia berteriak dengan wajah yang sedang merasa senang.
"Ibu di dapur."
Lian Yuexin pun melangkah ke dapur, dia mendapati ibunya sedang merapikan sayuran.
"Ibu, lihat." ia menghampiri ibunya dan menunjukkan bunga yang dia bawa dari Danau Qingshui.
Ibunya melihat bunga di tangan putrinya, dia menatapnya sebentar lalu berbicara dengan nada tenang. "Bunga yang indah... apakah ini saja yang kau ambil?"
"Benar. Tadi aku mau mengambil beberapa lagi, tapi aku teringat perkataan ibu,"
"Perkataan ibu?" Ibunya menatap dengan bingung.
"Benar. Ambil secukupnya, jangan serakah dan ingatlah bahwa dunia ini bukan hanya kita yang memiliki kehidupan." Lian Yuexin berbicara dengan tenang namun wajahnya memasang ekspresi serius.
Mei Ruyin yang mendengar pun tersenyum senang. Dia senang karena putrinya mengerti arti perkataannya, bahwa di dunia ini semua makhluk hidup memiliki tempatnya sendiri, dan kita harus menjaga keseimbangan.
"Bagus, Xin'er. Ibu senang kau bisa mengerti hal itu," ucap Mei Ruyin sambil mengelus kepala putrinya.
Lian Yuexin tersenyum, matanya berbinar. "Aku ingin merawat bunga ini dengan baik, supaya bisa terus hidup dan mekar indah."
Mei Ruyin melihat, memeriksa bunga itu lebih dekat. "Kalau begitu, kita akan buatkan tempat khusus untuk bunga ini, dan menaruhnya di tempat yang terang. Ia akan tumbuh dengan sehat di sana."
Lian Yuexin mengangguk dengan semangat. "Iya, Ibu! Aku akan menyiraminya setiap hari."
Lian Yuexin menatap bunga biru di tangannya, hatinya merasa senang. Setelah itu Lian Yuexin menaruh bunga itu di tempat yang sudah disiapkan.
Setelah selesai, ia lalu membantu ibunya membersihkan sisa-sisa sayuran. Sore harinya, ia pun bermain dengan temannya, Su Linyao dan Han Meiyun. Dia menceritakan tentang Danau Qingshui dan bunga biru yang baru saja ditemuinya.
"Lian Yuexin, ceritakan lagi tentang bunga biru itu!" pinta Han Meiyun sambil mengibaskan tangannya, matanya berbinar penuh rasa penasaran.
Lian Yuexin tersenyum, lalu membawa mereka ke tempat dia menanam bunga biru itu, Su Linyao dan Han Meiyun mengikutinya. Setelah tiba di tempatnya, Su Linyao dan Han Meiyun terperangah saat melihat keindahan bunga itu. Mereka tidak pernah melihat bunga yang seindah ini sebelumnya.
"Wahh... indah sekali bunga ini, apakah kau hanya membawa satu, Yuexin?" Su Linyao bertanya sambil terus melihat bunga itu.
"Ya. Aku hanya membawa satu saja."
Su Linyao ingin menjawab, tapi sebelum dia sempat berbicara, Han Meiyun sudah lebih dulu bersuara. "Kenapa hanya satu? Apakah kau tidak mau membawa lebih untuk kami?"
"Bukan begitu, kata ibuku, aku tidak boleh mengambil sesuatu dengan berlebihan." Lian Yuexin menjelaskan alasannya, karena memang dia tidak ingin mengambil semuanya.
Han Meiyun cemberut, namun dengan cepat Su Linyao memukulnya. "Kau ini! Semuanya ingin kau miliki, cih!"
"Aku hanya bercanda...." Han Meiyun meringis kesakitan akibat dipukul Su Linyao.
Lian Yuexin tertawa kecil melihat kedua temannya itu. Mereka telah bersama sejak kecil, dan tak terpisahkan. Setiap hari mereka selalu bermain bersama, di bukit, sungai, bahkan hutan. Apa pun mereka selalu berbagi, entah itu makanan, hadiah, suka duka.
Mereka bertiga duduk di dekat bunga biru itu. Menikmati suasana sore hari yang terasa hangat.
"Bagaimana kalau kita buatkan lingkaran kecil dari batu di sekeliling bunga ini, supaya lebih aman dan indah?" usul Su Linyao sambil menunjuk ke tanah di sekitar bunga biru itu.
"Aku setuju!" seru Han Meiyun, matanya bersinar penuh semangat. "Dengan begitu, bunga itu tidak akan terganggu, dan bisa lebih cantik!"
Lian Yuexin tersenyum, kemudian mereka bertiga mulai mencari batu-batu kecil di sekitar halaman. Mereka menyusun batu-batu itu membentuk lingkaran yang rapi, sambil saling tertawa ketika beberapa batu terguling dan harus diperbaiki lagi.
"Eh, lihat ini!" Han Meiyun tiba-tiba menunjuk ke arah semak. "Ada serangga kecil yang berwarna hijau dan bersinar."
Lian Yuexin menunduk, memeriksa serangga itu dengan seksama. "Wahh, memang cantik. Tapi biarkan saja dia, jangan ditangkap nanti bisa mati."
Su Linyao dan Han Meiyun mengangguk perlahan, mengerti maksud Lian Yuexin. Mereka kembali fokus pada bunga biru itu, menata batu-batu dengan hati-hati hingga lingkaran kecil selesai terbentuk.
"Bagus, ini sekarang terlihat seperti taman kecil," wajah Su Linyao terlihat puas.
"Benar, dan bunga ini sekarang terasa lebih aman," Lian Yuexin juga sama, dia tersenyum puas.
Han Meiyun duduk di rumput, menatap bunga biru itu dengan rasa kagum. "Rasanya senang sekali, walaupun bunga ini milik Yuexin, tapi rasanya sangat memuaskan."
Lian Yuexin menatapnya dengan lembut, lalu berkata dengan tenang. "Mulai sekarang, ini bunga milik kita bertiga."
Han Meiyun dan Su Linyao menoleh dengan tiba-tiba. Wajah mereka menunjukkan kesenangan yang berseri-seri.
"Benarkah? Wahh.... terima kasih Yuexin!" Han Meiyun memeluk Lian Yuexin dengan erat dan mencoba menciumnya.
Namun, sebelum berhasil melakukannya, Lian Yuexin mendorong wajahnya menjauh. Su Linyao yang melihat pun hanya tertawa kecil. Dia juga merasa senang namun tidak berlebihan.
Lian Yuexin tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Hati-hati, Meiyun. Kita memang sahabat tapi jangan berlebihan," ucapnya sambil menepuk bahu Han Meiyun dengan lembut.
Han Meiyun meringis sedikit, tapi matanya tetap bersinar ceria. "Baik-baik, aku janji tidak berlebihan lagi," katanya sambil tersenyum malu-malu.
Su Linyao menggelengkan kepala dan tertawa kecil melihat tingkah keduanya. "Kalian berdua ini, selalu ribut seperti anak kecil."
Lian Yuexin ikut tersenyum, kemudian ia melihat ke arah bunga biru di tengah lingkaran batu yang baru mereka buat. "Aku senang kita bisa merawatnya bersama-sama."
Su Linyao mengangguk. "Aku akan melakukan yang terbaik agar bunga ini bisa tumbuh dengan bagus!"
Han Meiyun terkekeh melihat tingkah Su Linyao. "Kau sama saja seperti anak kecil." Ia tertawa meledek Su Linyao.
Su Linyao menggeram kesal, dia mencubit Han Meiyun. Han Meiyun meringis kesakitan oleh cubitan Su Linyao.
"Aduh... sakit tahu!"
"Hmmph! Rasakan itu!" Su Linyao berdecak kesal dan memasang ekspresi cemberut.
Lian Yuexin tertawa melihat tingkah kedua temannya itu, sekarang keadaan berputar.
Matahari sudah mulai terbenam ke barat, menandakan hari akan gelap. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing.
Saat malam hari, Lian Yuexin melihat ke jendela, ia melihat ke arah langit yang gelap. Tidak ada bintang, di sana tertutup oleh awan.
"Sepertinya akan hujan..." gumamnya pelan.
Benar saja, setelah beberapa saat hujan turun, cuacanya menjadi dingin. Lian Yuexin mengulurkan tangannya, merasakan setiap tetesan hujan yang turun dari langit.
Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati setiap tetesan air yang turun. Suara tetesan hujan yang menimpa atap dan daun-daun di halaman membuat suasana semakin tenang.
Di dapur, Mei Ruyin menyiapkan teh hangat untuk Lian Yuexin. Ia masuk ke kamar putrinya membawa secangkir teh.
"Xin'er, sini, minum dulu teh hangat," ibunya memberikan teh itu sambil tersenyum lembut.
Lian Yuexin menerima cangkir itu dan meminumnya perlahan. Rasa hangat dari teh membuat tubuhnya nyaman.
"Ibu... hujannya deras sekali."
Mei Ruyin duduk di sebelahnya. "Iya, Xin'er. Tapi hujan juga bagus untuk tanaman, tanah jadi subur, tanaman segar, udara juga bersih."
Lian Yuexin mengangguk, tersenyum kecil. Ia mengerti apa yang diucapkan ibunya. Dunia ini berjalan sesuai dengan apa yang sudah ditentukan. Ia kembali menatap keluar jendela, melihat hujan yang turun semakin deras.
"Ibu, benarkah kita bisa menjadi Immortal? Aku dengar saat ke kota waktu itu, mereka membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan Immortal. Maksudnya apa ibu?"
Mei Ruyin tersenyum tipis, menatap putrinya yang penasaran. Ia lalu berkata dengan lembut, "Immortal.... Xin'er, orang-orang menyebutnya Immortal ketika seseorang telah menempuh jalan kultivasi yang panjang, melampaui batas hidup manusia biasa, dan hidup jauh lebih lama... bahkan hampir tak terhingga."
Lian Yuexin menatap ibunya dengan mata berbinar. "Hampir tak terhingga... berarti mereka bisa hidup selama ratusan tahun?"
"Iya... mungkin lebih dari itu. Tapi jangan salah paham, menjadi Immortal bukan hal yang mudah."
Lian Yuexin menarik napas panjang, membayangkan seorang Immortal yang hidup selama ribuan tahun. "Kalau begitu... apakah aku bisa menjadi Immortal suatu hari nanti, Bu?"
