Chapter 6 - Gifts and a Journey's Tale (Hadiah dan Cerita Perjalanan)
"Waahhh.... akhirnya!" ia mengambil sendok pertama, meniupnya sedikit lalu menyeruput dengan mata berbinar. ".... enaknyaaa!"
Mei Ruyin menatap putrinya dengan penuh kasih. "Kalau kau makan dengan lahap begini, semua lelah ibu hilang."
Lian Haoyu mengambil sepotong ikan, lalu berkata dengan tenang, "Rasa supnya lebih hangat karena dimasak bersama."
Makan malam itu penuh dengan tawa dan obrolan ringan. Setelah perut mereka kenyang, Lian Yuexin segera bangkit, berlari kecil, lalu kembali membawa kantong dan keranjang.
"Ibu! Lihat, ini semua yang kami beli di kota!" serunya penuh semangat.
Satu persatu ia keluarkan barang belanjaan, pakaian sutra hijau untuk ibunya. "Ibu, ini pasti cocok sekali untukmu."
Lalu pakaian baru lain untuk ayah dan dirinya. Dua pakaian sederhana lainnya untuk Su Linyao dan Han Meiyun. Tusuk rambut berkilau yang ia genggam penuh kasih sayang, dua tusuk rambut lain untuk Su Linyao dan Han Meiyun, dan terakhir keranjang buah.
Mei Ruyin terdiam, matanya melebar saat menyentuh kain sutra lembut itu. "Xin'er... ini.... dari mana kalian mendapatkan ini? Bukankah ini mahal?"
Lian Yuexin mengangguk cepat, wajah penuh semangat. "Benar, Ibu! Semuanya termasuk penginapan.... totalnya 42 koin perak!"
"Empat puluh dua?!" Mei Ruyin hampir menjatuhkan pakaian dari tangannya. Ia menatap suaminya, suaranya meninggi. "Lian Haoyu! Lian Yuexin! Bagaimana mungkin kalian mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk belanja?"
"Bu, tapi lihat tusuk rambut ini!" Lian Yuexin buru-buru menyelipkan tusuk rambut biru ke kepalanya, lalu berputar dengan senyum lebar. "Cantik, kan?"
Lian Haoyu menepuk bahu istrinya, suaranya tetap tenang. "Ruyin, tenanglah. Penjualan ukiran dan sayuran kita di kota kemarin cukup bagus. Bahkan setelah semua pengeluaran, masih ada sisa lumayan banyak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Mei Ruyin menggigit bibirnya, lalu menarik napas panjang. Ia menyentuh kain sutra itu hati-hati, seakan takut merusaknya. "Aku hanya tidak ingin kalian terlalu boros."
"Ayah yang suruh aku memilih hadiah untuk Ibu," timpal Lian Yuexin cepat, tersenyum nakal. "Jadi kalau ibu mau marah, marahi ayah saja."
Lian Haoyu menatap putrinya sekilas, lalu tersenyum samar. "Anak ini... selalu pandai mengalihkan masalah."
Ruangan dipenuhi tawa ringan. Malam itu berakhir dengan mereka duduk bersama, membicarakan perjalanan ke kota.
Besok paginya, hari berjalan seperti biasa. Hari ini Lian Yuexin akan membantu ayah dan ibunya. Selesai melakukan pekerjaan dia akan bermain bersama teman-temannya, Su Linyao dan Han Meiyun.
Lian Yuexin, masih terbaring di tempat tidurnya. "Hhhhmmmm.... masih pagi sekali...." dia masih sangat malas untuk bangun, tapi ketika dia teringat dengan tusuk rambut biru barunya, ia langsung bangun dengan semangat.
"Sempurna!" Lian Yuexin menata rambutnya dan menggunakan tusuk rambut baru itu.
Dari dapur terdengar suara ibunya memanggil. "Xin'er! Kalau kau tidak cepat turun, bubur hangatnya akan segera dingin!"
"Aku datang, ibu!" Lian Yuexin berlari mendatangi ibunya.
Di meja, sudah ada semangkuk bubur yang masih hangat. Di sana juga ada ayahnya, Lian Haoyu yang sedang duduk sambil minum teh.
"Selamat pagi, Ayah, Ibu!" Lian Yuexin duduk sambil mengambil kacang yang belum sempat diletakkan di mangkuknya.
"Eh, dasar anak ini," wajah ibunya pura-pura cemberut, tapi senyum samar muncul di wajahnya. "Kau ini makan belum cuci muka dulu ya?"
"Hehe, nanti aku cuci. Perutku dulu yang butuh perhatian."
Lian Haoyu hanya menggeleng pelan, menyeruput tehnya. "Kalau soal makan, dia memang selalu paling cepat."
"Setelah ini kau bantu ibu yaa." Mei Ruyin duduk di samping putrinya, lalu menghela napas kecil.
"Baik, ibu." Lian Yuexin berbicara dengan mulut yang penuh bubur.
"Setelah itu, bantu ayah." tambah Lian Haoyu. "Ayah akan lanjut mengajarimu cara mengukir. Bukankah kau berkata ingin mempunyai toko?"
"Ehh... itu benar... tapi kan masih lama." Lian Yuexin mengerucutkan bibirnya. "Aku kan lebih suka menghias daripada mengukir kayu..."
"Dasar kau ini, waktu itu kau katakan suka mengukir kayu, sekarang suka menghias."
"Karena semalam datang ke toko aksesoris jadi aku berubah pikiran, haha."
"Sudahlah terserah kau saja." Suara ayahnya tetap tenang tanpa emosi, dia tidak akan memaksa jika anaknya tidak mau.
Setelah sarapan, Lian Yuexin membantu ibunya memeriksa ladang. Ia melihat tanaman sayur yang sangat indah dan menarik. Ini membuatnya senang, dan ingin mengetahui banyak hal.
Dia juga melihat ada tanaman obat herbal di sisi lain ladang. Banyak jenis tanaman, dari bunga hingga dedaunan.
"Ibu, apakah aku bisa belajar membuat obat?" Lian Yuexin memperhatikan bunga yang cukup indah di hadapannya.
"Bisa, Xin'er. Kau bisa tanya ayahmu, dialah yang bisa." Mei Ruyin yang sedang memetik sayuran memperhatikan sekilas putrinya yang sedang memperhatikan bunga.
"Benarkah? Kenapa ayah serba bisa, apakah ayah seorang cendekiawan?"
"Bisa dibilang begitu..." Mei Ruyin melangkah kembali ke rumah.
Lian Yuexin mengikuti ibunya kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, ia melihat ayahnya yang sedang mengukir kayu. Gerakan tangannya tidak perlu diragukan lagi, itu sudah seperti Master Pengukir Kayu.
"Lian Yuexin! Kemari."
Lian Yuexin terkejut sesaat, dia awalnya berniat untuk kabur dan bermain bersama temannya, tapi ketika suara ayahnya terdengar, dia mengurungkan niatnya. Lian Yuexin pun melangkah menghampiri ayahnya.
"Ada apa ayah..." suaranya seperti orang tidak makan selama 7 hari.
"Suaramu seperti orang yang tidak makan selama 7 hari berturut-turut." Lian Haoyu tersenyum tipis saat melirik anaknya, tapi suaranya terdengar seperti mengejek.
Wajah Lian Yuexin cemberut, lagi dan lagi dia dipermainkan oleh ayahnya. "Ibuu!!! Lihat ayahh!!"
Dia berteriak untuk mengadu kepada ibunya, tapi ibunya berpura-pura tidak mendengar. Di balik itu, wajah ibunya tertawa kecil.
Lian Yuexin pun duduk dengan terpaksa di hadapan ayahnya. Dia menggenggam sepotong kayu kecil dan mulai mengukirnya. Gerakan tangannya pelan, kaku, karena dia belum terlalu mahir melakukannya. Kayunya bergetar di tangan karena genggamannya yang gugup.
"Pegang dengan tenang. Jika sedang mengukir, bukanlah sekadar mengukir, tapi kita juga harus berimajinasi tentang apa yang harus kita ukir." Ayahnya memberi contoh cara yang benar. Gerakannya tenang, dia menutup mata sejenak lalu membukanya, tangannya mulai bergerak mengukir sepotong kayu baru. Lian Yuexin memperhatikan dengan seksama gerakan ayahnya, dia melihat tangan ayahnya yang dengan tenang mengukir kayu.
Yang awalnya hanya sepotong kayu, sekarang sedikit demi sedikit mulai muncul sebuah ukiran seseorang. Dari atas, seperti seorang wanita, wanita ini terlihat anggun sekali. Dengan rambut panjang dan pakaian yang indah di tubuhnya.
"Wahh... ukirannya sangat indah. Ayah, ini siapa?" Lian Yuexin menelan ludah, matanya membulat. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak memuji dan bertanya.
"Ini ibu. Ayah mengukir ibumu."
Lian Yuexin menoleh, menatap ibunya yang sedang merapikan rumah, lalu kembali melihat ukiran ayahnya. Wajahnya tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Ini... Ayah memang yang terbaik! Ukiran ibu terlihat sangat indah."
Lian Haoyu hanya mengangguk pelan, melanjutkan pekerjaannya dengan fokus. Suasana kembali hening, hanya ada suara gesekan pahat dan kayu. Lian Yuexin kembali mencoba mengukir, meniru gerakan ayahnya yang tenang. Namun, tangannya masih terlalu kaku, dan imajinasinya belum bisa mengalir dengan bebas.
Beberapa kali ia mengukir bentuk yang aneh, membuat wajahnya cemberut. Ayahnya sesekali melirik, tidak banyak berkomentar. Ia hanya mengajarinya dengan sabar, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya Lian Yuexin bisa mengukir bentuk yang lebih jelas, meskipun masih jauh dari kata sempurna.
Saat sore harinya, saat matahari mulai turun ke barat, Lian Yuexin, Su Linyao, dan Han Meiyun sudah berkumpul di bawah pohon besar di dekat sungai. Mereka sedang sibuk membuat kalung dari bunga-bunga liar.
"Lian Yuexin, tusuk rambutmu cantik sekali!" puji Su Linyao, dia menyentuh tusuk rambut biru di kepala Lian Yuexin.
"Terima kasih! Ah... iya, aku juga membelikan hadiah untuk kalian. Aku hampir lupa."
Su Linyao dan Han Meiyun yang mendengar pun merasa senang. "Benarkah? Apa itu?"
Lian Yuexin pun mengeluarkan hadiah yang sudah dia siapkan untuk kedua temannya. Sebuah pakaian dan aksesoris.
Su Linyao dan Han Meiyun yang melihat pun sangat senang, mata mereka berbinar. Mereka menatap barang-barang itu cukup lama, memperhatikan dengan seksama. Ada pakaian yang sederhana tapi masih cukup indah, dan aksesoris tusuk rambut seperti Lian Yuexin, namun tidak seindah milik Lian Yuexin. Tapi, Su Linyao dan Han Meiyun tetap senang, mereka tidak menyangka bahwa Lian Yuexin akan benar-benar membawakan hadiah dari kota untuk mereka.
"Kau membelikan ini untuk kami?" Su Linyao menggenggam pakaian di tangannya, ekspresinya sangat bahagia, dia melihat ke arah Lian Yuexin dengan senyum.
"Benar, aku membelikan itu untuk kalian. Apakah kalian tidak menyukainya?" Lian Yuexin mencoba mempermainkan temannya itu dengan ekspresi datar.
"Suka, suka, suka. Kami menyukainya, ini sangat indah..." Han Meiyun dengan cepat menjawab, wajahnya berseri-seri, dia mencoba menggunakan tusuk rambut itu.
"Lian Yuexin, lihat, bagaimana menurutmu?" Han Meiyun bertanya sambil menunjukkan tusuk rambut di kepalanya.
Lian Yuexin melihat dengan cermat, wajahnya seperti orang yang sedang memikirkan strategi. "Bagus, bagus, cocok sekali!" Lian Yuexin tersenyum lembut, dia sangat senang jika teman-temannya menyukai hadiah kecil itu.
"Aku akan mencoba pakaian ini besok, untuk tusuk rambutnya akan kugunakan sekarang." Tidak hanya Han Meiyun, tapi Su Linyao juga mencoba tusuk rambutnya. Saat dia menggunakan itu, Su Linyao terlihat semakin cantik.
"Wahh... kau jadi semakin cantik Su Linyao..." Lian Yuexin memujinya sambil menyentil hidung Su Linyao.
Wajah Su Linyao memerah, dia sangat senang. "Terima kasih. Aku sangat menyukai ini!"
Senyum gembira terlihat di wajah ketiga gadis itu. Setelah memakai tusuk rambut baru mereka, ketiganya kembali duduk dan melanjutkan bermain. Mereka melanjutkan membuat kalung dari bunga liar. Mereka terus mengobrol, menceritakan hal-hal lucu yang terjadi. Suara tawa mereka terdengar meriah di sore itu.
"Lian Yuexin, ceritakan tentang perjalananmu ke kota." pinta Han Meiyun dengan wajah memelas. "Aku ingin tahu semuanya!"
Lian Yuexin mengangguk, lalu mulai menceritakan dengan semangat. "Kota itu sangat besar! Jalanannya lebar dan ada banyak sekali bangunan indah, pasar yang ramai, toko-toko yang menjual berbagai barang. Toko aksesoris tempat aku membeli tusuk rambut ini sangat cantik. Di sana banyak sekali jenis-jenis barangnya."
"Benarkah? Aku jadi semakin penasaran." Su Linyao dan Han Meiyun terkesima, membayangkan keindahan yang diceritakan oleh Lian Yuexin.
"Aku juga membantu menjual ukiran kayu dan sayuran dengan ayahku di pasar. Di sana sangat ramai, banyak sekali orangnya. Saat itu, aku melihat ada yang menjual permen, jadi aku ingin membelinya. Awalnya aku ragu-ragu tapi tiba-tiba ayahku muncul dan membelikannya untukku."
"Lian Yuexin, kau seperti anak kecil yang merengek jika tidak diberikan permen." Teman-temannya tertawa, mengejek Lian Yuexin yang membeli permen.
Wajah Lian Yuexin cemberut, dia memalingkan wajahnya. Su Linyao dan Han Meiyun yang melihat pun berhenti tertawa. "Baiklah, baiklah. Kami hanya bercanda Lian Yuexin."
"Benar. Ayo lanjutkan ceritamu." Han Meiyun masih sedikit tertawa namun segera hilang saat Lian Yuexin menatapnya.
"Baik. Setelah itu, saat ingin kembali ke lapak dagang aku sempat terpisah dari ayahku karena pasar yang sangat ramai." Lian Yuexin melanjutkan ceritanya, kali ini wajahnya kembali tenang dengan semangat untuk bercerita.
Saat mendengar Lian Yuexin terpisah di pasar dengan ayahnya, Su Linyao terkejut sesaat. "Benarkah? Lalu bagaimana kelanjutannya?"
"Benar, saat itu aku tidak tahu harus melakukan apa. Saat aku mau mencari ayahku, tiba-tiba muncul wanita. Wanita itu menggenggam tanganku, dia berniat untuk membantuku mencari ayahku. Aku pun mengiyakan saja, namun saat hendak melangkah lagi, ada yang menyentuh tanganku di belakang, saat ku lihat ternyata itu ayahku. Aku pun kembali bersama ayahku."
"Lalu bagaimana dengan wanita itu?" Han Meiyun bertanya dengan ekspresi serius, dia antusias mendengar cerita Lian Yuexin.
"Dia menghilang di dalam keramaian. Aku tidak tahu ke mana dia pergi."
"Lanjutkan lagi, setelah itu kau melakukan apa?" Su Linyao tidak sabar dan segera meminta Lian Yuexin melanjutkan cerita.
Lian Yuexin menarik napas sesaat, lalu menghembuskannya. Dia pun melanjutkan ceritanya sore itu.
