Chapter 9 – Lessons in Patience (Pelajaran tentang Kesabaran)
Su Linyao melihat ibunya yang sedang menata kendi di depan rumah. Ia melangkah perlahan mendekati ibunya yang masih belum sadar dengan kehadirannya.
Langkah demi langkah ia mulai mendekat, dan ketika hanya berjarak 3 langkah lagi, tiba-tiba...
"Kau baru pulang?" Ibunya tiba-tiba bersuara yang justru membuat Su Linyao terkejut.
Su Linyao yang sebelumnya ingin mengejutkan ibunya, justru dirinya yang dibuat terkejut oleh ibunya. Ia hanya bisa menghela napas pendek.
Ibunya lalu menoleh sambil tersenyum kecil. "Apa yang kau lakukan mendekat seperti itu?"
"Aku ingin mengejutkan Ibu. Tapi justru aku yang terkejut." jawab Su Linyao dengan suara lirih.
"Langkahmu masih bisa ibu dengar. Bahkan angin saja kalah dengan suara langkah kakimu." Ibunya tertawa kecil yang membuat Su Linyao menahan cemberut. Ia sudah mendengar suara langkah kaki anaknya, namun ia sengaja tidak menoleh secara langsung.
"Bagaimana bisa ibu mendengarnya, bukankah langkahku sudah sangat perlahan..."
Ibunya tidak langsung menjawab, ia masih menata kendi itu dengan perlahan. Setelah selesai, baru ia menoleh lagi kepada putrinya itu dan berkata dengan lembut, "Aku ini ibumu, sudah tentu aku akan mengenali apapun yang putri kecilku lakukan. Bahkan jika itu hanya langkah kaki. Kau memang sudah pelan, hanya saja Ibu sudah tahu gerakanmu."
Mendengar jawaban Ibunya, Su Linyao hanya bisa tersenyum. Ia tidak mengerti bagaimana ibunya bisa melakukan hal seperti itu, bahkan bisa mengetahui gerakan kakinya. Meski begitu, ia merasa sangat senang di dalam hatinya.
Su Linyao lalu duduk di dekat tumpukan kendi yang sudah tersusun rapi. Ia menggenggam ujung pakaiannya sambil menatap ibunya yang kini mulai membersihkan debu di permukaan terakhir.
"Apakah ibu sudah makan?"
"Belum. Ibu menunggumu kembali agar kita bisa makan bersama," jawab ibunya sambil menepuk-nepuk tangannya agar debu jatuh.
"Apa kamu ingin makan sekarang?"
Tanpa berpikir panjang, Su Linyao langsung menjawab dengan anggukan cepat. "Baik, ayo makan. Tapi... Ayah di mana?"
"Ayahmu akan kembali sebentar lagi."
Mereka berjalan masuk dengan langkah pelan. Su Linyao membawa dua kendi kecil yang sudah terdapat air di dalamnya. Ibunya menutup pintu setelah mereka masuk.
Di sisi lain, tepatnya di rumah Han Meiyun. Kini ia sedang bercanda dengan Ibunya. Mereka berdua berbicara dengan tawa yang keras.
Ibunya, Li Ruqing, mendengarkan dengan baik cerita anaknya itu. Ia selalu memberi jawaban yang membuat Han Meiyun semakin bersemangat untuk bercerita.
Han Meiyun duduk bersila di lantai sambil memakan roti kecil yang baru saja dibuat ibunya.
"Ayam Emas Han Meiyun?" tanya Li Ruqing sambil menahan tawa saat mendengar anaknya menyebut 'Ayam Emas Han Meiyun'.
"Iya... aku berdiri dengan gagah di atas batu, lalu aku merasa bahwa diriku ini adalah seorang pahlawan," suara Han Meiyun terdengar tidak jelas karena ia berbicara dengan mulut yang penuh roti.
"Dan ibu tahu? Lian Yuexin lah yang memberikan nama itu!"
Ibunya terkejut sesaat lalu dengan cepat tertawa saat mengetahui siapa yang memberikan julukan itu untuk putrinya.
"Jadi Lian Yuexin yang memberimu nama itu? Kenapa dia memberimu nama itu?"
Han Meiyun langsung menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bangga. "Karena saat aku berdiri di bawah cahaya, awalnya Su Linyao lah yang mengejekku karena gayaku yang aneh. Dia berkata bahwa aku seperti ayam yang baru terjun ke dalam air, lalu saat aku mengubah posisi dan berkata bahwa aku akan menjadi seorang Immortal yang menguasai dunia, Su Linyao berkata lagi bahwa dunia yang akan aku kuasai adalah dunia ayam!"
"Setelah itu, Lian Yuexin memberiku julukan Ayam Emas Han Meiyun!"
Ibunya yang masih mendengarkan pun tak bisa lagi menahan tawanya, kali ini ia tertawa sangat keras saat mendengar cerita anaknya itu.
Melihat ibunya tertawa, Han Meiyun justru ikut tertawa bersama ibunya. Mereka berdua tak bisa berhenti tertawa saat itu. Bahkan hingga malam tiba, mereka masih bercerita satu sama lain.
Di rumah Lian Yuexin, ia justru ikut ayahnya mengukir kayu. Ia juga bercerita sedikit tentang hal menyenangkan saat bermain. Ayahnya mendengarkan dengan baik setiap kata yang dikeluarkan anaknya.
Ibunya, Mei Ruyin berada di dekat mereka. Ia juga ikut melihat suami dan anaknya yang sedang sibuk mengukir kayu.
"Ayah, kenapa ayah memutuskan untuk menjadi pengrajin kayu?" suara Lian Yuexin tenang, namun terdapat sebuah pertanyaan yang dalam.
Ayahnya berhenti mengukir. Ia menatap potongan kayu di tangannya sejenak sebelum menjawab.
"Ayah ingin membuat sesuatu yang bertahan lama. Sesuatu yang tetap ada walau waktu berubah dan terus berjalan. Dengan mengukir seperti ini, membuat ayah memahami apa artinya kesabaran dan ketelitian."
Lian Yuexin memiringkan kepalanya, ia terlihat tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan ayahnya. "Apa itu berarti ayah ingin menjadi orang yang sabar?"
Mei Ruyin tertawa kecil sebelum suaminya sempat menjawab, "Ayahmu dulu tidak sabar."
Lian Haoyu menghela napas dalam sebelum berkata. "Ibumu benar. Dulu ayah mudah sekali marah, bahkan hal kecil bisa membuat ayah merasa kesal."
Lian Yuexin menatap ayahnya dengan mata yang terus berkedip perlahan. Ia tidak bisa membayangkan ayahnya marah, karena selama ini ia tidak pernah melihat ayahnya menaruh amarah.
Lalu terlintas sebuah pertanyaan di benak Lian Yuexin, ia pun mencoba mengatakannya dengan hati-hati.
"Apa yang membuat ayah berubah?"
Ayahnya lalu menatap putrinya itu dengan tatapan yang lembut, terdapat jawaban di balik tatapan itu, namun Lian Yuexin tidak mengetahuinya.
Lian Haoyu pun tersenyum kecil dan berkata. "Dirimu lah yang membuat ayah berubah."
Lian Yuexin terdiam.
"Sejak kau lahir, ayah tidak lagi ingin membuang waktu untuk hal yang tidak penting. Ayah ingin menjagamu, menjaga ibumu. Ayah ingin kalian merasa aman, maka ayah belajar untuk berubah."
Mei Ruyin menambahkan sambil melihat putrinya dengan pandangan yang dalam. "Kau membuat ayahmu berubah tanpa kau sadari."
Lian Yuexin menunduk sedikit. "Aku tidak melakukan apa-apa."
"Kau bernapas dan tumbuh. Itu sudah cukup untuk ayah," jawab ayahnya sambil melanjutkan ukirannya.
Lian Yuexin menggenggam balok kayu kecil di pangkuannya. Ia memperhatikan ukiran ayahnya yang perlahan membentuk pola melengkung.
"Ayah, jika kayu bisa menjadi cantik karena kesabaran... apakah manusia juga begitu?"
Ayahnya berhenti mengukir untuk kedua kalinya. Ia memandang putrinya dengan mata yang sedikit melembut.
"Manusia berubah lebih lambat dari kayu. Tapi jika seseorang memiliki tekad, ia bisa menjadi lebih baik. Sama seperti kayu yang ayah bentuk."
Lian Yuexin mengusap permukaan kayu yang kasar itu. "Kalau begitu... aku juga bisa menjadi lebih baik?"
"Tentu, asal kau memiliki tekad yang kuat."
Mei Ruyin menatap Lian Yuexin dengan senyum hangat. "Kau sudah baik sejak lahir."
Lian Yuexin menggeleng pelan, ia merasa belum menjadi seperti apa yang dikatakan oleh orang tuanya. "Aku masih belum sebaik orang lain..."
Ayahnya mengetuk kepalanya pelan dengan gagang pisau ukir. "Ayah tidak butuh orang lain. Ayah hanya butuh dirimu, Lian Yuexin."
Lian Yuexin menggenggam kayu di tangannya lebih erat.
Ia mengangkat wajahnya. "Ayah... bolehkah aku menjadi pengrajin kayu juga?"
Ayahnya tersenyum. "Tentu."
Ia lalu mulai menggerakkan tangannya perlahan, mengukir sedikit demi sedikit kayu yang ada di genggaman. Malam itu Lian Yuexin akan mengingat semua hal yang ayahnya katakan. Bagaimana melakukan hal yang sulit, bagaimana menghadapinya. Ia memahami bagaimana seseorang bisa berubah.
Lian Yuexin memperhatikan dengan tepat, bagaimana tangan ayahnya bergerak.
Saat tangan ayahnya bergerak, terciptalah garis ukiran. Dengan gerakan yang tenang dan teliti, ayahnya mengukir sesuatu yang akan membuat siapapun merasa bangga. Lian Yuexin melihat bentuk itu mulai muncul. Garis melengkung berubah menjadi pola bunga kecil. Ayahnya membuatnya khusus untuk dirinya. Ia merasa hangat di dalam dada. Ia merasa disayangi. Ia merasa dilihat oleh orang tuanya. Ia menarik napas pelan. Ia ingin menjadi seseorang yang membuat ayah dan ibunya bangga seperti itu suatu hari nanti.
Keesokan harinya, jauh dari desa, tepatnya di sungai, terdapat sebuah peti yang mengapung mengikuti arus sungai. Peti itu berwarna hitam pekat dengan ukiran aneh di permukaan. Di ujung sudut peti, terdapat sebuah liontin yang tergantung... liontin itu bersinar sesekali, sinarnya redup. Di sana juga terdapat sebuah segel, namun tidak ada yang bisa melihatnya.
Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam peti itu. Tidak ada yang tahu ke mana peti itu akan pergi.
Di rumah Lian Yuexin, ia sedang mencoba mengukir bunga miliknya. Jari-jarinya bergerak mengikuti pola yang ada di bunga biru miliknya. Ia mengukir dengan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan.
Lian Haoyu yang baru saja kembali sedikit terkejut saat melihat putrinya kembali mengukir. Namun perasaan terkejut itu dengan cepat berubah oleh senyuman yang muncul di wajahnya.
"Tidak perlu terlalu keras, perlahan saja. Ukiran itu akan terbentuk mengikuti hatimu..." Lian Haoyu duduk di dekat putrinya, ia lalu mengambil ukiran miliknya sebelumnya. Ia melanjutkan sisa ukiran yang belum selesai itu. Namun meskipun belum selesai, apa yang ada di sana sudah terlihat dengan jelas. Sebuah ukiran bunga teratai yang terlihat indah meskipun itu hanya terbuat dari sebuah kayu...
Lian Yuexin memperhatikan milik ayahnya, ia sangat ingin membuat ukiran seperti milik ayahnya, tapi itu terasa mustahil baginya.
"Jika aku tidak berusaha dengan keras, bagaimana aku bisa membuat ukiran seperti ayah... lalu bagaimana jika aku melakukan kesalahan yang membuatku mengulanginya lagi?"
Lian Haoyu melihat raut wajah putrinya dan tersenyum lembut. Ia menyentuh lembut kepala putrinya. "Xin'er, jangan takut melakukan kesalahan. Ukiran bukan hanya soal kesempurnaan, tapi tentang perjalananmu saat membuatnya. Setiap kesalahan mengajarkan sesuatu, setiap goresan yang salah memberi pengalaman."
Lian Yuexin menunduk, menggenggam pisau ukirnya dengan sedikit gemetar. "Tapi... bagaimana jika kayu ini rusak..."
Ayahnya menghela napas, lalu ia menatap putrinya dengan tatapan lembut. "Xin'er, kayu ini bisa diganti, tapi pengalamanmu tidak. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Bahkan ayah pun dulu sering membuat kesalahan sebelum ukiran ini sempurna. Ukiran yang indah lahir dari ketekunan dan keberanian mencoba, bukan dari takut akan kegagalan."
Lian Yuexin mengangguk perlahan, menarik napas dalam dan mencoba menenangkan pikirannya. Ia memusatkan perhatiannya pada kayu di hadapannya. Lengannya bergerak pelan, mengikuti alur bunga biru miliknya. Goresan demi goresan, bunga biru itu mulai muncul di permukaan kayu, meskipun belum sempurna.
