Cherreads

Chapter 8 - Chapter 8 - A Secret of Golden Light

Chapter 8 - A Secret of Golden Light (Rahasia Cahaya Keemasan)

Pagi hari, Lian Yuexin sudah berada di halaman rumah. Ia memperhatikan bunga biru yang dilingkari bebatuan. Embun pagi masih menempel di kelopak bunganya, membuatnya tampak berkilau seperti permata kecil.

Lian Yuexin berjongkok, menyentuh tanah di sekitar bunga itu dengan ujung jarinya. "Seperti yang ibu bilang... jangan sampai layu," gumamnya pelan.

Ia lalu mengambil wadah kecil berisi air yang sudah ia siapkan sejak tadi. Dengan hati-hati, ia menuangkannya ke tanah, tidak langsung ke kelopak. Tangannya bergetar pelan, seakan takut melukai tanaman itu.

Suara pintu berderit terdengar. Ibunya keluar dengan senyum lembut.

"Kau sudah bangun sejak pagi. Apa bunga itu membuatmu tidak bisa tidur?"

Lian Yuexin menoleh, wajahnya sedikit tersipu. "Aku hanya ingin merawatnya, Ibu. Rasanya.... bunga ini penting sekali. Kalau aku tidak menjaganya, nanti dia bisa mati."

Ibunya tersenyum lembut ke arahnya, lalu pergi masuk ke dalam rumah.

Setelah ibunya masuk, Lian Yuexin tetap duduk di dekat bunga itu. Ia menatap langit biru yang masih diselimuti kabut tipis.

"Kalau aku merawatmu dengan baik... mungkin suatu hari kau akan tumbuh besar dan indah," bisiknya, seperti sedang berbicara dengan bunga biru itu.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki ringan dari arah jalan depan rumah. Su Linyao melambaikan tangan sambil berseru, "Yuexin! Kau sudah bangun pagi-pagi begini."

Di sampingnya, ada Han Meiyun yang selalu ikut saat pergi ke rumah Lian Yuexin. Ia melihat bunga biru di sebelah Lian Yuexin dan berjongkok untuk melihat lebih dekat.

"Wahh... bunganya semakin cantik... seperti diriku." wajahnya berseri, dia menyentuh dengan lembut kelopak bunga itu.

Su Linyao dan Lian Yuexin hanya tertawa kecil saat melihat Han Meiyun berbicara seperti itu.

"Kalian kemari hanya untuk melihat bunga itu atau diriku?" Lian Yuexin bertanya dengan nada mengejek.

Su Linyao menggeleng pelan, "Keduanya. Kami ingin mengajakmu pergi jalan-jalan."

Han Meiyun yang masih melihat bunga pun ikut bersuara. "Benar! Kita akan pergi ke suatu tempat yang menyenangkan!"

"Benarkah? Kemana?" wajah Lian Yuexin bingung, dia tidak tahu kemana kedua temannya ini akan mengajaknya. Tempat apa yang mereka maksud?

"Ikut saja, mumpung masih belum siang." Su Linyao menarik tangan Lian Yuexin, lalu membawanya pergi.

"Nanti kau juga tahu." Han Meiyun mengedipkan mata, dan mengikuti mereka.

Mereka berdua pun pergi dengan berlari kecil. Lian Yuexin masih sedikit bingung, tapi akhirnya hanya bisa tertawa kecil sambil terus mengikuti langkah mereka dengan semangat.

Mereka melewati jalan desa yang sudah ramai dengan aktivitas warga. Ada yang pergi ke ladang, ada yang mencari kayu, ada yang pergi ke sungai, mereka semua melakukan aktivitas masing-masing.

Su Linyao dan Han Meiyun saling berbisik sambil tertawa, membuat Lian Yuexin semakin penasaran.

"Apa kalian tidak bisa memberitahuku sekarang?" tanya Lian Yuexin dengan wajah setengah memaksa.

Han Meiyun menoleh sambil menjulurkan lidah. "Kalau diberitahu sekarang, tidak seru dong!"

"Astaga... kalian selalu seperti ini," keluh Lian Yuexin, namun bibirnya tersenyum juga dan terus mengikuti langkah temannya.

Setelah berjalan cukup jauh, mereka melewati jalan setapak di tepi ladang, lalu menuruni jalan kecil yang dipenuhi rumput liar. Su Linyao berhenti sebentar, menunjuk ke arah pepohonan rimbun di depan.

"Lihat, kita hampir sampai."

Lian Yuexin menajamkan pandangannya. Di balik pepohonan, samar-samar terlihat sesuatu yang berkilau. Saat mereka semakin dekat, ternyata cahaya itu berasal dari sebuah tebing batu rendah. Permukaan tebing itu dipenuhi lumut hijau, tapi ada celah-celah kecil yang memantulkan cahaya keemasan dari dalamnya.

"Wahh... apa itu?" Lian Yuexin melangkah mendekat dengan mata berbinar.

Su Linyao tersenyum misterius. "Tempat rahasia. Aku dan Meiyun menemukannya waktu bermain kemarin. Tidak ada orang lain yang tahu."

Han Meiyun maju dengan semangat, menepuk dinding tebing itu. "Di sini ada goa kecil. Kalau sinar matahari masuk pas pagi begini, batu di dalamnya berkilau. Cantik banget, seperti dipenuhi emas."

Lian Yuexin mendekat, menelusuri dinding batu dengan tangannya. Saat ia mencondongkan tubuh ke arah celah, benar saja dalam goa ada kristal alami yang memantulkan cahaya matahari.

"Indah sekali...." bisik Lian Yuexin, matanya tak bisa berpaling.

"Benar kan?" Su Linyao tertawa kecil. "Makanya aku bilang tempat ini lebih seru daripada sekedar main di ladang atau hutan."

Han Meiyun yang tak bisa diam, sudah lebih dulu merangkak masuk ke dalam goa itu. "Cepat masuk! Kalau dari dalam, pemandangannya lebih keren!"

Lian Yuexin sempat ragu, tapi melihat Su Linyao ikut menyusul, ia pun mengikuti mereka. Di dalam goa, udara terasa dingin dan lembap. Namun, cahaya yang memantul dari dinding membuat tempat itu seperti ruang rahasia.

Di dalam goa, Lian Yuexin terpana. Cahaya keemasan dari kristal-kristal alami di dinding batu.

Han Meiyun berputar dengan tangan terangkat tinggi. "Lihat! Aku seperti putri di istana emas!" suaranya bergema, membuatnya tertawa.

Su Linyao menggeleng sambil tersenyum. "Kau memang selalu berlebihan."

Lian Yuexin melangkah pelan, menyentuh permukaan kristal terdekat. Dingin, tapi sekaligus terasa halus. "Tempat ini... benar-benar berbeda."

Su Linyao mendekat, "Itu sebabnya kami ingin menunjukkannya padamu. Kita kan teman, jadi harus berbagi dalam hal apapun!" ia berkata dengan semangat, lalu menunjukkan bagian lain di dalam goa.

Su Linyao menunjuk ke arah dinding goa yang agak ke dalam. "Di sana lebih keren lagi. Kalau berdiri pas di bawah sinarnya, tubuhmu bisa berkilau seperti diselimuti cahaya."

Han Meiyun langsung berlari kecil ke sana dan berdiri dengan terentang. "Nah, lihat aku! Seperti pahlawan yang muncul dari cahaya!" dia berkata sambil memasang gaya aneh, seolah dia pahlawan sungguhan.

Lian Yuexin menutup mulutnya menahan tawa, tapi akhirnya tidak bisa juga. "Hahaha... Meiyun, kau malah terlihat seperti ayam yang baru saja terjun ke dalam air."

"Eh, apa-apaan! Harusnya aku kelihatan gagah," protes Han Meiyun, tapi wajahnya tetap tertawa juga.

Su Linyao ikut menimpali sambil terkekeh. "Yuexin benar, gayanya aneh sekali. Kalau kau berdiri tegak saja mungkin lebih bagus."

Han Meiyun berdecak kesal, lalu mengubah gayanya menjadi lebih anggun, seperti seorang putri. "Nah, bagaimana kalau begini? Anggun bukan?"

"Kali ini lebih cocok," kata Yuexin sambil tersenyum.

Han Meiyun tertawa terbahak-bahak. Kali ini dia mengubah posenya lagi. "Suatu hari nanti aku akan menjadi seorang Immortal yang dihormati seluruh dunia!"

"Benar. Tapi dunia ayam!" Su Linyao mengejeknya lagi, dan dia tertawa melihat tingkah Han Meiyun.

Han Meiyun langsung melemparkan tatapan tajam ke Su Linyao. "Hei! Jangan meremehkan ayam. Ayam bisa bersuara setiap pagi, membangunkan semua orang. Jadi sebenarnya mereka itu pahlawan desa!"

Su Linyao memukul dahinya sendiri sambil tertawa. "Astaga... hanya kau yang bisa membanggakan ayam seperti itu."

Lian Yuexin ikut tertawa, lalu duduk di atas batu datar. "Kalau begitu, nanti kau bisa jadi seorang Immortal dengan julukan 'Ayam Emas'. Cocok sekali dengan cahaya di sini."

Han Meiyun terdiam sebentar, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan penuh gaya. "Ayam Emas Han Meiyun! Wah, kedengarannya keren juga."

"Tidak, itu konyol," sela Su Linyao cepat.

"Aku tidak peduli, aku suka nama itu!" balas Han Meiyun dengan wajah keras kepala, tapi kemudian ikut tertawa sendiri.

Mereka bertiga pun larut dalam candaan, sampai akhirnya jadi tenang. Cahaya kristal dari dalam goa semakin lembut.

Han Meiyun masih berdiri dengan penuh gaya, sepertinya dia benar-benar bangga dengan julukan barunya. Lian Yuexin dan Su Linyao hanya bisa saling pandang, lalu tertawa lagi melihat tingkahnya.

Lian Yuexin menyusuri goa lebih dalam beberapa langkah, matanya terus menatap pantulan cahaya keemasan di dinding batu.

"Tempat ini.... benar-benar indah. Cahaya dari kristal ini sepertinya akan bertahan lama."

Su Linyao ikut mendekat, mengamati permukaan kristal yang besar di sisi kanan. Ia mengetuknya pelan, menghasilkan bunyi bergema. "Hmm, aneh juga. Batunya tidak rapuh, malah terasa sangat keras. Pantas saja bisa memantulkan cahaya seperti ini."

Han Meiyun yang tadi sibuk dengan gaya anehnya, ikut memperhatikan. "Kalau begitu, berarti bukan tempat biasa. Mungkinkah tempat dewa bersembunyi? Atau bekas tempat kultivator kuat?"

"Jangan asal bicara," Su Linyao mencubit lengannya, membuat Han Meiyun meringis kesakitan.

Lian Yuexin tersenyum tipis, matanya masih terus menatap cahaya itu dengan serius. Tapi setelah itu dia melihat sekeliling yang lain, seperti melihat lumut, dan tumbuhan liar di dalam goa.

Tak terasa waktu terus berjalan. Dari celah goa sinar matahari perlahan bergeser membuat cahaya dalam goa mulai hilang.

"Kita harus pulang sebelum sore," ucap Su Linyao sambil menepuk tangan, mengingatkan yang lain. "Kalau tidak, kita bisa dicari-cari."

Han Meiyun menghela napas panjang, "Sayang sekali. Aku masih ingin main di sini."

"Kita bisa kembali lagi nanti," kata Lian Yuexin pelan.

Mereka bertiga pun merangkak keluar, dan begitu berada di luar, cahaya matahari langsung menyambut mereka. Udara terasa lebih hangat dibandingkan dalam goa.

Han Meiyun menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena debu. "Baiklah, mulai sekarang, ini akan menjadi tempat rahasia kita. Tidak boleh ada orang lain yang tahu."

Su Linyao mengangguk cepat. "Setuju."

Lian Yuexin ikut tersenyum kecil, lalu mengangguk juga. "Tempat ini.... hanya untuk kita bertiga."

Angin siang berhembus pelan. Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak sebelumnya yang mereka lewati, meninggalkan tebing berbatu yang perlahan tertutup bayangan pepohonan.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Hanya suara langkah kaki mereka di sepanjang jalan.

Setelah beberapa saat, akhirnya Su Linyao membuka suara. "Aku senang sekali bisa menemukan tempat itu. Seperti istana kecil yang sudah menjadi milik kita, dan dialah Ayam Emas Han Meiyun!" Su Linyao menunjuk ke arah Han Meiyun yang sedang berjalan di sebelah Lian Yuexin.

Han Meiyun menoleh, wajahnya cemberut. "Kau! Suka sekali mengejekku. Aku ini adalah Ayam Emas Han Meiyun yang gagah berani..." dia diam sesaat, lalu menunjukkan wajahnya, "dan cantik..."

Su Linyao langsung menepuk dahinya. "Astaga... sekarang kau menambahkan cantik juga?"

Han Meiyun mengangguk mantap. "Tentu saja. Mana ada Ayam Emas yang jelek?"

Lian Yuexin menahan ekspresinya agar tidak tertawa, tapi pada akhirnya dia tidak bisa. "Kalau begitu, sebaiknya kau jangan bersuara terlalu keras, nanti seluruh desa benar-benar mengira ada ayam emas di halaman rumahku."

Su Linyao ikut tertawa, menambahkan, "Dan kalau ada orang yang mencari asal suaranya, mereka akan melihatmu berpose aneh seperti di dalam goa tadi."

"Cukup!" Han Meiyun melipat tangannya di dada, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal. "Mulai sekarang, aku tidak akan mengajak kalian ke mana pun lagi."

Namun nada suaranya terlalu ringan, membuat temannya tahu kalau ia hanya bercanda.

Lian Yuexin menatap keduanya, senyumnya lembut. "Kalau pun tempat itu sangat rahasia, tetap saja akan terasa hampa kalau tidak ada kalian berdua. Jadi... aku bersyukur kalian menunjukkannya padaku."

Ucapan itu membuat Su Linyao terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Han Meiyun yang tadinya pura-pura marah, akhirnya ikut tersenyum juga.

"Kalau begitu," kata Han Meiyun pelan, "mulai hari ini, kita bertiga punya satu rahasia yang tidak boleh dibagi dengan siapa pun."

"Setuju," balas Su Linyao.

Lian Yuexin mengangguk, matanya menatap jalan di depan. "Setuju."

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju ke rumah masing-masing. Langkah mereka ringan, berirama satu sama lain. Setelah beberapa saat, mereka pun tiba di rumah.

More Chapters