"Apa maksudmu?" tanyanya pelan.
Fabrizio tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia memberi isyarat agar Kaivan mengikutinya.
Langkah kaki mereka berpadu menjadi satu. Irama logam dari kaki Kaivan bercampur dengan langkah ringan Fabrizio saat mereka menuju ruang penelitian. Ketika pintu otomatis terbuka perlahan, Kaivan langsung terdiam.
Di hadapannya terbentang sebuah meja yang dipenuhi cetak biru bercahaya biru. Garis-garis rumit, catatan teknis, dan sketsa yang dibuat dengan tergesa-gesa memenuhi setiap permukaannya.
Fabrizio menunjuk salah satu desain.
"Pertama, kita membutuhkan Neural Link dan sistem pemrosesan otak. Keduanya akan ditanam di pangkal lengan dan pahamu, lalu menghubungkan otakmu secara langsung dengan prostetik baru."
Kemudian ia menunjuk bagian lain dari rancangan itu.
"Aku juga sedang mengembangkan mata bionik yang terhubung langsung ke korteks visualmu. Kau akan bisa melihat lebih jelas daripada manusia biasa, meskipun... awalnya akan terasa menyakitkan."
Kaivan segera memotong penjelasannya.
"Tunggu, Fabrizio. Jelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana. Aku tidak mengerti setengah dari apa yang kau katakan."
Fabrizio mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan antusiasmenya.
"Baiklah. Intinya, aku membutuhkan bantuan Tome Omnicent milikmu untuk menghitung semuanya dengan sangat presisi. Dengan dukungannya, aku bisa menciptakan tubuh yang mampu merasakan sentuhan dan bereaksi seperti manusia sungguhan. Sistem kulit sintetis ini bahkan dapat merasakan panas dan tekanan."
Kaivan menatap cetak biru itu cukup lama. Keraguan dan harapan saling berkelindan di dalam pikirannya.
Akhirnya, ia berbicara pelan.
"Baiklah. Jika ini bisa membuatku merasakan sesuatu lagi... aku akan membantu. Gunakan Tome Omnicent. Mari kita coba."
Senyum lebar langsung muncul di wajah Fabrizio. Semangatnya kembali membara. Ia mulai menjelaskan langkah-langkah berikutnya, memperlihatkan bagaimana rancangan tersebut akan diwujudkan menjadi kenyataan.
Ruangan itu dipenuhi ketegangan sekaligus harapan. Dentingan alat-alat penelitian berpadu dengan suara penuh semangat milik Fabrizio dan jawaban tenang dari Kaivan, membentuk harmoni sunyi tentang perjuangan dan tekad.
"Levan," panggil Fabrizio dengan suara yang dipenuhi energi, "aku membutuhkan izin agar tim medis bisa memulai integrasi penuh pada tubuh Kaivan."
Levan tidak langsung menjawab.
Tatapannya berpindah dari Fabrizio menuju Kaivan yang berdiri dengan tenang, seolah sedang menunggu keputusan yang akan menentukan masa depannya.
Udara di dalam ruangan terasa menegang.
"Operasi seperti apa yang kau bicarakan kali ini, Fabrizio?" tanya Levan perlahan. Suaranya berat, menuntut penjelasan yang lengkap.
Fabrizio mengaktifkan panel digital di sampingnya. Sebuah hologram biru muncul di udara, menampilkan rangkaian saraf buatan, sensor kulit sintetis, dan rancangan mata bionik yang bersinar lembut. Garis-garis cahaya itu berdenyut perlahan seperti pembuluh darah hidup.
"Ini bukan sekadar peningkatan prostetik," jelasnya cepat namun tegas.
"Kami akan menanamkan antarmuka saraf yang menghubungkan sinyal otaknya langsung ke sistem prostetik baru. Lapisan kulit sintetis akan mengirimkan sensasi tekanan dan suhu melalui elektroda saraf. Untuk mata kanannya, kami menggunakan mata bionik generasi pertama yang dilengkapi modul mikrokomputasi dan antarmuka visual internal. Sensor inframerah, mikro-lidar, dan analisis gerakan real-time akan menampilkan berbagai data langsung ke penglihatannya. Lintasan gerakan, suhu tubuh, hingga pola pergerakan akan terlihat seolah menjadi bagian dari dunia nyata.
Namun sistem ini memiliki harga yang harus dibayar. Otaknya harus beradaptasi dengan kecepatan pemrosesan yang tidak alami. Ia bisa kehilangan persepsi terhadap waktu... bahkan kehilangan sebagian jati dirinya."
Levan menyilangkan kedua tangan.
"Dan jika prosedur ini gagal?"
Kaivan angkat bicara. Suaranya tenang, namun dipenuhi keyakinan.
"Kalau begitu aku akan tetap hidup dengan prostetik lamaku. Tidak ada yang hilang. Hanya sebuah kesempatan yang tidak pernah dicoba."
Fabrizio mengangguk.
"Sistem ini bisa diisolasi jika terjadi kelebihan beban. Semuanya aman. Yang kami butuhkan hanyalah izin untuk memulai uji klinis. Kaivan sudah siap."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Hanya dengungan ventilasi dan irama stabil monitor yang terdengar di udara. Levan melangkah mendekat hingga cahaya biru hologram menari di dalam iris mata mereka. Di ruang yang sunyi itu, sebuah percakapan tanpa kata berlangsung di antara mereka. Tentang keberanian, batas kemampuan manusia, dan harga yang harus dibayar demi kemajuan.
Akhirnya, Levan menarik napas panjang.
"Jika ini berhasil, ini bukan hanya penyelamatan. Ini akan menjadi sebuah revolusi. Lakukan, Fabrizio. Aku akan menyiapkan tim medis dan dukungan AI bedah."
Senyum penuh keyakinan muncul di wajah Fabrizio. Ia segera mengaktifkan konsol utama. Berbagai layar menyala sekaligus, menampilkan peta saraf dan modul operasi. Di belakangnya, Kaivan menatap bayangannya sendiri di layar gelap. Setengah manusia, setengah mesin. Sebentar lagi, sesuatu yang baru akan lahir.
Di samping meja operasi berdiri Fabrizio, pemuda berambut berantakan dengan mata merah yang dipenuhi semangat nyaris nekat. Jas laboratoriumnya ternoda tinta biru dari tak terhitung sketsa eksperimen yang telah ia buat. Kedua tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena antusiasme yang hampir tidak bisa ia tahan.
"Kaivan," katanya pelan. Suaranya serak namun tetap mantap. Suara itu bergema di antara monitor detak jantung dan desis mesin penunjang kehidupan. "Kau tidak akan menerima anestesi. Kami harus mengetahui apakah saraf dan sensor barumu bekerja dengan baik. Ini... akan sangat menyakitkan."
Kaivan menatap langit-langit logam di atasnya. Matanya jernih, wajahnya tenang.
"Aku pernah merasakan rasa sakit yang jauh lebih buruk daripada bor yang menembus tulang," jawabnya lirih. "Aku siap."
Sebuah sinyal kecil dari dokter kepala menandai dimulainya prosedur itu.
