Cherreads

Chapter 256 - Aku Merasakan Sakit, Karena Itu Aku Tahu Aku Masih Manusia

Bor berpresisi tinggi dengan ujung berlian mulai berputar. Suara melengkingnya membelah udara, menembus hingga ke tulang hidup Kaivan, menghancurkan batas antara daging dan logam.

"AAARRRGGGHHH!!!"

Jeritan Kaivan menggema di seluruh ruang operasi kedap suara. Itu bukan sekadar teriakan kesakitan, melainkan luapan dari seluruh emosi yang masih tersisa di dalam dirinya. Tubuhnya tetap diam. Hanya tangan kirinya yang mencengkeram tepi meja operasi, otot-ototnya menegang seperti kabel baja.

"Stabilkan lengannya! Siapkan Neural Link Ring!" teriak sang dokter.

Seorang asisten dengan cepat mengambil cincin logam seukuran koin perak. Perangkat itu ditempelkan ke tulang Kaivan, menyatu dengan jaringan lunak melalui nano-perekat generasi keempat. Denyut listrik lembut menyebar melalui sarafnya, memaksa otaknya menerima sinyal buatan yang mulai mengalir masuk.

"Nnggh..."

Kaivan mengerang pelan. Rahangnya mengatup kuat, sementara urat-urat di pelipisnya menonjol jelas. Di dalam tubuhnya, sisa-sisa terakhir kemanusiaannya seakan menolak proses penyatuan itu. Logam melawan daging. Listrik melawan sinyal biologis.

"Segel jaringannya! Tutup konektornya sekarang juga! Risiko kontaminasi saraf terlalu tinggi!"

Luka-luka itu kemudian ditutup menggunakan perekat cair bioteknologi yang mengeras menjadi lapisan pelindung semi-fleksibel. Prosesnya tampak seperti sulaman makhluk asing. Presisi, efisien, sekaligus mengerikan.

Tim medis lalu berpindah ke kaki kanan Kaivan. Bor menghantam tulang dengan suara berat dan brutal. Gesekan logam bercampur dengan bunyi klik baut yang dikencangkan satu demi satu. Setiap suara bergema di telinga Kaivan seperti lonceng neraka.

Keringat membasahi seluruh wajahnya. Matanya memerah, bukan hanya karena rasa sakit, tetapi juga karena badai harapan dan ketakutan yang berputar di dalam dirinya. Fabrizio berdiri di sampingnya, kedua tangannya gemetar, tak mampu mengalihkan pandangan sedikit pun.

"Aktifkan sistem Neural Link," perintah dokter kepada teknisi.

Sesaat kemudian, denyut aneh menyebar dari pangkal prostetik Kaivan. Matanya langsung membelalak.

Ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak kehilangan tubuhnya.

Bukan rasa sakit.

Bukan tekanan.

Melainkan sentuhan.

Sebuah sensasi samar namun hidup, seperti hembusan angin sejuk yang menyapu kulit yang telah lama mati. Sebuah sinyal bayangan, namun terasa begitu nyata.

"Fase pertama berhasil. Lanjutkan pemantauan selama empat puluh delapan jam. Siapkan pemulihan semi-aktif dan pasang sensor kalibrasi secepatnya," ujar dokter kepala. Ada kelegaan yang nyaris tak mampu ia sembunyikan di balik dengungan mesin.

Kaivan berbaring di atas meja operasi, wajahnya masih dipenuhi jejak penderitaan. Namun senyum kecil perlahan terbentuk di bibirnya. Tenang, nyaris tak terlihat, tetapi penuh makna. Ia menoleh perlahan ke arah Fabrizio.

"Ini baru permulaan, kan?" tanyanya serak. Suaranya bergema lembut di antara peralatan medis.

Fabrizio melangkah mendekat. Ia menatap Kaivan cukup lama sebelum menepuk bahunya dengan lembut. Sentuhan itu bukan hanya antara ilmuwan dan subjek penelitiannya, melainkan antara dua orang yang memahami beratnya perjuangan masing-masing.

"Ya," jawabnya pelan. "Dan suatu hari nanti, ini akan mengubah segalanya. Kau akan menjadi bukti hidup dari batas baru antara kemanusiaan dan teknologi."

Akhirnya rasa lelah mengambil alih tubuh Kaivan. Ia tertidur di atas meja operasi, wajah pucatnya memantulkan cahaya biru monitor. Para dokter dengan hati-hati memindahkannya ke ruang pemulihan khusus. Di sana, selang infus dan berbagai perangkat medis berdenyut pelan di udara dingin yang steril.

Deretan monitor menampilkan tanda-tanda vital yang perlahan kembali stabil. Namun di balik angka-angka itu, Kaivan tertidur dalam keheningan, dihantui mimpi-mimpi samar tentang tubuh barunya dan dunia yang akan segera berubah.

Di tempat lain, sementara Kaivan masih belum sadarkan diri, Fabrizio kembali ke ruang kerjanya. Cetak biru hasil perhitungan Tome Omnicent terbentang di atas mejanya, dikelilingi berbagai alat mekanik dan material sintetis. Cahaya lembut dari Tome Omnicraft membimbing tangannya saat ia bekerja tanpa henti, merakit lengan dan kaki buatan untuk menggantikan apa yang telah Kaivan kehilangan.

Pintu logam terbuka dengan desisan pelan.

Langkah kaki yang tenang mendekat.

Levan berdiri di ambang pintu dengan wajah datar dan tatapan tajam.

"Kau bahkan tidak beristirahat, ya?" tanyanya pelan.

Fabrizio tidak mengangkat kepala. Suaranya terdengar datar, tetapi dipenuhi tekad.

"Dia sudah berjuang untuk tetap hidup. Dia berjuang menyelamatkan semua orang. Sekarang giliranku untuk berjuang... agar dia bisa hidup lebih baik."

Levan melangkah mendekat. Tatapannya jatuh pada sebuah pelindung lengan tebal yang tergeletak di atas meja, terhubung dengan kabel mikro dan mekanisme pegas bertekanan.

"Kenapa membuat ini... untuk Kaivan?" tanyanya pelan.

Fabrizio menghentikan tulisannya lalu menatap Levan.

"Awalnya vambrace ini hanya senjata pendukung sederhana. Tapi setelah melihat cara dia bertarung menggunakan kujang dan rantainya, aku mulai berpikir... bagaimana jika alat ini bisa meluncurkan senjatanya hingga lima belas meter dalam waktu kurang dari satu detik?"

Levan mengangguk perlahan.

"Diam-diam kau ternyata lebih memperhatikannya daripada yang kau tunjukkan."

Ia berbalik menuju pintu.

"Lanjutkan. Aku tahu Kaivan tidak akan menyia-nyiakan semua usahamu."

Setelah pintu tertutup, ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.

Lalu sebuah suara elektronik memecah kesunyian.

"Apakah semua itu benar-benar akan berhasil?" tanya Lyra.

Suara AI itu bergema dari pengeras suara di langit-langit. Dingin dan tajam, namun terselip rasa penasaran di dalamnya.

Fabrizio melirik kamera kecil di sudut ruangan lalu mengusap keringat di dahinya.

"Aku tidak tahu. Aku hanya berharap Kaivan bisa bergerak bebas lagi."

"Jika berhasil, itu akan menjadi pencapaian yang luar biasa, bukan?" balas Lyra dengan nada datar.

Fabrizio mengangguk kecil.

Cahaya putih dari Tome Omnicraft menerangi tangan buatan yang sedang ia genggam. Desainnya nyaris sempurna. Namun di balik segala presisi itu, keraguan masih tetap tersisa.

More Chapters