Cherreads

Chapter 257 - Aku Membuka Mata, dan Dunia Telah Berubah

Beberapa hari telah berlalu sejak insiden besar yang menimpa Kaivan.

Di dalam bunker rahasia yang tersembunyi jauh di balik Pegunungan Kaukasus, fasilitas Omega-9 berdenyut dengan kehidupan mekanis. Dinding baja memantulkan cahaya biru kehijauan, kabel-kabel berdenyut seperti urat nadi buatan, dan udara dipenuhi aroma steril khas logam.

Di lantai bawah tanah tingkat empat, Kaivan berbaring tenang di atas ranjang medis. Tubuhnya tampak rapuh. Lengan kirinya berakhir pada sebuah cincin logam saraf yang memancarkan cahaya samar, berdenyut lembut. Neuron-neuron yang terlihat di permukaannya berkedip perlahan, seakan sedang mencari denyut yang pernah hilang.

Sebuah suara lembut memecah keheningan.

"Kaivan," ujar Lyra dari modul audio di atasnya. Nada suaranya terdengar sabar, namun tetap mekanis. "Hari ini adalah pemasangan mata bionikmu. Apa kau sudah siap?"

Kaivan tidak menjawab.

Tatapannya tertuju pada Tome Omnicent yang berada di pangkuannya. Buku kuno itu tampak hidup. Huruf-huruf di dalamnya mengalir seperti air, seolah sedang membaca isi pikirannya.

Dengan satu-satunya tangan yang masih tersisa, ia mengusap lembut halaman-halamannya.

"Aku tidak tahu..." bisiknya pelan.

Pandangannya turun ke sisi tubuh yang telah hilang. Daging yang robek kini tertutup logam, sementara kabel-kabel halus menjulur dari dalamnya. Kaki kanannya juga telah digantikan oleh struktur mekanis canggih yang masih belum sepenuhnya aktif. Di bawah kulitnya, sensor Neural Link bergetar samar, menunggu saat untuk terbangun.

Tiba-tiba, halaman-halaman Tome itu bergetar.

Sebuah kalimat muncul di permukaannya.

"Meski tidak akan sama persis seperti tangan lamamu, itu akan berfungsi. Perhitunganku tidak pernah salah."

Kata-kata itu terdengar dingin dan tanpa emosi. Namun di balik kepastian tersebut, tersimpan secercah harapan yang samar.

Pintu otomatis terbuka perlahan dengan suara desis pelepasan tekanan.

Seorang dokter masuk mengenakan seragam putih steril dengan pelindung wajah transparan. Sarung tangannya memancarkan cahaya biru lembut dari lapisan energi antimikroba.

"Kaivan," katanya dengan lembut namun tegas. Di tangannya terdapat papan digital yang menampilkan grafik aktivitas otak Kaivan secara real-time. "Kami sudah siap untuk prosedur implantasi. Ini akan menjadi langkah besar dalam proses pemulihanmu."

Kaivan perlahan menoleh.

Tidak ada senyum di wajahnya. Hanya tatapan kosong yang dalam.

Ia mengangguk kecil.

Tiga lantai di bawahnya, ruang operasi utama berdenyut dalam tekanan yang stabil. Dinding titanium berdengung pelan, sementara generator pusat berdetak seperti jantung mekanis dunia.

Di layar-layar holografik, otak Kaivan ditampilkan dalam visualisasi tiga dimensi lengkap dengan titik-titik sambungan saraf optik buatan. Suara mesin dan simulasi detak jantung berpadu menjadi simfoni antara logam dan kehidupan.

Fabrizio berdiri di ruang observasi berdinding kaca bersama Levan. Di tangannya, Tome Omnicraft berukir tembaga kemerahan memancarkan cahaya samar.

"Apa kau yakin ini akan berhasil?" tanya Levan tenang. Suaranya terdengar tajam di balik ketenangannya. "Para sponsor menaruh harapan besar pada kalian para pengguna Tome."

Fabrizio mengembuskan napas panjang.

"Aku tidak tahu. Tapi aku harus percaya. Kaivan harus bisa melihat dunia lagi... dengan cara yang baru."

Levan menatapnya cukup lama.

"Jika ini berhasil, itu akan menjadi titik balik dalam sejarah. Tapi jika gagal..."

"Jika gagal," potong Fabrizio pelan, "aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."

Di dalam ruang operasi, sang dokter menyiapkan suntikan berisi anestesi berwarna kuning pucat. Para asisten medis menyesuaikan berbagai instrumen otomatis. Nano-scalpel, lensa saraf, dan perangkat penembus tulang frekuensi rendah tersusun rapi di sekeliling mereka.

"Kaivan," ujar dokter itu dengan tenang, "kami akan memberikan anestesi dosis tinggi. Prosedur ini membutuhkan pembongkaran sebagian tengkorak dan implantasi optik langsung ke korteks visualmu. Jika berhasil, kau akan mampu melihat gelombang panas, aliran energi, bahkan getaran elektromagnetik. Namun risikonya... sangat besar."

Kaivan menatap langit-langit bercahaya yang dibentuk menyerupai gugusan bintang buatan. Ketika jarum suntik menembus kulit lehernya, sensasi dingin segera menyebar ke seluruh tubuh. Napasnya melambat, dan dunia di sekelilingnya mulai kabur.

Di dalam ruang utama yang luas dan steril, tempat batas antara keajaiban dan tragedi nyaris tak terlihat, terbaring seorang pemuda bernama Kaivan. Tubuhnya berada di atas meja medis berlapis kromium hitam, tertutup kain steril putih yang kontras.

Setelah satu bulan berada dalam keadaan tidak sadarkan diri, tepat ketika dunia luar sedang menyambut musim panas yang hangat dan penuh warna, kelopak matanya perlahan terbuka.

Penglihatan pertamanya tidak jelas.

Dunia tampak seperti mimpi yang belum selesai. Warna-warna kabur dan bentuk-bentuk samar memenuhi pandangannya.

Perlahan, kesadarannya kembali.

Realitas mulai memperlihatkan dirinya.

Langit-langit logam yang dipenuhi ukiran sirkuit kuno.

Cahaya lembut lampu LED.

Pola-pola data holografik yang menari di udara.

Lalu rasa sakit yang tajam menusuk kepalanya, seperti ribuan jarum yang berputar di dalam otaknya.

"Ugh..." erang Kaivan.

Ia mengangkat tangan untuk memegang kepalanya.

Lalu membeku.

Tangannya ada di sana.

Keduanya.

"A... apa ini?" suaranya nyaris tak terdengar, bergetar oleh rasa takut dan ketidakpercayaan.

Ia menatap tangan kirinya.

Kulit sintetis di permukaannya berdenyut samar, sementara garis-garis cahaya biru mengalir di bawahnya. Saat ia mengepalkan tangan, jari-jarinya merespons dengan sempurna. Sensasi lembut menyebar ke seluruh tubuhnya, seolah tangan itu memang selalu menjadi miliknya. Saraf-saraf buatan telah terhubung sempurna dengan otaknya.

Tubuhnya bergetar pelan. Ia perlahan menurunkan tangannya.

Kemudian menutup mata kirinya.

More Chapters