Sensor bionik itu aktif.
Indikator digital bergerak seperti radar, memindai ruang di sekitarnya.
Dengan jantung berdebar kencang, Kaivan perlahan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.
Di bawahnya, kaki kanannya telah kembali.
Namun itu bukan prostetik biasa.
Kaki itu adalah mahakarya teknologi. Logam tersembunyi di balik lapisan sintetis, sementara panel indikator bercahaya samar mengelilingi bagian pergelangan kakinya. Setiap gerakannya tampak halus dan alami.
Dunia di sekelilingnya terasa seperti mimpi yang perlahan berubah menjadi kenyataan.
Sebelum Kaivan sempat memahami apa yang sedang terjadi, sebuah suara lembut memecah keheningan.
"Kau sudah bangun, Kaivan?"
Suara itu terasa familiar, seperti gema samar dari masa lalu.
Kaivan perlahan menoleh. Lehernya masih terasa kaku. Di hadapannya berdiri seorang gadis mungil dengan tinggi sekitar seratus enam puluh sentimeter, sejajar dengan pandangannya.
Rambut cokelat panjangnya yang bergelombang memantulkan cahaya, membentuk lingkaran keemasan di udara. Kulitnya yang berwarna perunggu hangat berkilau lembut seperti tembaga yang dipoles. Dan matanya, hijau zamrud, memancarkan ketenangan yang aneh, seolah melampaui batas kemanusiaan biasa.
Ia membawa nampan logam berisi semangkuk bubur hangat. Uap tipis mengepul perlahan, menyebarkan aroma kaldu yang menenangkan ke seluruh ruangan. Langkahnya tenang dan presisi, seakan setiap gerakannya telah dirancang dengan sempurna.
Ia tersenyum lembut saat mendekati Kaivan. Senyum yang terasa asing, namun entah kenapa juga begitu dekat.
Gadis itu meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang, lalu duduk di kursi kulit sintetis. Dengan gerakan lembut, ia menyentuh tangan kiri Kaivan, tangan buatan yang tampak begitu hidup, lalu mengusapnya perlahan.
"Sekarang kau bisa merasakannya, kan?" bisiknya lembut, dengan sedikit nada menggoda yang samar.
Kaivan menelan ludah.
Ia benar-benar bisa merasakannya.
Bukan hanya sentuhannya, tetapi juga kehangatan kulit gadis itu. Sebuah arus halus mengalir melalui lengan buatannya, melewati sistem saraf sintetis yang terhubung langsung dengan kesadarannya.
"A... aku bisa merasakannya," jawabnya dengan suara bergetar. Matanya membelalak karena terkejut dan bingung.
Senyum gadis itu semakin lebar.
Jari-jarinya menelusuri lengan Kaivan, naik hingga ke bahunya, lalu turun ke kaki prostetik yang kini menyatu sempurna dengan tubuhnya. Sentuhan itu terasa lebih dari sekadar pemeriksaan medis. Ada kelembutan pribadi yang tersimpan di dalamnya.
Tatapannya menjadi semakin dalam.
"Aku juga bisa merasakan ini sekarang," bisiknya hampir tak terdengar. "Menyentuhmu... terasa nyata."
Kaivan terdiam.
Jantungnya berdetak semakin cepat, sementara wajahnya mulai terasa panas. Semuanya terasa terlalu dekat, terlalu nyata. Namun siapa gadis ini? Ingatannya terasa kosong. Gadis ini seharusnya tidak terasa asing baginya.
Sebelum ia sempat bertanya, sebuah suara berat yang sangat familiar terdengar dari ambang pintu.
"Oh, Kaivan, kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?"
Kaivan segera menoleh.
Seorang pria tinggi dengan bahu lebar berdiri di pintu masuk. Jas laboratoriumnya diperkuat lapisan kevlar, menunjukkan identitas khas penelitian tingkat militer. Wajahnya terlihat tegas, namun tetap hangat.
Levan.
"Levan..." bisik Kaivan, antara lega dan bingung.
Levan melangkah masuk perlahan, mengamati ruangan dengan tatapan teliti seorang ilmuwan. Kemudian ia menoleh ke arah gadis itu.
"Lyra, tolong siapkan air untuk Kaivan."
Kaivan membeku.
"A... APA?! LYRA?!"
Ia hampir saja berusaha duduk, tetapi otot-ototnya belum sepenuhnya pulih. Matanya membelalak saat menatap gadis itu, berusaha menyusun kembali kepingan-kepingan ingatannya yang tercerai-berai.
Lyra hanya membalas dengan senyum lembut.
