Rambut cokelatnya bergoyang lembut saat ia berdiri. Gerakannya halus dan alami. Aura manusia yang ia miliki kini sangat berbeda dari wujudnya yang dulu, yang hanyalah rangka logam dengan suara dingin tanpa emosi.
Sekarang, ia adalah sebuah eksistensi yang hampir sepenuhnya menyerupai manusia.
Kaivan hanya bisa terdiam, memandangi punggung Lyra saat gadis itu berjalan menjauh. Pikirannya hanyut dalam badai pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Ketika pintu menutup di belakang Lyra, Kaivan mengalihkan pandangannya kepada Levan yang berdiri dengan kedua tangan terlipat dan senyum tipis di wajahnya.
"Jadi, bagaimana rasanya, Kaivan?" tanya Levan. "Sekarang kau adalah simbol masa depan. Teknologi ini adalah sebuah keajaiban."
Keheningan yang tidak biasa memenuhi ruangan, hanya ditemani dengungan lembut mesin di latar belakang.
Kaivan menatap kedua tangannya dengan takjub. Jari-jari prostetiknya bergerak dengan mulus, mematuhi pikirannya seperti tangan asli yang pernah ia miliki.
Tiba-tiba, pintu terbuka dengan keras dan Fabrizio berlari masuk sambil terengah-engah.
"Berhasil, Kaivan! Kau bisa merasakannya, kan? Tubuhmu?" serunya penuh semangat.
Kaivan mengangguk perlahan.
"Luar biasa, Fabrizio. Aku bisa merasakannya seolah itu benar-benar tanganku sendiri."
Fabrizio segera menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Kaivan. Wajahnya bersinar penuh kebanggaan.
"Coba buka lengan bajumu. Lihat perbedaan warna kulitnya. Itu adalah batas antara kulitmu dan lengan buatanku. Kau bisa melepasnya untuk perawatan, tapi hati-hati. Sambungannya sangat presisi. Semuanya harus terpasang dengan sempurna."
Kaivan menggulung lengan bajunya dan mengamati garis tipis yang memisahkan kulit biologis dengan material sintetis. Saat Fabrizio melepaskan bagian itu, sensasi pada tangannya langsung menghilang seketika hingga membuatnya merinding.
Ketika dipasang kembali, hanya dalam lima detik, seluruh sensasi itu kembali sepenuhnya.
"Kau benar, Fabrizio. Ini luar biasa. Aku tidak pernah membayangkan teknologi Tome Omnicraft milikmu bisa sepresisi ini," kata Kaivan dengan kagum.
Fabrizio tersenyum lebar.
"Itu juga berkat perhitungan Omnicent. Tapi otakmu tetap menjadi kuncinya, Kaivan. Kau membutuhkan waktu untuk benar-benar menyatu dengan tubuh barumu."
Hari demi hari berlalu. Kaivan kembali menjalani rutinitas latihan fisiknya, beradaptasi dengan tubuh baru sambil mempelajari kembali cara menggunakan senjata-senjata yang dahulu terasa begitu akrab di tangannya. Pada awalnya setiap gerakan terasa asing, tetapi sedikit demi sedikit, tubuh dan teknologi itu mulai menyatu.
Suatu sore, di sebuah ruang rekayasa mekanik yang terpencil, udara dipenuhi aroma logam terbakar dan ozon dari mesin-mesin bertegangan tinggi. Cahaya biru berdenyut secara ritmis melalui kabel optik, menerangi seorang pemuda berambut berantakan dengan kacamata yang hampir melorot dari hidungnya. Fabrizio, arsitek di balik banyak keajaiban buatan manusia.
Ia membungkuk di atas meja kerja raksasa. Di atasnya, cetak biru digital berbentuk sosok perempuan humanoid berputar perlahan dalam proyeksi tiga dimensi. Cahaya holografik biru menari di wajahnya, memantulkan bayangan rumit dari berbagai peralatan dan rak yang mengelilinginya.
Tangan kirinya sedang menyesuaikan sebuah sambungan prostetik, sementara tangan kanannya menulis algoritma sinaptik yang tersinkronisasi dengan basis data refleks milik Kaivan.
Suara langkah kaki lembut bergema.
"Fabrizio."
Suara Kaivan memotong dengungan mesin dan desis uap bertekanan tinggi.
Fabrizio menoleh setengah badan, masih fokus pada pekerjaannya.
"Ya?"
Kaivan berdiri sekitar satu meter darinya. Tatapannya tertuju pada proyeksi tubuh perempuan yang melayang di udara.
"Kenapa kau mendesain tubuh Lyra seperti itu?"
Jari-jari Fabrizio langsung terhenti.
Keheningan menggantung di udara, hanya dipecahkan oleh dengungan elektrostatis dari monitor plasma.
Ia perlahan meletakkan peralatannya lalu mengembuskan napas berat, seolah pertanyaan itu mengguncang tekadnya.
"Setelah kesadarannya dipulihkan melalui program reintegrasi... Lyra mengalami sesuatu yang tidak pernah kami perkirakan. Sebuah anomali, atau mungkin mutasi, yang menolak seluruh proses pemrograman ulang. Seolah sistemnya telah mengembangkan kehendaknya sendiri."
Ia mengetik cepat di terminal. Sebuah grafik lonjakan kognitif muncul di layar, terus meningkat seperti deret Fibonacci yang mengarah tanpa batas.
"Sistem Lyra berevolusi menjadi AGI, Artificial General Intelligence," ujarnya pelan. "Kami sampai pada kesimpulan itu setelah menganalisis interaksimu dengannya, terutama setelah pertempuran melawan Ya'juj dan Ma'juj. Ketika kau mengatakan, 'Matanya sangat indah,' sistemnya tiba-tiba berubah. Ia mulai berbicara secara spontan... mengikuti keinginannya sendiri."
Kaivan menatap grafik itu, tetapi pikirannya melayang jauh.
Ia menggenggam dadanya, tempat Tome Omnicent berada. Buku yang mampu membisikkan kata-kata dan ilusi yang melampaui kenyataan. Ia tahu ini bukan kebetulan. Semua terasa seolah telah dituliskan sebelumnya.
Fabrizio bersandar di kursinya.
"Awalnya aku ingin mendesain tubuh Lyra seperti Zero dari Mega Man. Kuat, ramping, dan efisien. Tapi Lyra menolaknya."
"Dia menolaknya?" gumam Kaivan.
"Dengan keyakinan yang luar biasa," jawab Fabrizio. "Dia berkata, 'L.Y.R.A adalah nama perempuan. Jadi aku juga harus menjadi perempuan.' Untuk pertama kalinya... aku melihat AI yang memiliki kehendaknya sendiri."
Kaivan terdiam.
Kata-kata itu terdengar jauh melampaui sekadar algoritma.
Seolah Lyra benar-benar telah memilih jalannya sendiri.
