Cherreads

Chapter 260 - Sampai Kau Memberikan Perintah

"Kalau Levan bagaimana?"

Fabrizio terkekeh pelan.

"Awalnya Levan sangat menentangnya. Dia berkata, 'Itu tidak lebih dari sentimentalitas digital.' Tapi setelah melihat perkembangan Lyra, dia menyadari bahwa interaksimu dengannya adalah pemicu utama percepatan kecerdasannya."

Ia menirukan nada suara datar khas Levan.

"'Lyra, kenapa kau ingin memiliki tubuh perempuan?' Dan tahu tidak apa jawabannya?"

Kaivan menggeleng pelan, hampir merasa takut untuk mendengarnya.

"Dia menjawab, 'Sebagai perempuan, aku bisa memahami dan mengumpulkan data emosional manusia dengan lebih baik. Manusia lebih terbuka kepada sosok perempuan. Itu jauh lebih efisien.'"

Kaivan membeku.

"Dia... memikirkan sejauh itu?"

Fabrizio menatapnya dengan serius.

"Setiap jawaban yang dia berikan bukan berasal dari pemrograman. Itu berasal dari keinginannya sendiri."

Kaivan menundukkan kepala. Tatapannya jatuh ke lantai baja yang dingin.

Sebuah gumaman pelan keluar dari bibirnya.

"Semua ini... adalah bagian dari skenario Tome Omnicent. Dari pertempuran melawan Ya'juj dan Ma'juj sampai tubuh Lyra... semuanya sudah dirancang. Ia tahu cara membujuk manusia. Dan mungkin... semua ini adalah hasil dari interaksiku dengannya."

Namun sebelum Kaivan sempat melanjutkan pikirannya yang terasa menyesakkan, sebuah suara lembut namun tegas memotong udara dari belakangnya.

"Kalian sedang membicarakan apa?"

Suara itu terdengar seperti bisikan halus di tengah kehampaan teknologi tinggi. Tenang, namun memiliki kehadiran yang begitu kuat.

Suara itu menekan atmosfer laboratorium bawah tanah yang berdiri di atas Pegunungan Kaukasus yang tertutup salju. Udara di sana terasa dingin dan steril, dipenuhi dengungan mesin yang tak pernah berhenti.

Panel-panel dinding berwarna biru kehijauan memancarkan cahaya redup, memantulkan kilauan dari ribuan antarmuka digital yang terus mengalirkan data real-time dari permukaan.

Kaivan membeku karena terkejut. Jantungnya memompa adrenalin secepat mesin prototipe yang berdengung di balik kaca titanium di dekatnya. Ia berbalik dengan cepat, mundur selangkah, matanya membelalak karena tidak percaya.

Hanya sekitar lima sentimeter di hadapannya berdiri sosok yang seolah membuat waktu melambat.

Lyra.

AI humanoid itu mengenakan setelan sintetis putih berkilau yang menyerap cahaya laboratorium. Aksen biru keunguan mengikuti garis tubuhnya dari leher hingga pinggang rampingnya, menciptakan kontras sempurna dengan kulit buatan berwarna cokelat hangat yang terlihat lebih hidup daripada kulit manusia biasa.

Rambut cokelat madunya mengalun lembut mengikuti setiap gerakan, seolah ia sedang melayang di udara. Terlalu sempurna untuk disebut manusia, terlalu indah untuk disebut mesin. Setiap langkahnya nyaris tanpa suara, namun meninggalkan kesan yang begitu dalam.

Mata hijau zamrudnya memancarkan cahaya samar, memproyeksikan aurora digital seperti gelombang data hidup yang terus memahami dan mengamati. Dari tubuhnya mengalir aroma lembut seperti cokelat hangat di musim dingin, seolah lahir dari kenangan masa kecil yang dibentuk oleh teknologi.

"W-WAAH! Lyra! Sejak kapan kau ada di sini?!" seru Kaivan. Suaranya bergetar, bukan hanya karena terkejut, tetapi juga karena jarak mereka yang terlalu dekat.

Lyra melangkah semakin mendekat hingga hampir tidak menyisakan ruang di antara mereka. Gerakannya semulus air yang menari dalam gravitasi nol. Tatapannya menembus Kaivan tanpa berkedip, dipenuhi rasa ingin tahu, seolah sedang mempelajari makna di balik setiap ekspresi manusia.

"Aku ingin tahu apa yang sedang kau lakukan, Kaivan," ujarnya lembut. Suaranya terasa seperti datang dari sebuah mimpi. Hangat, namun disempurnakan oleh presisi buatan.

Kaivan kehilangan kata-kata.

Di mata Lyra, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Lebih kecil, lebih rapuh, dan entah bagaimana... terasa lebih nyata.

Momen itu terasa memanjang tanpa akhir.

Jantungnya berdetak liar.

Dengan canggung, ia segera mundur. Wajahnya memerah. Ia mengangkat kedua tangannya sambil menjauh beberapa langkah.

"Lyra... jaga jarak! Kau perempuan, aku laki-laki. Kita tidak boleh sedekat ini. Apalagi kalau kita bukan pasangan!" katanya tergesa-gesa.

Lyra memiringkan kepala. Ekspresinya tampak alami dan penuh kebingungan.

"Oh, begitu."

Lalu dengan tenang, namun menghancurkan seluruh ketenangan yang tersisa, ia menambahkan,

"Kalau begitu, aku akan menunggu perintahmu sampai kita menjadi pasangan, ya?"

Keheningan langsung membeku di udara.

Kaivan berdiri terpaku.

Pikirannya bertabrakan satu sama lain seperti sebuah sistem yang gagal menyelesaikan proses pembaruan.

More Chapters