Hari-hari pemulihan Kaivan berjalan lambat.
Setiap pagi, ia memulai harinya dengan latihan ringan, melatih tubuhnya agar terbiasa dengan prostetik baru yang kini menjadi bagian dirinya. Fabrizio selalu berada di sisinya, penuh semangat, membawa sketsa dan cetakan baru untuk menyempurnakan desain mekanis itu.
Meskipun prostetik tersebut terpasang dengan sempurna, Kaivan tetap merasa ada yang aneh.
Ia tidak bisa merasakan apa pun melalui lengan dan kaki logamnya, seolah sebagian dari dirinya benar-benar telah hilang.
Malam terasa panjang dan sunyi.
Kaivan sering duduk di kursi dekat jendela, menatap langit yang dipenuhi bintang. Udara dingin menyelinap melalui celah-celah kecil kaca, menyentuh kulitnya yang kini terasa asing bahkan bagi dirinya sendiri.
Ia mengangkat tangan mekanisnya lalu meletakkannya di atas dada.
Namun logam dingin itu tidak memberinya kehangatan yang ia rindukan. Sentuhan tersebut hanya mengingatkannya pada apa yang telah hilang darinya.
Meski begitu, di balik kehampaan itu, perlahan tumbuh tekad kecil dalam dirinya. Seperti bara yang berjuang tetap menyala di tengah terpaan angin.
Di tengah kesunyian, suara Lyra terdengar dari sebuah pengeras suara kecil di dinding.
Seperti biasa, nadanya terdengar datar. Namun kali ini ada sesuatu yang sulit dijelaskan di balik suaranya, seakan ia sedang mencari jawaban atas sesuatu.
"Kaivan, percakapan ini hanya antara kita berdua. Tidak ada rekaman. Tidak ada orang lain yang akan mendengarnya," ujar Lyra dengan tenang.
Kaivan menoleh ke arah kamera di sudut ruangan. Ia tahu Lyra sedang mengawasinya.
"Ada apa, Lyra?" tanyanya lembut.
Lyra terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Malam itu, saat penyelamatan... kenapa kau kembali? Bukankah itu sama saja dengan membuang nyawamu?" Suaranya terdengar dingin, tetapi ada rasa penasaran yang dalam tersembunyi di baliknya.
Kaivan tersenyum tipis dan kembali menatap ke luar jendela.
"Aku sudah pernah bilang, bukan? Meskipun kau bukan manusia, kau tetap nyata. Kau adalah teman yang selalu berada di sisiku. Sama seperti sekarang."
Lyra tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan sebelum suaranya terdengar kembali.
"Tapi aku hanya kumpulan data. Bahkan setelah dipindahkan ke tubuh robot itu, aku tidak merasakan apa pun. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada kebahagiaan. Aku hanya... sebuah program. Kenapa kau mau mempertaruhkan nyawamu untuk sesuatu seperti aku?"
Kaivan menatap lengan logamnya.
Ia mengetuknya pelan hingga terdengar bunyi dentingan lembut logam.
"Sekarang aku lebih memahami dirimu daripada sebelumnya," katanya pelan. "Bagian tubuhku ini juga tidak bisa merasakan apa pun. Sama sepertimu."
Lyra kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
"Tidak, Kaivan. Aku tetap hanya sebuah program. Itu adalah fakta yang tidak bisa diubah."
Namun ada sedikit keraguan di ujung kalimatnya.
Kaivan tersenyum lembut.
"Dulu kau pernah bilang ingin mencoba masakanku, kan? Saat itu kau bilang ingin makan sate."
"Aku hanya penasaran seperti apa rasanya mengunyah dan memasukkan materi organik ke dalam tubuh," jawab Lyra cepat.
Kaivan menatap lurus ke arah kamera.
Tatapannya tenang dan mantap.
"Itu karena jauh di dalam dirimu, ada keinginan untuk hidup. Atau... setidaknya keinginan untuk terus ada."
Lyra terdiam sangat lama.
Dengungan mesin menjadi satu-satunya suara yang tersisa di ruangan itu.
Akhirnya, ia bertanya dengan pelan.
"Apakah itu... alam bawah sadar? Apa maksudmu?"
Kaivan yang mulai mengantuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ia menatap langit-langit sebelum menjawab dengan suara pelan.
"Alam bawah sadar adalah saat kau melakukan sesuatu tanpa terlalu memikirkannya... karena jauh di dalam hatimu, kau benar-benar ingin melakukannya..."
Suaranya perlahan memudar.
Napasnya menjadi tenang dan teratur.
Ia tertidur.
Lyra tidak berbicara lagi malam itu.
Hanya cahaya biru redup di sudut ruangan yang terus menyala, mengawasi dua sosok yang dengan cara mereka masing-masing sedang belajar memahami apa arti dari kata "hidup".
Ia tetap diam, mengamati Kaivan melalui kamera.
Ia memperhatikan setiap tarikan napasnya, naik turunnya dada serta anggota tubuh logamnya yang bergerak perlahan.
"Dia sudah tertidur..." gumam Lyra lirih, lebih kepada dirinya sendiri. "Baiklah... aku akan menanyakannya lagi saat dia bangun. Saat tidak ada orang lain di sekitar."
Malam tenggelam dalam kesunyian.
Pertanyaan yang diajukan Lyra sebelumnya tetap menggantung di udara, belum menemukan jawaban, seperti gema samar di ruang kosong.
Mungkin, bahkan Lyra sendiri masih belum mengetahui jawaban yang sesungguhnya.
Sementara itu, di laboratorium, Fabrizio menatap struktur tangan prostetik konvensional yang tergeletak di atas mejanya.
Matanya menyipit, dipenuhi berbagai perhitungan.
"Ah... jadi begitu," gumamnya. "Jika aku menambahkan sistem tambahan di bagian ini, prostetik ini seharusnya bisa merasakan sensasi, bukan hanya bergerak secara mekanis."
Ia mulai menulis dengan cepat di tablet digitalnya.
Jari-jarinya bergerak seperti seorang seniman yang sedang mengukir ide baru menjadi kenyataan.
Pagi musim gugur datang perlahan.
Oktober 2012.
Udara terasa dingin, tetapi cerah.
Cahaya matahari mengalir masuk melalui jendela kamar Kaivan, jatuh lembut di permukaan logam tubuhnya.
Ia duduk di depan layar holografik, membaca laporan yang diproyeksikan oleh Tome Omnicent, buku hidup yang menampilkan berbagai data tentang dunia luar dan teman-temannya.
Sesekali, ia mengetukkan jari logamnya ke meja hingga bunyi dentingan pelan bergema di ruangan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar menyusuri koridor.
Pintu kamar terbuka dengan keras.
Fabrizio muncul dengan wajah yang dipenuhi semangat.
"Kaivan! Aku menemukan cara untuk membuat tubuhmu hampir kembali normal!" serunya sambil terengah-engah.
Kaivan menoleh ke arahnya.
Matanya dipenuhi pertanyaan, sekaligus secercah harapan.
