Seolah mendengar pertanyaannya, halaman-halaman buku kuno itu terbuka dengan sendirinya. Huruf-huruf emas muncul di atas kertas, terlihat hanya oleh Kaivan.
"Saat kau melemparkanku, aku memindahkan kesadaranku. Aku mengambil alih tubuhmu ketika kau sedang jatuh... karena aku tidak bisa membiarkan tubuhmu mati. Aku memaksanya masuk ke Breaker Mode."
Mata Kaivan membelalak. Rasa dingin menjalar di sepanjang tulang punggungnya. Jari-jarinya yang lemah mencengkeram ujung selimut.
"Breaker...? Jadi... apa yang kau lakukan pada tubuhku?" pikirnya. "Dan... apakah aku bisa menjadi normal lagi?"
Halaman itu kembali terbalik. Baris berikutnya meresap ke dalam pikirannya seperti bisikan.
"Aku melakukan kontak dengan Lyra saat kau tidak sadarkan diri, memanfaatkan celah dalam sistemnya. Sekarang, dia adalah pengikut setiamu. Tubuhmu... akan digantikan dengan perlengkapan yang lebih canggih. Jangan khawatir. Semua ini demi balas dendammu terhadap Vella."
Pupil mata Kaivan mengecil. Dunia seakan bergetar.
Saat semua orang mengira dirinya tidak sadarkan diri, Tome itu telah bertindak. Mengikat Lyra, memodifikasi tubuhnya, bahkan mengambil alih kendalinya.
Ia menatap kosong ke depan. Pikirannya berputar liar, sementara tubuhnya terlalu lemah untuk melawan. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah derit lembut roda kursi roda.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besi raksasa bertuliskan REST AREA A-07.
Levan berdiri di sana. Wajahnya terlihat lelah, namun masih membawa ketegasan seorang pemimpin sejati. Ia melangkah maju, membuka pintu manual itu, dan udara hangat langsung menyentuh wajah mereka.
Sebelum masuk, Kaivan menghentikan Elara dengan anggukan kecil. Ia menatap Levan. Wajahnya pucat dan kurus, tetapi matanya masih menyimpan secercah harapan yang rapuh.
"Levan," suaranya serak, "berapa lama... proses pemulihanku akan berlangsung?"
Levan mengembuskan napas perlahan. "Aku tidak bisa memastikan, Kaivan. Mungkin beberapa bulan, bahkan beberapa tahun. Kau harus membiasakan diri dengan tubuh prostetik sementaramu. Akan ada banyak rasa sakit... dan banyak kemunduran."
Kaivan mengangguk pelan. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, hanya penerimaan yang pahit.
Setelah jeda yang cukup lama, ia kembali berbicara. Kali ini, nadanya terdengar mantap.
"Kalau begitu... Levan, aku punya satu permintaan."
Tatapannya menembus lurus ke depan, tidak lagi mencari belas kasihan, melainkan membawa sesuatu yang jauh lebih dalam.
Di kedalaman malam yang membeku di Pegunungan Kaukasus, sebuah bunker tersembunyi berdiri dalam keheningan layaknya makam logam.
Di dalam ruang kendali utama, Kaivan duduk di kursi rodanya, dibalut selimut abu-abu yang tipis. Pemanas ruangan bekerja keras melawan dingin yang merembes dari dinding baja. Cahaya kebiruan dari layar holografik memantulkan bayangan tubuhnya yang tak lagi utuh. Hanya dengungan generator dan desisan udara yang menjadi bukti bahwa tempat itu masih hidup.
Di belakangnya, Levan mengoperasikan panel-panel kendali.
Satu per satu wajah teman-teman Kaivan muncul di layar-layar melayang.
Radit dengan rambut berantakannya, Zinnia dengan mata tajam namun lembut, Felicia yang diterangi cahaya hangat, Thivi yang menahan air mata, Frans yang berdiri tegap, Raphael yang diam namun waspada, Ethan dengan senyum tenangnya, Isabel yang terlihat lembut dan baik hati, serta Livia yang memeluk bonekanya erat-erat.
Kaivan menarik napas dalam. Bahu prostetiknya mengeluarkan bunyi klik pelan saat ia menghirup udara. Ia menatap setiap layar satu per satu.
"Terima kasih," katanya pelan namun jelas. "Karena masih ada di sini... meskipun aku belum bisa menemui kalian. Mungkin selama beberapa bulan... mungkin beberapa tahun."
Radit hendak berbicara, tetapi Felicia menghentikannya. Zinnia hanya menatap dalam diam, sementara Livia memeluk bonekanya semakin erat.
"Tapi aku percaya," lanjut Kaivan, "kita akan bertemu lagi. Dunia ini tidak seperti yang kita bayangkan. Ya'juj dan Ma'juj itu nyata. Merekalah yang membuatku menjadi seperti ini."
Ia menatap anggota tubuh prostetiknya. Wajahnya menegang, namun matanya menyala penuh tekad.
"Jangan biarkan mereka mengambil hal lain dari kita. Teruslah berlatih. Kuatkan hati kalian. Karena hal-hal yang tidak bisa kita jelaskan seperti yajuj majuj... benar-benar ada. Aku tidak akan diam saja. Aku akan datang menemui kalian sendiri."
Keheningan memenuhi ruangan. Waktu seakan berhenti.
Radit berdiri tegak. "Siap, Kapten! Aku akan jadi lebih gila dari sebelumnya!"
Zinnia menundukkan kepala. Suaranya rendah.
"Kau akan lihat. Aku akan menjadi jauh lebih kuat."
Felicia memejamkan mata.
"Apa pun yang terjadi, aku akan kembali kepadamu."
Thivi tersenyum di balik air matanya.
"Aku tidak akan jadi si cengeng lagi. Aku akan menjadi wanita paling berbahaya... untukmu."
Frans mengangguk mantap.
"Kau akan bangga pada kami, Bro."
Raphael berbicara dengan tenang.
"Aku akan memastikan tidak ada yang bisa menyentuh kami sebelum kau kembali."
Ethan terkekeh pelan.
"Santai saja, Bro. Dunia belum akan berakhir."
Livia berbisik pelan.
"Livi akan terus berlatih."
Isabel meletakkan tangan di dadanya.
"Saat kau kembali nanti, kau akan bangga memiliki kami."
Levan berdiri di belakang mereka, menatap layar-layar itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kaivan memandangi wajah mereka lama sekali, seolah berusaha menghafal setiap detail yang ada.
"Terima kasih..."
Akhirnya ia berbisik. Suaranya begitu pelan, seakan ia sedang berbicara kepada dirinya sendiri, bukan kepada siapa pun.
Satu per satu layar itu menjadi gelap. Cahaya biru perlahan memudar, menyisakan hanya kegelapan dan Kaivan, dengan nyala api kecil yang masih belum padam di kedua matanya.
