Kata-kata itu menggantung di udara seperti kabut yang tak pernah tersentuh cahaya. Ruangan terasa semakin berat, dipenuhi emosi yang sulit diberi nama. Kaivan menatap langit-langit, berusaha menyusun kembali kepingan-kepingan ingatannya yang tercerai-berai.
Suara lemah keluar dari bibirnya yang kering.
"Tapi... tangan dan kakiku sekarang seperti ini." Pandangannya jatuh pada prostetik yang menggantikan anggota tubuhnya yang hilang. "Artinya... aku akan hidup seperti ini selamanya, ya?"
Fabrizio mengangkat wajahnya. Wajahnya tegang dan basah oleh air mata. Ia berlutut di samping Kaivan, kedua tangannya gemetar sebelum menyentuh kursi roda itu, seolah takut melukai seseorang yang baru saja kembali dari ambang kematian.
"Kaivan," katanya lembut namun tegas, "aku berjanji, kami akan membantumu berdiri lagi. Kau tidak sendirian. Aku akan menggunakan Tome of Omnicraft milikku jika memang harus. Aku tidak akan menyerah padamu."
Cahaya dari panel-panel ruangan menerangi wajahnya, memperlihatkan tekad yang tersembunyi di balik kesedihannya. Ia menggenggam jari-jari prostetik Kaivan seolah masih hangat seperti dahulu.
Beberapa jam kemudian, setelah kondisi Kaivan stabil, Elara, peneliti bermata tajam dengan sorot seterang cahaya bulan, mendorong kursi rodanya menuju ruang kendali utama. Koridor logam bergetar pelan oleh suara mesin. Kamera-kamera mengikuti langkah mereka, sementara cahaya biru membentang di sepanjang dinding mengikuti irama roda yang berputar.
Pintu ruang kendali terbuka, melepaskan semburat cahaya hologram dan deretan monitor yang menampilkan data serta peta tiga dimensi markas. Di tengah ruangan berdiri Levan dengan mantap mengenakan mantel tempurnya. Ia memegang sebuah remote kecil lalu menekan tombol utama.
Salah satu layar besar menyala, menampilkan rekaman dari mata mekanis Lyra. Suara mesin bergema, lalu pertempuran brutal itu muncul di hadapan mereka.
Kaivan, dalam wujudnya yang liar dan nyaris tidak manusiawi, bergerak di antara api dan reruntuhan. Gauntlet di lengannya menghantam tanpa ampun. Darah dan logam berputar dalam tarian mematikan.
Kaivan terdiam. Ia menatap layar itu seolah sedang melihat orang lain.
"Aku... hanya ingat saat kakiku digigit," katanya pelan, seperti berbicara kepada bayangan. "Setelah itu... aku tidak ingat apa pun."
Levan berjalan mendekat, kedua tangannya tersimpan di saku mantel panjangnya. Tatapannya terasa berat, seolah sedang menilai sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar luka.
"Saat tombak itu menembus lenganmu, dan wajahmu dicengkeram oleh unit bersenjata itu... apakah kau mengingatnya?"
Kaivan perlahan menggeleng. Dagunya menunduk.
"Tidak... aku sama sekali tidak mengingat apa pun."
Dari sisi ruangan, Fabrizio melangkah maju dengan jas laboratorium putih yang dihiasi lambang Omnicraft. Di tangannya terdapat catatan penuh rumus dan sketsa prostetik. Ia menarik napas sebelum berbicara dengan hati-hati.
"Itu... mungkin efek dari obat yang kusuntikkan melalui gelangmu. Obat itu menekan kesadaranmu dan memaksa tubuhmu masuk ke mode bertahan hidup, bergerak tanpa kendalimu."
Levan perlahan menggeleng. Ekspresinya menegang, seolah sedang menahan konflik dalam dirinya sendiri.
"Tidak. Kaivan sudah kehilangan kesadaran sebelum obat itu bekerja. Saat dia terlempar ke udara dan gauntlet itu menyatu dengannya... dia sudah tidak sadar. Tapi tubuhnya tetap bertarung."
Keheningan memenuhi ruangan. Hanya suara statis samar dari monitor yang terdengar.
Kaivan menundukkan pandangan. Prostetik karbonnya terangkat sedikit saat ia menyentuh sisa bahunya. Matanya kosong, tetapi jauh di dalam sana masih menyala rasa sakit yang enggan padam.
"Jadi... aku memang sudah tidak bisa diselamatkan, ya?"
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar kalah.
Levan menatapnya lurus.
"Ini bukan akhir, Kaivan. Kau masih di sini. Masih hidup. Masih berpikir. Masih bisa memilih. Kita akan menemukan jalan ke depan. Tapi kau tidak akan kembali menjadi dirimu yang dulu. Prostetik ini sekarang adalah bagian dari dirimu."
Kata-kata itu menggantung di udara seperti kabut dingin.
Kaivan memejamkan mata, berusaha mengusir bayangan pertempuran yang bahkan tidak dapat ia ingat. Dunia telah berubah. Tubuhnya telah berubah. Namun... apakah jiwanya juga telah berubah?
Fabrizio melangkah lebih dekat, suaranya membawa kehangatan yang lembut.
"Jangan khawatir, Kaivan. Aku akan membuat sesuatu yang lebih baik untukmu. Lengan dan kaki prostetik baru, berdasarkan kerangka robotik yang pernah kita rancang sebelumnya. Mereka akan berfungsi sama seperti anggota tubuh asli."
Kaivan membuka matanya dan menatapnya dengan campuran rasa syukur dan keraguan.
"Kau yakin bisa melakukannya?"
Fabrizio tersenyum. Matanya bersinar penuh keyakinan.
"Aku yakin. Ini bukan hanya untukmu. Ini untuk kita semua. Kau akan kembali... bahkan lebih kuat dari sebelumnya."
Malam menyelimuti Pegunungan Kaukasus dalam kegelapan yang pekat. Udara di sekitar bunker bawah tanah terasa menggigit, seolah dunia di atas telah membeku dalam kesunyian.
Namun di balik dinding logam yang tebal dan pelindung elektromagnetik, bunker itu tetap hidup. Cahaya neon biru yang lembut berjajar di sepanjang koridor yang sunyi, sementara kilatan statis sesekali memantul di permukaan dinding.
Di sepanjang lorong, derit halus roda kursi roda berpadu dengan dengungan sistem ventilasi.
Kaivan tampak rapuh di atas kursi rodanya, dibalut selimut abu-abu yang menutupi tubuhnya yang melemah. Di atas pangkuannya terbaring Tome of Omnicent, artefak kuno yang memancarkan denyut lembut, seolah bernapas bersama malam.
Elara mendorong kursi itu perlahan. Langkahnya hati-hati saat mereka melewati koridor utama menuju ruang pemulihan. Lampu-lampu di atas berkedip samar, menambah suasana misterius. Tempat itu terasa lebih seperti ruang yang menyimpan rahasia-rahasia yang terlupakan dan jiwa-jiwa yang gelisah daripada sebuah fasilitas medis.
Kaivan menundukkan pandangannya ke Tome of Omnicent yang berada di pangkuannya.
Di dalam hatinya, sebuah suara pelan bergema.
"Hei... kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun dari waktu itu?"
