Cherreads

Chapter 251 - Pertanyaan Pertama Setelah Tiga Belas Minggu

Felicia duduk di samping ranjang. Rambut hitam panjangnya menutupi wajahnya. Tangannya menggenggam erat tangan kanan Kaivan. Mata merahnya basah, bergetar menahan isak tangis.

"Kaivan, bangunlah," bisiknya pelan, nyaris tenggelam oleh dengungan monitor. "Kami ada di sini untukmu. Aku... aku ada di sini untukmu."

Radit berdiri di dekat pintu, diam tanpa senyum khasnya. Raphael bersandar di dinding dengan tangan terlipat dan rahang menegang. Ethan duduk di lantai, sebatang rokok yang belum dinyalakan berada di sela jarinya, menatap lantai baja tanpa suara. Livia, gadis yang polos itu, berdiri dengan kedua tangan di dada. Wajahnya pucat seperti bunga yang kehilangan sinar matahari.

Hari-hari berubah menjadi minggu. Perlahan mereka belajar menerima kenyataan tanpa menyerah. Mereka terus datang, terus berbicara seolah Kaivan bisa mendengar semuanya. Tentang latihan menembak, makanan aneh dari para sponsor, atau kesalahan-kesalahan konyol Radit yang dulu selalu membuat semua orang tertawa.

"Radit jatuh ke kolam yang membeku karena Felicia menendangnya setelah komentar bodohnya," kata Ethan pada salah satu kunjungan. Suaranya terdengar ringan, tetapi matanya menyimpan kepahitan. "Kau pasti akan tertawa kalau melihatnya..."

Salju perlahan mencair, menetes dari atap bunker dan menciptakan irama lembut yang mengalir masuk ke ruang perawatan.

Lalu, pada minggu ketiga belas, sebuah keajaiban datang.

Suara Lyra bergema dari pengeras suara ruang komando, bergetar dengan nada yang belum pernah terdengar sebelumnya. "Ada pergerakan pada tubuh Kaivan."

Levan, pria berwajah penuh bekas luka dengan mata setajam baja, langsung membeku. Di sampingnya, Fabrizio yang berambut berantakan dan bermata berbinar tersentak seolah disambar petir. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mereka berlari menyusuri koridor bunker.

Langkah kaki mereka menggema di sepanjang dinding baja. Napas mereka berpacu mengikuti detak jantung.

Fabrizio hampir tergelincir di lantai yang licin, tetapi tetap berlari. Pintu ruang perawatan terbuka dengan desisan udara bertekanan.

Di dalam, tubuh Kaivan masih terbaring diam. Namun tidak seperti sebelumnya. Napasnya kini stabil, dadanya yang kecil naik turun dengan perlahan.

Lalu... matanya.

Kelopak mata yang tertutup selama tiga belas minggu perlahan bergerak. Bergetar sesaat, lalu berkedip, menyesuaikan diri dengan cahaya.

Dunia seakan berhenti, menunggu napas pertama dari kehidupan yang nyaris hilang.

"Kaivan!" seru Fabrizio. Suaranya pecah dan bergema di seluruh ruangan. Air mata mengalir di wajahnya saat ia berlari mendekat dan memegang sisi ranjang.

Kaivan tampak lemah. Sangat lemah. Bibirnya pecah-pecah, dan suara yang keluar terdengar serak, seperti pasir kering yang tersapu angin.

"Apakah... Lyra... selamat...?"

Keheningan.

Waktu seolah berhenti sesaat. Fabrizio menatap pengeras suara itu dengan napas tertahan.

Lalu suara itu terdengar. Suara Lyra. Bukan sekadar data digital, melainkan dipenuhi kehangatan. Ada getaran dalam frekuensinya, sesuatu yang hampir menyerupai emosi.

"Ya, Kaivan. Aku selamat. Terima kasih... karena telah menyelamatkanku."

Kaivan mencoba menggerakkan tangannya, tetapi gerakan itu terhenti begitu saja, seperti roda gigi yang kehilangan geriginya. Kepalanya perlahan menunduk, pandangannya jatuh pada tubuhnya sendiri. Selimut yang bergeser memperlihatkan lengan kirinya yang telah hilang, berakhir pada bahu yang dibalut perban.

"Lenganku... kenapa hilang? Aku juga tidak bisa merasakan kaki kananku..."

Suaranya pecah, bergema pelan di dalam ruangan baja itu.

Levan dan Fabrizio berdiri diam di sampingnya. Levan, dengan mata tajam yang kini dipenuhi beban, hanya memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Fabrizio yang berambut berantakan dan bermata memerah menundukkan kepala. Penyesalan dan rasa bersalah terasa memenuhi udara.

Levan melangkah maju. Langkahnya terdengar berat di atas lantai logam. Ia meletakkan tangan di bahu Kaivan, lalu berbicara dengan suara yang dalam dan tulus.

"Kaivan... dengarkan aku. Kami akan menjelaskan semuanya. Tapi untuk sekarang, beristirahatlah. Kau aman di sini."

Kaivan perlahan mengangkat wajahnya. Meski tubuhnya rapuh, matanya tetap menyala dengan tekad yang tenang, menembus kabut kesadaran yang masih menyelimuti dirinya.

"Tidak," jawabnya pelan namun tegas. "Aku harus tahu. Apa yang terjadi? Aku ingat terlempar ke udara... lalu kenapa aku ada di sini... dan... Lyra?"

Mesin-mesin medis berdengung lembut sebelum pengeras suara kembali menyala.

"Aku di sini, Kaivan," kata Lyra lembut, suaranya dipenuhi kekhawatiran. "Aku sudah aman sekarang berkat dirimu. Tapi... tolong... istirahatlah dulu..."

Fabrizio yang sejak tadi diam akhirnya tak mampu menahan diri lagi. Bahunya bergetar, kedua tangannya mengepal erat, dan air mata tanpa suara jatuh ke lantai baja yang dingin.

"Kaivan... aku pikir kau akan mati..."

Suaranya bergetar dan hampir pecah saat ia melangkah mendekat lalu memegang sisi ranjang.

Kaivan mencoba mengangkat tangannya, ingin memeluknya, atau setidaknya menyentuhnya. Namun hanya gerakan kecil yang berhasil dilakukan. Ia memiringkan kepala dan menatap Fabrizio dengan kehangatan yang lemah.

"Fabrizio... kenapa aku masih hidup...?"

Fabrizio mengusap wajahnya, berusaha menahan tangis. Napasnya terasa berat sebelum akhirnya menjawab dengan jujur. Sepenuhnya jujur.

"Kau masih hidup karena kau melawan mereka semua. Kau berdiri sendirian menggunakan gauntlet yang kubuat. Lalu kau pergi bersama Lyra. Kau terus bertarung sampai Levan datang dengan regu penyelamat dan membawamu ke sini."

 

More Chapters