Cherreads

Chapter 250 - Berminggu-Minggu Tanpa Jawabannya

Tanpa ragu, Levan berlari menuruni lereng. Satu pandangan saja sudah cukup.

Kaivan... mata kanannya telah hilang, lengan kirinya lenyap, dan kaki kanannya terputus. Namun begitu, dadanya masih bergerak samar.

"Cepat! Bawa dia ke kendaraan evakuasi! Dia subjek yang sangat penting, jangan sampai kita kehilangannya!"

Para petugas medis dengan pakaian pelindung tebal segera berlari membawa tandu termal. Namun mereka berhenti saat melihat Lyra memeluk Kaivan dengan erat, tubuh logamnya yang hangus dan rusak membungkus tubuh pria itu.

"Kaivan! Selamatkan dia! Jangan biarkan dia mati!" teriak Lyra dengan suara serak penuh keputusasaan. "Dia sudah mengorbankan terlalu banyak... untukku!"

Ia mengulurkan satu-satunya lengan yang masih tersisa untuk memeluknya lagi, tetapi seorang petugas medis menahannya dengan lembut.

"Jangan sentuh dia. Suhu tubuhmu terlalu rendah. Kita harus bergerak cepat."

Lyra terdiam.

Mata zamrudnya berkedip lemah saat memproses kata-kata itu.

Namun ada sesuatu di dalam dirinya yang menolak.

Bukan karena logika sistem.

Melainkan karena perasaan yang tak lagi mampu ia jelaskan.

Saat kendaraan militer itu tiba di bunker, suasana langsung berubah tegang. Cahaya merah dari drone pengawas berputar di langit. Para prajurit berzirah bergegas membuka gerbang baja menggunakan pemindaian retina dan kode suara ganda. Pintu besar itu perlahan bergeser terbuka, melepaskan udara hangat yang menghantam wajah mereka yang membeku.

Tim medis berlari membawa tandu. Tubuh Kaivan segera dibawa masuk, dipenuhi luka dan darah yang telah mengering. Kulitnya membiru, tangan dan kakinya telah tiada, sementara dadanya naik turun tidak beraturan, seolah berada tepat di batas antara hidup dan mati. Napasnya tersendat-sendat, seperti tubuhnya sedang berjuang melawan tarikan kehampaan.

Lyra yang setengah rusak dan diperkuat secara darurat dengan baja ringan ditahan oleh dua petugas keamanan. Beberapa bagian tubuhnya terbuka, memercikkan kilatan listrik kecil. Matanya bersinar redup saat menatap Kaivan yang menghilang di balik pintu ruang operasi.

"Kaivan... tolong bertahan..." bisiknya. Getaran halus menjalar di rangka logamnya, bukan karena dingin atau kerusakan, melainkan karena sesuatu yang tak pernah dirancang untuk ia rasakan: kecemasan.

Levan berdiri tidak jauh darinya. Mantel hitamnya berkibar tertiup aliran udara hangat dari ventilasi. Tatapannya tegas, namun menyimpan kelembutan. Ia memandang Lyra cukup lama, seolah berusaha menembus logika dingin dan menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar mesin.

"Jangan khawatir. Kaivan akan selamat. Peralatan medis di sini sangat canggih," kata Levan dengan nada tenang. Namun bagi Lyra, kata-kata itu terdengar seperti gema kosong yang tenggelam dalam kebisingan sistem yang mengguncang kesadarannya.

Ia terus menatap pintu ruang operasi seolah itu adalah batas antara dua dunia: satu dipenuhi harapan, dan satu lagi tenggelam dalam kegelapan abadi. Dalam keheningan yang memecah waktu menjadi detik-detik menyakitkan, satu pikiran terus berulang di dalam prosesornya.

"Manusia biasanya mengorbankan dirinya hanya untuk sesuatu yang mereka cintai... Dia bilang mataku indah. Apakah aku indah baginya?"

Hari demi hari berlalu. Satu. Dua. Tiga. Hingga genap seminggu sejak tragedi itu terjadi. Lyra tidak pernah meninggalkan area perawatan Kaivan. Kesadarannya kini terhubung langsung dengan sistem pusat bunker, hidup tanpa tubuh fisik. Namun luka emosionalnya, data yang terjerat dengan perasaan-perasaan asing, tidak dapat diperbaiki oleh pembaruan sistem apa pun.

Selama dua puluh empat jam setiap hari, Lyra mengawasi Kaivan tanpa henti. Ia tidak tidur. Ia tidak makan. Ia hanya memperhatikan melalui kamera CCTV, menatap pria yang terbaring koma dengan wajah pucat dibalut perban. Mesin-mesin medis berdengung lembut, menandai detak jantung yang nyaris tak bergerak.

Sementara itu, Levan bekerja di balik layar, menutup akses data satelit sipil, membungkam laporan berita, dan menghapus jejak operasi militer. Tim elit dikirim untuk membersihkan lokasi, mengkremasi secara rahasia jasad Ya'juj dan Ma'juj. Dunia belum siap menerima kebenaran ini.

Bagi teman-teman Kaivan, waktu terasa mengental seperti pasir yang membeku di dalam jam pasir. Kecemasan menjadi bayangan yang tak pernah pergi. Akhirnya, Levan memutuskan untuk memberi tahu mereka.

Di sebuah laboratorium rahasia yang dingin dan steril, para sahabat Kaivan berkumpul. Felicia berdiri di depan, sosoknya yang tinggi dan rambut hitam panjangnya memantulkan cahaya putih ruangan. Mata merahnya bergetar menahan amarah. Radit berdiri di sampingnya dengan wajah mengeras dan tangan terkepal. Raphael menyilangkan tangan, tatapannya tajam namun jauh. Ethan bersandar di dinding sambil merokok dalam diam. Isabel duduk di sudut ruangan dengan mata sembab. Zinnia berdiri kaku dengan rahang yang menegang.

Levan memutar rekaman itu. Suara salju, jeritan, ledakan, lalu tangisan Lyra memenuhi ruangan. Setiap detiknya terasa seperti palu yang menghantam dada mereka.

Felicia akhirnya meledak. Ia mencengkeram kerah Levan dan mengangkat pria itu hanya dengan satu tangan. "Kenapa kau tidak menyelamatkannya?! Dia kehilangan kaki, lengan, bahkan matanya... karena kalian terlambat!" Suaranya pecah, sementara air mata berkilau di sudut mata merahnya.

Radit menarik lengan Felicia. "Tenang! Levan yang menyelamatkannya. Tapi si bodoh itu... dia melompat demi AI itu."

Raphael menatap layar dengan ekspresi dingin. "Kaivan memang selalu seperti itu. Dia lebih peduli pada orang lain daripada dirinya sendiri."

Ethan mengembuskan napas panjang, menjatuhkan rokoknya ke lantai lalu menginjaknya. "Dia tidak pernah berubah. Si idiot itu selalu siap mati demi apa yang dia yakini."

Isabel menatap Levan dengan suara lembut. "Kaivan... dia masih koma, kan?"

Levan mengangguk. "Ya. Setelah amputasi itu, dia belum sadar. Kondisinya kritis, tetapi kami melakukan segala yang kami bisa."

Keheningan menelan seluruh ruangan. Hanya suara alat perekam yang terus berdengung.

Zinnia melangkah maju, suaranya berat oleh kepahitan. "Sudah seminggu... Kami ingin menemuinya. Walaupun hanya sebentar."

Levan memandang mereka satu per satu, lalu perlahan mengangguk. "Kalian bisa datang hari Minggu. Para sponsor tidak suka ada pengunjung di bunker ini, tapi... aku akan mengaturnya. Untuk kalian. Untuk dirinya."

Musim semi akhirnya tiba di Pegunungan Kaukasus, menggantikan dingin tajam musim dingin dengan angin yang lembut dan sinar matahari pemalu yang menembus langit berawan. Jauh di dalam gunung bersalju itu, sebuah bunker militer rahasia tetap tersembunyi. Kokoh dan dingin, dibungkus baja antinuklir, namun menjadi tempat berlindung bagi kehidupan yang rapuh.

Beberapa minggu berlalu setelah tragedi di perbatasan. Teman-teman Kaivan datang dan pergi melewati koridor panjang yang sunyi. Pada kunjungan pertama mereka, keheningan menyelimuti keterkejutan yang mereka rasakan. Tubuh yang dahulu kecil namun penuh semangat kini terbaring lemah di atas ranjang medis. Satu lengan, satu kaki yang tidak lagi utuh, dan satu mata yang tertutup perban, kehilangan cahaya yang dahulu memantulkan rasa ingin tahu dan kebaikan.

 

More Chapters