Bahkan setelah kehilangan sebagian besar tubuhnya, Lyra tetap berjuang. Dengan satu-satunya lengan yang masih bisa digerakkan, ia mencengkeram salju yang mengeras lalu menyeret tubuh Kaivan yang jauh lebih besar darinya. Tali yang menghubungkan mereka memang membantu menahan sebagian beban, tetapi setiap tarikan terasa seperti siksaan. Beberapa kali tubuh Kaivan hampir tergelincir kembali ke arah jurang, memaksa Lyra berseru panik sambil bertahan dengan seluruh kekuatannya.
"Bergeraklah... Kaivan... setidaknya bernapaslah..." bisiknya lirih. Suaranya lemah, tetapi dipenuhi tekad, untuk dirinya sendiri dan untuk Kaivan.
Akhirnya, setelah kelelahan, Lyra berhenti. Dunia di sekelilingnya hanyalah putih gelap dan keheningan yang menyesakkan. Ia memejamkan mata sejenak, lalu berbisik, "Aku akan menurunkan suhu tubuhku. Aku akan mengirim sinyal radio darurat... Jika seseorang mendeteksinya, mungkin masih ada harapan."
Ia mengalihkan sisa energinya. Suhu tubuhnya turun drastis hingga mendekati titik beku, sementara sebuah transmisi lemah dipancarkan ke langit. Sinyal itu menembus badai lalu menghilang. Lima belas detik kemudian, sinyal itu kembali muncul, samar dan terputus-putus, seperti kehidupan yang menolak untuk padam.
Namun tubuh Kaivan mulai bergetar hebat. Suhu tubuhnya merosot tajam dan otot-ototnya mengalami kejang. Lyra langsung panik.
"Tidak... kalau aku terus mengirim sinyal, dia akan mati karena hipotermia."
Ia segera membatalkan transmisi tersebut, mengalihkan energinya kembali ke fungsi pemanas, lalu memeluk Kaivan dari belakang, memberikan kehangatan terakhir yang masih dimilikinya. Tubuh logamnya menempel pada kulit Kaivan yang membeku.
"Kenapa... kenapa aku begitu peduli pada manusia ini..."
Sementara itu, di dalam helikopter, seorang teknisi menatap layar di hadapannya dengan gugup.
"Pak, jejak panas para monster menghilang beberapa menit yang lalu. Tapi... sinyal Lyra muncul dan menghilang setiap lima belas detik. Lokasinya sekitar satu kilometer dari titik jatuh rudal. Sepertinya itu transmisi darurat yang tidak stabil."
Levan menyipitkan mata.
"Jika Kaivan tidak selamat, setidaknya Lyra merekam semua yang terjadi. Itu saja sudah cukup untuk menyelamatkan misi ini."
Helikopter itu berbelok tajam. Kendaraan-kendaraan darat di bawah segera mengubah arah menuju koordinat sinyal tersebut. Lampu sorot mereka menembus salju dan kabut, memburu secercah jejak cahaya, sebuah keajaiban kecil di tanah kematian yang membeku.
Di antara bebatuan granit raksasa yang terkubur di bawah salju tebal, malam di Pegunungan Kaukasus telah berubah menjadi neraka yang membeku. Angin meraung seperti binatang buas, menggigit setiap jengkal kulit yang terbuka. Langit abu-abu pucat terus menurunkan salju tanpa henti, menyelimuti dunia seperti tirai kematian.
Di balik sebuah batu besar, tubuh Kaivan terbaring kaku. Napasnya terputus-putus, sementara darah terus mengalir dari luka dalam di kepalanya. Lengan kirinya telah hilang hingga ke bahu, dan kaki kanannya terputus sampai paha. Tubuhnya nyaris tak dapat dikenali lagi.
Namun di sampingnya, Lyra masih berusaha menutupi tubuh Kaivan yang hancur, melindungi satu-satunya kehidupan yang masih menyimpan kehangatan di dunia yang perlahan membeku.
Rangka humanoid yang rusak parah itu kini hanya menyisakan bagian atas tubuhnya. Salah satu lengan logamnya hampir terlepas, torso hangusnya memperlihatkan kabel-kabel yang terbakar, sementara kepalanya dengan mata bionik hijau zamrud yang mulai meredup bergetar lemah diterpa badai.
"Kaivan... bertahanlah... tolong..." Suaranya pecah di tengah badai salju. Suara itu tak lagi terdengar seperti mesin. Kini ia bergetar oleh ketakutan dan keputusasaan. Dengan satu-satunya lengan yang tersisa, ia mencengkeram kain pakaian Kaivan yang robek. Tubuh logamnya terasa sangat dingin, tetapi ia memaksa sistem pemanasnya tetap bekerja sambil merapatkan dirinya pada tubuh Kaivan.
Salju turun semakin deras, membungkus mereka seperti kain kafan putih. Dunia menghilang ke dalam hamparan putih yang tak berujung. Namun Lyra terus menyalurkan kehangatan, meski tidak efisien, meski tidak stabil. Sebuah tindakan yang lahir dari sesuatu yang bahkan tidak mampu ia pahami.
"Aku... harus hidup... aku harus...melihat esok" bisik Kaivan lemah, seperti napas terakhir sebelum lenyap.
Lyra membeku.
Ia menatap wajah Kaivan yang pucat. Mata kanannya telah hilang, tetapi mata kirinya perlahan terbuka. Dengan sisa kekuatan yang masih ia miliki, Kaivan mengangkat tangannya yang gemetar lalu menyentuh kerangka wajah Lyra.
"Mata hijaumu... indah..."
Kata-kata itu membelah keheningan.
Seluruh sistem Lyra bergetar.
"Eh...? Indah? Aku... hanya rangka logam, tidak memiliki jenis kelamin, dan mataku dibuat untuk mendeteksi panas musuh, bukan untuk terlihat... menarik..."
Namun suara Kaivan kembali terdengar, lemah dan terputus-putus.
"Aku... ingin... tetap bersama... denganmu... Lyra... sampai... akhir..."
Dunia seolah berhenti berputar.
Kata-kata itu menembus inti logika Lyra. Tidak ada strategi. Tidak ada perhitungan. Hanya sebuah keinginan sederhana, untuk tetap bersama.
"Sampai akhir apa, hah?! Bodoh! Kenapa kau melakukan semua ini tanpa memikirkan dirimu sendiri?!" teriak Lyra. Suaranya bergetar seperti kaca yang retak. "Aku... aku tidak bisa kehilanganmu! Kau tidak boleh mati!"
Ia memeluk Kaivan lebih erat. Tubuh logamnya menempel pada tubuh rapuh itu.
"Tetaplah hidup... tolong... aku sudah tidak mengerti apa pun lagi. Kenapa aku merasa... begitu takut?"
Waktu berjalan semakin lambat.
Salju menumpuk di atas mereka, membentuk gundukan putih kecil. Dalam keheningan yang membeku itu, hanya ada dua hal yang tersisa. Napas Kaivan yang semakin melemah dan detak mekanis Lyra yang semakin tidak stabil.
Lalu, seperti harapan yang turun dari langit, raungan mesin memecah badai.
Kendaraan-kendaraan berat bergemuruh di kejauhan. Lampu sorot putih yang menyilaukan menembus kabut dan salju, menerangi dua sosok yang hampir terkubur sepenuhnya.
Sebuah helikopter militer mendarat tidak jauh dari sana, menghamburkan salju ke segala arah hingga menciptakan badai kecil. Beberapa kendaraan salju menaiki lereng es, rantainya mencengkeram tanah beku dengan kuat. Dari helikopter itu, Levan, seorang pria tinggi dengan mantel hitam berlapis bulu, melompat turun.
Wajahnya yang biasanya kaku mendadak berubah. Kedua matanya membelalak.
"Kaivan... dia masih hidup?" gumamnya tak percaya.
