Cherreads

Chapter 209 - Kalian Tak Pernah Benar-Benar Tak Bersalah

Cahaya redup dari lampu kristal di ruang VIP memantul samar di lantai marmer hitam yang mengilap. Aroma antiseptik bercampur dengan bau kopi lama, menciptakan perpaduan aneh antara steril dan nostalgia. Di tengah ruangan, Kaivan duduk tegak di atas ranjang rumah sakit. Posturnya kaku, namun kelelahan melekat di setiap napasnya. Tatapannya tetap tertuju pada pria berpakaian rapi yang duduk di seberang meja bundar di bawah sorotan lampu.

Pria itu mengamati Kaivan dengan mata tenang dan terukur, lembut di permukaan namun penuh perhitungan di baliknya. Senyum tipisnya tidak menyimpan kehangatan. Sebaliknya, itu terasa seperti senyum seseorang yang sudah mengetahui akhir dari semuanya.

"Kami ingin melakukan penelitian terhadapmu," katanya dengan nada lembut, namun terasa seberat takdir itu sendiri. "Tentang pengguna Tome Omnicent. Kau juga bisa lolos dari semua tuduhanmu. Bagaimana menurutmu?"

Kaivan tetap diam. Tatapannya menelusuri ekspresi pria itu seolah mencoba mengupas lapisan tersembunyi di balik wajahnya. Tangannya mengepal di atas paha. Ia tahu tawaran seperti ini selalu datang bersama rantai.

"Baik," jawabnya akhirnya. Suaranya tenang namun tajam. "Tapi aku ingin kakakku ikut bersamaku. Dia butuh perawatan. Dia harus bangun dari komanya. Bisa kau lakukan itu?"

Pria itu menyilangkan kaki dan mengetuk lututnya pelan. "Cuma itu? Aku bahkan bisa membawa semua 'bawahanmu' di luar sana ikut bersamamu, kalau kau mau."

Kaivan mengernyit. "Bawahan?"

Pria itu mencondongkan tubuh ke depan. Senyumnya melebar, namun tetap kosong tanpa rasa hangat. "Maksudku orang-orang yang mengikuti perintahmu. Contohnya saat kau menyuruh anak itu memukuli pencopet."

Kaivan membeku. Ingatan melintas di kepalanya seperti debu yang tersapu angin tiba-tiba. "Ah... maksudmu Radit," bisiknya. Lalu napasnya tertahan. "Tunggu. Apa yang Radit lakukan? Kenapa mereka semua ada di sini sekarang?"

Pria itu bersandar santai di kursinya. Suaranya tenang namun tidak bisa dibantah. "Karena mereka mempercayaimu. Sadar atau tidak, kau sudah menjadi pemimpin mereka. Keputusanmu, pengaruh tome itu, semuanya menarik perhatian kami. Apa pun yang kau lakukan memengaruhi orang-orang di sekitarmu."

Ruangan itu terasa menyempit di sekelilingnya. Napas Kaivan tercekat. Suara detik jam terdengar semakin keras, berdetak di dalam tengkoraknya.

"Aku tidak pernah meminta mereka membantuku," bisiknya.

"Tapi mereka tetap melakukannya," jawab pria itu dengan nada lembut namun menyesakkan. "Dan itulah alasan aku ada di sini. Kau spesial, Kaivan. Kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Karena itulah aku ingin membantumu keluar dari situasi ini..."

Keheningan turun di antara mereka. Napas Kaivan terdengar seperti jeritan yang terperangkap di balik pintu tertutup. Dari luar, suara langkah kaki mendekat. Di balik kaca buram, siluet Felicia dan yang lainnya terlihat menunggu jawaban.

Kaivan duduk membeku seperti boneka yang talinya dipotong, sementara kata-kata terakhir pria itu menggantung seperti jebakan yang perlahan mengencang.

Koridor rumah sakit berubah menjadi medan penuh ketegangan. Lampu neon dingin melempar bayangan tajam pada lima sosok yang berdiri berjajar rapat. Radit berdiri di tengah dengan mata menyipit tajam. Di sebelah kanannya, Ethan menyilangkan tangan dengan santai, namun tatapannya tetap waspada. Raphael berdiri tegak dan kokoh, kehadirannya terasa berat seperti pedang terhunus yang siap menebas kapan saja. Thivi bersandar di dinding dengan seringai jahil di bibirnya, meski matanya tetap awas. Di ujung barisan, Felicia berdiri anggun dan tenang, meski kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

Pintu kamar Kaivan terbuka.

Seorang pria tinggi melangkah keluar.

Setelan hitam elegan membungkus tubuh atletisnya. Rahangnya yang tegas dan sorot matanya yang tajam memancarkan kepercayaan diri yang begitu kuat hingga menguasai koridor tanpa usaha. Langkahnya mantap, tidak tergesa, namun penuh wibawa, seolah udara di sekitarnya adalah miliknya.

Radit maju selangkah, menghalangi jalannya dengan posisi tegas. Ia sedikit mengangkat tangan, memberi isyarat tanpa kata agar pria itu berhenti.

"Maaf," ujar Radit dengan suara rendah namun mantap. "Tapi kenapa Anda ada di sini sekarang?"

Pria itu berhenti di tengah koridor. Senyum tipis dan dingin muncul di bibirnya.

"Ah. Radit, bukan?" jawabnya santai seolah sedang menyapa teman lama. "Aku di sini karena ingin berbicara dengan kalian semua. Tentang Kaivan. Bagaimana kalau kita bicara di luar?"

Kelima orang itu saling bertukar tatapan penuh curiga. Kecurigaan membuat udara malam terasa semakin berat. Setelah beberapa detik panjang yang menyesakkan, mereka akhirnya mengikuti pria itu keluar dari rumah sakit.

Angin malam menyapu halaman kosong, meninggalkan hawa dingin di udara. Aroma antiseptik samar bercampur dengan bau tanah basah setelah hujan. Lampu jalan membentuk lingkar cahaya keemasan di atas kepala mereka, memanjangkan bayangan di tanah seperti tangan-tangan hantu yang siap mencengkeram.

Di tengah halaman berdiri seorang pria berjaket gelap. Tubuh tingginya menyatu dengan malam, separuh wajahnya tersembunyi di balik kerah tinggi dan rambut yang berantakan. Namun matanya bersinar tajam di bawah cahaya lampu. Namanya Levan, nama baru malam itu, namun kehadirannya terasa seperti bayangan yang sejak lama mengintai di balik tabir kenyataan.

Sembilan sosok membentuk lingkaran longgar di sekelilingnya, bukan karena kebersamaan, melainkan karena curiga. Radit berdiri miring dengan satu tangan di saku dan ekspresi mengejek. Ethan tampak santai, namun tatapannya setajam elang yang tidak melewatkan apa pun. Raphael menyilangkan tangan tanpa bergerak, penjaga sunyi yang seolah mampu memotong setiap kebohongan. Thivi berdiri tegang, sementara Felicia memainkan ujung rambutnya dengan gugup sambil melipat tangan di dada.

Di belakang mereka, empat orang lainnya menahan napas. Frans dengan mata kosong. Livia gemetar sambil memeluk dirinya sendiri. Isabel membeku dalam kebingungan. Zinnia berdiri kaku seperti porselen retak, marah namun juga ketakutan.

Levan menarik napas panjang. Suaranya bergema seperti petir jauh yang perlahan mendekat.

"Izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Levan," katanya, dan setiap kata terasa menggores ruang di dada mereka. "Aku memiliki darah Tiongkok dan Georgia." Kalimat itu terdengar aneh, namun justru membuat misterinya semakin dalam, seolah menyiratkan kisah gelap di balik dirinya.

Tatapannya menajam. "Dan kalian semua... sudah masuk dalam daftar buronan karena kasus masa lalu kalian."

Waktu terasa berhenti. Tak ada angin, hanya suara jantung yang berdetak keras.

Radit mengernyit. Tinju Raphael menegang. Thivi membeku. Zinnia melangkah maju dengan tubuh gemetar, namun matanya menyala seperti hewan terluka yang menolak tunduk.

"Maksudmu apa?" bentaknya. "Aku tidak pernah melakukan hal buruk! Aku anak baik-baik!"

Levan menatapnya tanpa berkedip. Tatapannya tajam seperti bilah pisau. "Kau pernah menembak seseorang." Nadanya datar seperti vonis algojo. Zinnia terdiam. Bahunya sempat terangkat lalu jatuh lemas. Ia tidak bisa menyangkalnya. Semua mata kini tertuju padanya, diam menunggu napas berikutnya.

Levan melanjutkan tanpa jeda.

"Raphael. Aksi terorisme. Pembunuhan."

Raphael sedikit mengangkat kepalanya, membalas tatapan Levan dengan mata tenang tanpa rasa gentar. Ia tidak mengatakan apa pun. Ia menerima tuduhan itu seperti bayangan yang tidak akan pernah bisa lepas darinya, bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.

"Felicia. Kau membunuh seseorang menggunakan benda tumpul."

Felicia tidak bergerak. Hanya matanya yang semakin gelap. Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah sementara tinjunya mengepal hingga kukunya hampir melukai kulitnya sendiri.

"Ethan. Pencurian dan keributan di tempat umum."

Ethan mengeluarkan seringai miring, lebih seperti refleks daripada keberanian. Kakinya sedikit bergeser mencari keseimbangan. Bibirnya sempat terbuka sebelum akhirnya tertutup lagi.

Lalu Levan menatap empat orang berikutnya.

"Frans. Livia. Isabel. Thivi. Kalian terlibat dalam perdagangan emas ilegal dan pembongkaran limbah elektronik tanpa izin."

Kata-katanya jatuh seperti pecahan kaca yang menembus dada mereka. Udara terasa semakin sesak. Frans mengusap wajahnya seolah ingin menghapus kenyataan. Livia gemetar hebat dengan bibir bergetar. Isabel membeku dengan tatapan kosong. Thivi memaksakan senyum, namun senyum itu terlihat seperti luka yang terbuka kembali.

Suara Levan berubah semakin dingin. "Dan itu belum semuanya."

Semua mata tertuju padanya, menunggu pukulan terakhir.

"Vella tidak akan tinggal diam. Dia bagian penting dari pemerintahan. Jika dia menganggap kalian ancaman, dia akan menghancurkan kalian tanpa ragu."

Nama itu menggema di udara, Vella. Sosok yang terasa lebih seperti monster daripada manusia, bayangan hidup yang disebut dengan ketakutan.

Raphael menjadi orang pertama yang bicara. Suaranya rendah dan tajam seperti pisau tersembunyi.

"Maksudmu wanita yang membunuh orang tua Kaivan?"

More Chapters