Klik.
Keheningan menyusul.
Radit, yang sebelumnya bersandar santai di sofa, berdiri. "Zinnia benar. Fokus. Malam ini, kita membawa Kaivan keluar dari rumah sakit."
Keputusan itu menggema di seluruh ruangan seperti lonceng perang. Semua orang langsung bergerak, jantung mereka berpacu bersama detik waktu yang terus berjalan.
Lampu jalan memantulkan cahaya pucat di dinding suram rumah sakit. Ambulans yang terparkir tampak seperti cangkang kosong, sementara suasananya terasa tidak alami, terlalu tenang, seolah menyembunyikan sesuatu di bawah permukaan. Dua mobil berhenti di dekat pintu masuk IGD. Setiap anggota mengambil posisi dengan ketepatan yang sudah terlatih.
Felicia dan Thivi berjalan menuju pintu utama, langkah mereka stabil dan tak mencolok. Raphael dan Ethan mengawasi dari kejauhan melalui alat komunikasi mereka.
Begitu masuk ke dalam, Felicia menggunakan peta rumah sakit yang tersimpan di ponselnya. Ia melirik monitor resepsionis, lalu berbisik, "Dia ada di ruang VIP paling ujung." Pesan itu langsung ia kirim pada Raphael.
Di luar, Raphael, Ethan, dan Radit menyusuri koridor samping menuju tangga darurat. Radit membawa tas kecil berisi alat pembuka kunci, sementara Raphael memimpin dengan tatapan tajam dan langkah terukur.
Suara cemas Livia terdengar pecah melalui komunikator dari dalam mobil. "Hati-hati… ada orang lain menuju sayap VIP. Dia turun dari mobil hitam, pakai jas." Napasnya bergetar, tapi kata-katanya tetap fokus.
Lorong VIP menjulang sunyi dan menegangkan. Aroma disinfektan bercampur dengan udara dingin dari AC tua, menciptakan suasana steril sekaligus membuat gelisah. Cahaya neon pucat memantul di lantai mengilap, memanjangkan bayangan hingga jauh ke koridor. Dua polisi berjaga di depan salah satu ruangan, tubuh mereka tegak, mata mereka mengawasi dengan kewaspadaan tajam.
Dari balik sudut lorong, tiga sosok berjongkok rendah. Radit mengintip lebih dulu, melihat sekilas sebelum menarik diri sambil menahan napas.
Radit mengumpat pelan dengan suara serak. Suaranya nyaris pecah, bukan hanya karena berhati-hati, tetapi juga tekanan yang melilit di dadanya. "Sial… ada dua polisi tepat di depan pintu itu."
Ethan berdiri di belakangnya, rahangnya menegang, ketegangan tergambar jelas di wajahnya. Ia bersandar di dinding dan memijat pangkal hidungnya, seolah mencoba menenangkan badai dalam pikirannya. Suaranya terdengar rendah, tertahan, namun penuh kegelisahan. "Mereka tahu Kaivan penting. Ini bukan penjagaan biasa."
Raphael tidak berkata apa-apa. Ia tetap diam sepenuhnya, matanya setajam bilah pisau saat mengamati setiap sudut koridor. Jemarinya mengetuk ringan sarung senjata di pinggangnya, ritme lembut yang seolah mengikuti perhitungan cepat di kepalanya. Ia menyerap setiap detail: sudut CCTV, jarak ke para polisi, bahkan kedipan lampu di atas yang tidak stabil. Urat di lehernya berdenyut samar, menandakan fokusnya yang mutlak.
Langkah kaki menggema dari arah lain. Ketiganya langsung bereaksi. Ethan menyelipkan alat pembuka kunci lebih dalam ke jaketnya. Radit duduk di kursi ruang tunggu, berpura-pura menjadi keluarga pasien yang kelelahan. Raphael menurunkan hoodie-nya hingga menutupi sebagian wajah, lalu duduk santai di samping Radit dengan gerakan alami yang terasa sudah sangat terbiasa.
Seorang pria asing muncul dari ujung lorong. Langkahnya mantap dan disengaja, meninggalkan gema samar yang membawa hawa tidak nyaman ke koridor tegang itu.
Raphael bergumam pelan, nyaris tak terdengar. "Siapa dia?"
Ethan menjawab sama pelannya tanpa menoleh. "Dia menyerahkan sesuatu ke mereka… mungkin kartu identitas."
Mereka mengawasi dari kejauhan. Para polisi memeriksa kartu pria itu, saling bertukar pandang singkat, lalu mempersilahkannya masuk. Pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Keheningan kembali turun, berat dan membuat resah.
Radit mengertakkan gigi. "Aku kenal wajah itu… tapi kenapa dia ada di sini?"
Di dalam ruangan, Kaivan duduk di ranjang rumah sakit dengan tubuh merosot lemah. Borgol baja dingin mengikat pergelangan kakinya ke rangka tempat tidur. Tangannya bebas, namun terkulai tak bertenaga. Matanya kosong, seperti seseorang yang telah kehilangan segalanya.
Pintu terbuka perlahan dengan bunyi decit samar, seperti ratapan kecil. Seorang pria berjas gelap masuk, bergerak tenang dan presisi sebelum menutup pintu tanpa suara. Tatapannya tajam, dalam, dan sulit dibaca saat ia mendekati Kaivan dengan ketenangan seekor predator yang sedang menilai mangsanya.
Kaivan mengangkat kepala. Cahaya pucat rumah sakit memantul di wajahnya yang lelah, matanya yang kosong, dan memar di pipi kirinya.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" suara pria itu rendah dan berat, seperti batu yang bergulir di tanah. Tak ada kehangatan di nadanya, hanya penilaian yang menyamar sebagai kepedulian.
Kaivan mengembuskan napas pelan, sudut bibirnya terangkat menjadi senyum lelah. "Buruk. Tapi menarik juga, bertemu orang asing yang tampaknya lebih bersemangat menggangguku daripada menolongku."
Senyum samar muncul di bibir pria itu saat ia duduk di samping ranjang. Tangannya masuk santai ke saku jasnya. "Aku bisa mengeluarkanmu dari tempat ini," katanya tenang. "Tapi kau harus meninggalkan negara ini."
Kaivan menoleh perlahan, matanya menyipit penuh curiga. "Kenapa? Kenapa orang sepertimu peduli pada orang sepertiku?"
Koridor rumah sakit tetap sunyi dengan cara yang aneh. Hanya suara detak jam dinding dan dengung rendah ventilasi yang samar terdengar di atas mereka. Cahaya neon pucat memanjangkan bayangan di lantai abu-abu mengilap, memantulkan wajah-wajah penuh kecemasan dan kebenaran yang tak terucap.
Felicia berjalan cepat, langkahnya mengetuk tajam di atas ubin. Setiap langkah membawa beban badai yang ia coba kubur. Matanya, yang masih sedikit memerah, berkilau oleh tekad membara. Pintu otomatis terbuka di depannya, dan pandangannya langsung tertuju pada kelompok yang menunggu di sana.
Radit duduk di bangku logam panjang dengan tubuh condong ke depan, kedua tangannya saling menggenggam erat, seolah sedang bersiap menerima hantaman dari masa lalu. Raphael berdiri bersandar di dinding dengan tangan menyilang, tenang dan waspada seperti singa tua yang menunggu aba-aba. Ethan berdiri sedikit jauh sambil mengunyah permen karet dengan wajah bosan, meski matanya yang tajam terus mengamati setiap sudut koridor.
Thivi berdiri di belakang Felicia. Meski wajahnya menunjukkan rasa kesal, matanya menyimpan penahanan diri yang lebih dalam, sesuatu yang terus ia paksa untuk ditahan. Ia sempat menunduk sebentar sebelum melirik Felicia yang sudah melangkah maju.
Felicia menghampiri Radit tanpa membuang satu detik pun. Posturnya tegak, kehadirannya menekan udara di sekitar mereka. Suaranya membelah koridor seperti bilah logam yang diseret di atas kulit.
"Kenapa kalian belum menyelamatkan Kaivan?" tuntutnya. Suaranya menggema tajam dan berat.
Radit tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada ruang VIP di ujung koridor. Pandangannya kosong, tubuhnya kaku, namun tidak bergerak.
Felicia melangkah lebih dekat, wajah mereka tinggal beberapa inci. "Hei. Aku sedang bicara denganmu."
Masih tidak ada jawaban.
Lalu, dengan suara begitu pelan hingga nyaris tenggelam dalam dengung lampu rumah sakit, ia berbisik, "Pertemuan pertamaku dengan Kaivan… malam itu…"
Keheningan jatuh seperti tirai. Raphael meliriknya sambil mengernyit. "Apa maksudmu?"
Perlahan, Radit mengangkat kepala. Matanya tertutup bayangan, namun lembut, membawa beban kenangan yang terukir dalam dirinya.
"Pertemuan pertamaku dengan Kaivan terjadi saat aku mencoba mencuri."
Senyum samar dan menyakitkan muncul di bibirnya, senyum seorang prajurit yang mengingat malam ketika dirinya diselamatkan.
"Setelah Kaivan menghentikanku, dia menyuruhku mengejar pencopet lain. Aku menangkapnya, memukulinya, mengambil koper itu, lalu mengembalikannya pada pemiliknya. Malam itu mengubah hidupku."
Ia menarik napas gemetar.
"Pria itu menolongku. Dia membayar biaya sekolahku. Dia bilang aku orang baik dan harus meninggalkan jalan gelap itu. Namanya Levan."
Koridor terasa membeku. Bahkan detak jam pun terasa berat.
Ethan menggaruk kepalanya, bingung namun tetap waspada. "Jadi pria di dalam itu… orang yang sama?"
Radit mengangguk perlahan. "Iya."
Felicia menyilangkan tangan, matanya terpaku pada ruang VIP dengan badai amarah, keraguan, dan ketakutan yang berputar dalam dirinya. Rasa frustrasinya berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, kecurigaan naluriah yang bahkan belum bisa ia jelaskan.
"Itu justru membuatku semakin penasaran…" gumamnya pelan, seperti bisikan yang bisa membunuh. "Sebenarnya apa yang dia inginkan dari Kaivan?"
