Cherreads

Chapter 210 - Semua Orang Menandatangani

Levan menoleh sedikit. Jawabannya terdengar tenang, namun membawa dingin yang memotong seluruh ruangan. "Iya. Seseorang yang memang tidak seharusnya kalian hadapi. Jika dia ingin kalian lenyap, tidak ada yang bisa menghentikannya."

Livia akhirnya menemukan suaranya, meski bergetar menahan air mata yang nyaris pecah. "Ini tidak adil... Kak Kaivan orang baik... dia bukan orang jahat. Iya, kan?"

Ia menatap sekeliling, mencari seseorang yang mau membenarkannya. Namun tak ada yang menjawab. Mereka semua tenggelam dalam kesadaran bahwa dunia mereka baru saja runtuh.

Levan mengeluarkan ponselnya, menyalakan layar, lalu memutar sebuah video. Gerakannya tenang, seolah ia sudah mempersiapkan momen ini sejak lama.

"Lihat ini."

Di layar, Vella sedang diwawancarai.

"...orang yang mencoba meledakkanku tidak bertindak sendirian. Dia punya rekan, empat pria dan lima wanita..."

Levan menurunkan ponselnya. Tatapannya menyapu mereka satu per satu. "Dan orang-orang yang dimaksud Vella... adalah kalian. Bahkan rencana menculik Kaivan malam ini saja sudah melewati batas kewarasan. Ini bukan lagi kenakalan remaja. Kalian adalah kriminal."

Felicia akhirnya bicara, suaranya pelan namun tegas. "Pria itu... benar. Vella memang melihat kita saat Kaivan dibawa ke ambulans."

Keheningan kembali turun di antara mereka. Kata-kata Felicia menggema seperti vonis yang dijatuhkan. Tak ada yang berani saling menatap. Mereka hanya bisa memandang ke dalam diri masing-masing, mencari jawaban, alasan, atau sisa harapan yang perlahan menghilang.

Di luar rumah sakit, malam tetap diam. Di bawah selubung gelap, Levan berdiri di tengah lingkaran mereka sambil menjelaskan rencananya. Setiap katanya jelas dan tegas, tanpa memberi ruang untuk keraguan. Rencananya sederhana secara konsep, namun sangat berbahaya: mereka akan membawa Kaivan keluar dari tahanan hukum dan melarikan diri dari negara ini.

"Kalau kita gagal, semuanya selesai untuk kita," kata Levan sambil mengamati wajah-wajah cemas di depannya. "Tapi kalau kita berhasil, ini akan menjadi langkah pertama untuk membebaskan semua orang, termasuk Kaivan."

Keesokan paginya, embun masih menempel di ujung daun di taman rumah Radit. Matahari belum terbit sepenuhnya, dan kabut tipis menyelimuti kota. Sebuah mobil hitam elegan berhenti di depan rumah kecil yang rapi itu. Seorang pria keluar mengenakan jas gelap, rambut tersisir rapi, senyum tenang menghiasi bibirnya. Namun matanya tidak menyimpan kehangatan sedikit pun.

Levan mengetuk pintu, tiga ketukan lembut dan terukur. Seorang wanita dengan celemek membukakan pintu, matanya menyipit penuh curiga.

"Permisi, apa Ibu masih ingat saya?" suara Levan terdengar lembut, hampir seperti hipnosis.

Wanita itu mengangguk ragu. "Iya, ada apa? Anak saya bikin masalah lagi?"

Levan tersenyum hangat, namun kosong. "Saya membawa kabar baik. Radit adalah murid yang luar biasa. Dia terpilih untuk mengikuti program pertukaran internasional di Eropa selama tiga tahun."

Wanita itu terkejut, matanya membesar. "A... anak saya sehebat itu?"

Di belakang Ibunya, Radit berdiri kaku. Tatapannya pada ibunya dipenuhi rasa sakit dan kepasrahan.

Levan mengulurkan tangan dengan gerakan elegan. "Sebagai dukungan, Radit akan menerima uang saku lima puluh juta rupiah setiap bulan. Ibu juga akan menerima setengah dari jumlah itu. Ibu hanya perlu mengisi dan menandatangani formulir ini."

Ia membuka map kulit hitam, memperlihatkan dokumen dengan cap resmi. Gerakannya anggun dan presisi, seperti pemain biola yang menggerakkan busurnya.

Dengan tangan gemetar, wanita itu menandatangani dokumen tersebut. Tinta mengalir mulus, mengikat sebuah kesepakatan yang bahkan tidak benar-benar ia pahami.

Saat mereka pergi, Radit berjalan di samping Levan. Angin pagi yang dingin menyapu rambutnya.

"Kau benar-benar akan mengirim uang untuk keluargaku... kan?" tanyanya pelan tanpa menoleh.

Levan menjawab tanpa memalingkan wajah. "Tentu saja. Itu bagian dari janji yang dibuat Kaivan."

Ia tidak memberi penjelasan lebih lanjut, dan Radit tidak bertanya lagi.

Siklus itu terus berlanjut. Rumah demi rumah. Senyum demi kebohongan yang disusun dengan sempurna. Frans, Zinnia, Isabel, Ethan, Livia, Raphael, Thivi, Felicia, para orang tua mereka menyambut Levan dengan kepercayaan murni yang terasa menyakitkan. Levan memainkan perannya tanpa cela. Suaranya memiliki kehangatan tanpa retakan, gerak tubuhnya mengalir tanpa sedikit pun keraguan.

Semua orang tua menandatangani dokumen itu. Mereka tersenyum bangga pada anak-anak mereka. Mereka percaya pada mimpi indah yang dijual Levan.

Namun di balik senyum para anak itu, tersembunyi luka yang mereka sembunyikan. Mereka tahu, saat tanda tangan itu dituliskan, jalan pulang mereka telah menghilang. Di balik program pertukaran yang disebut-sebut itu, hanya ada satu tujuan: melarikan diri dari negara ini.

Malam kembali turun. Levan duduk sendirian di dalam mobilnya sambil menatap daftar tanda tangan yang kini telah lengkap. Ia menutup map itu perlahan, lalu mengembuskan napas panjang dan sunyi.

"Satu langkah lagi. Tinggal satu lagi... semoga mereka berhasil melakukannya."

Di luar, bulan menggantung rendah. Cahayanya yang redup menyentuh jendela mobil, membentuk siluet samar ekspresi Levan. Dalam dinginnya malam, hanya suara detak jam yang terdengar, pelan dan sabar, seolah waktu sendiri sedang menahan napas menunggu apa yang akan terjadi.

Awan menggantung berat di atas kota, seakan ikut berkabung atas pengadilan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Hari penghakiman Kaivan telah tiba. Sirene meraung di kejauhan, menelan jalanan dalam keheningan yang gelisah. Sebuah kendaraan polisi lapis baja bergerak perlahan, dikawal dua mobil di depan dan satu di belakang. Di dalamnya, Kaivan duduk terikat erat, mulutnya disumpal kain. Matanya yang tersembunyi di balik rambut berantakan membawa kehancuran yang sulit dijelaskan: rasa penasaran, ketakutan, dan kepasrahan yang sunyi.

Di seluruh kota, orang-orang menyaksikan lewat jendela atau layar televisi. Rasa penasaran dan ketidakpercayaan memenuhi pikiran mereka. Siapa sebenarnya Kaivan? Penjahat, atau korban? Seorang anak laki-laki yang menantang sistem, atau kambing hitam yang dikorbankan demi kepentingan orang lain? Tak ada yang tahu. Namun hari itu, semua orang merasakannya: sesuatu yang besar sedang bergerak, sesuatu yang bisa menelan banyak nyawa.

Jauh dari pusat kota, di dekat jalur Jatiluhur menuju Purwakarta, Levan duduk di dalam truk boks. Jemarinya mengetuk setir dengan ritme sabar. Wajahnya tampak samar di balik kaca, namun senyumnya yang dingin dan kosong terlihat jelas. Ia tidak cemas. Ia sedang menunggu.

"Tanpa Kaivan," gumamnya dengan suara seperti desisan ular, "siapa yang akan memberi perintah, ya?"

Di jalan tol yang sibuk, misi pengalihan mulai dijalankan. Raphael berdiri di samping mobil tua dengan kap terbuka sambil memberi instruksi pada Frans.

"Baik, Frans," katanya tenang namun tegas. "Tabrakkan mobilmu ke pembatas jalan. Buat terlihat seperti remnya blong. Setelah itu, lari ke gerbang tol. Kita cuma punya satu kesempatan."

Frans mengangguk, ketegangan mengeras di rahangnya. Ia masuk ke mobil biru kusam itu lalu menekan pedal gas menggunakan batu bata. Suara benturan keras merobek udara saat mobil menghantam tiang lampu, memuntahkan percikan api dan potongan logam ke mana-mana. Kepanikan langsung menyebar. Orang-orang berlari, beberapa merekam kejadian itu, sementara yang lain berteriak meminta bantuan.

Pengemudi kendaraan polisi yang membawa Kaivan memperlambat laju, lalu membelok tajam memilih jalur alternatif menuju pintu keluar Jatiluhur. Jalan itu membelah hutan kecil, dikelilingi pohon-pohon tua dan bangkai kendaraan terbengkalai di pinggir jalan yang diam tak bergerak, seolah menunggu babak berikutnya dari rencana yang sudah disusun.

Tiba-tiba, suara gergaji mesin meraung dari balik semak-semak. Dalam hitungan detik, sebuah pohon besar tumbang melintang di jalan, menutup seluruh jalur ke depan maupun belakang.

"BERHENTI!" teriak salah satu polisi dengan mata membelalak saat memahami situasinya. Ia mengangkat radio untuk memanggil bantuan, namun sinyal mereka sudah terganggu. Komunikasi mereka dijamming.

Di tempat lain, Raphael mengawasi lewat teropong kecil lalu memberi isyarat. "Radit, potongannya sempurna. Felicia, Ethan, kunci kendaraan itu. Sekarang!"

Radit menyeringai sambil menjatuhkan gergaji mesin ke tanah. "Wuhuu... aku benar-benar merasa seperti teroris sekarang..."

Felicia dan Ethan melompat keluar dari balik semak-semak. Felicia mengeluarkan alat las portabel dari tasnya, sementara Ethan menutup sisi kendaraan yang berlawanan. Percikan api dan suara logam meleleh memenuhi udara saat mereka mengelas pintu kendaraan dari luar, diperkuat dengan rangka baja di balik jendela, menjebak semua orang di dalam.

Dari kejauhan, Levan mengawasi semuanya lewat teropong kecil. Senyum samar muncul di bibirnya. "Ah, Raphael… mantan teroris. Kau memang sangat terlatih. Baiklah, aku akan membantu mereka. Mereka masih amatir, bagaimanapun juga."

Di dalam kendaraan, kepanikan mulai menyebar di antara para polisi. Salah satu dari mereka menghantam jendela dengan gagang senapannya, namun meski kaca mulai retak, rangka baja yang dilas di belakangnya tetap menahan mereka. Keringat menetes di pelipisnya, dan ruang sempit itu terasa semakin sesak.

Tiba-tiba, pintu belakang kendaraan terbuka dengan bunyi klik pelan. Levan berdiri di sana, tinggi dan tenang, alat pembuka kunci otomatis berkilau di tangannya. Polisi di bagian belakang langsung mengangkat M14 miliknya, namun Levan bergerak lebih cepat. Ia menempelkan alat kejut listrik ke leher pria itu. Sengatan keras menjalar di tubuh penjaga tersebut sebelum akhirnya ia roboh tak sadarkan diri.

More Chapters