Cherreads

Chapter 211 - Maafkan Aku. Inilah Jalannya

Kaivan tidak bergerak. Napasnya berat dan dalam, sementara matanya kosong di balik rambut yang kusut. Levan terdiam sejenak sambil menatapnya. "Gamarjoba, Kaivan," bisiknya pelan. Lalu, dengan gerakan cepat, ia memotong tali yang mengikat Kaivan menggunakan pisau lipat kecil yang tajam.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kaivan segera dimasukkan ke dalam peti kayu besar yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ethan dan Radit berlari mendekat, membantu Raphael mengangkat peti itu ke atas troli. Mereka berlari menembus hutan yang menjadi labirin alami mereka, sementara teriakan para petugas perlahan memudar di kejauhan.

Felicia tetap berada di dekat kendaraan polisi. Ketika seorang petugas berhasil keluar setengah badan melalui celah atap kendaraan, ia tidak ragu sedikit pun. Felicia meraih batu dari tanah lalu melemparkannya sekuat tenaga. Suara retakan mengerikan menggema. Tubuh petugas itu langsung jatuh tanpa suara.

Levan masuk ke dalam truk boks dan menggenggam kemudi, matanya tertuju pada jalan sempit penuh bayangan di depan. Dengan manuver halus, ia menghindari jalur utama lalu bergerak menjemput anggota tim lainnya, Isabel, Thivi, Frans, Zinnia, dan Livia, yang sudah menunggu di titik pertemuan kedua.

Paku-paku yang disebarkan di jalan sebelumnya menghancurkan ban kendaraan polisi yang mengejar mereka, memaksa semuanya berhenti. Di dalam truk boks yang kini melaju bebas, ketegangan sedikit mengendur, meski rasa takut yang menggantung di udara masih belum mau pergi.

Radit duduk sambil memeluk lututnya, bersandar pada dinding logam. Senyum lebar terbentang di wajahnya, bukan karena bahagia, melainkan kegilaan liar yang muncul dari dalam dirinya.

Zinnia duduk sambil memeluk lututnya, tubuhnya gemetar. "Ini… gila," bisiknya. Napasnya tidak beraturan, keringat dingin berkumpul di pelipisnya. Namun ia tetap bertahan. Ia sudah memilih jalan ini, meninggalkan kehidupan normal demi masa depan yang bahkan belum ia pahami.

Isabel menggigit bibir bawahnya, tubuhnya masih bergetar. Frans yang diam di sudut hanya menatap lurus ke depan, wajahnya kosong seperti patung yang kehilangan jiwa. Livia menutup telinganya, berusaha meredam suara mesin dan detak jantungnya sendiri yang dipenuhi ketakutan. Ia terlalu muda untuk semua ini, namun sudah terlalu jauh untuk kembali.

Cahaya senja menyelinap melalui celah kecil di dinding logam, memantul samar di permukaan baja dingin yang berbau oli. Guncangan jalan yang tidak rata membuat ruangan itu bergoyang pelan, memperdalam suasana berat di dalamnya.

Thivi berdiri di dekat bagian depan, tubuhnya sedikit condong ke depan. Jaketnya terbuka, memperlihatkan kaus ketat yang ternoda debu dan darah kering. Rambut pendeknya berantakan, garis tipis keringat mengalir di pelipisnya saat ia melirik peti logam besar di sudut ruangan. Mata birunya memantulkan keraguan yang lama terpendam, seolah ia sedang menimbang apakah keselamatan mereka benar-benar berada di dalam sana.

"Haruskah kita… membuka petinya?" tanyanya pelan. Suaranya lembut, namun cukup membuat semua orang menoleh ke arahnya. Ada getaran kecil dalam nadanya, bukan hanya karena lelah, tetapi juga ketakutan yang belum mampu ia beri nama. Tatapannya yang tajam tampak redup, dipenuhi emosi yang selama ini ia tahan.

Keheningan turun di antara mereka, seperti napas yang tertahan sebelum badai datang.

Thivi melangkah maju. Dengan tangan gemetar yang ia paksa tetap tenang, ia menekan tombol pengaman pada peti itu. Dengungan rendah terdengar, diikuti bunyi klik mekanis. Tutup peti perlahan terangkat, melepaskan aroma logam, keringat, dan ruang sempit, hawa dingin yang seolah meresap sampai ke tulang.

"Kaivan! Kita berhasil!" seru Thivi. Ia melompat kecil di tempatnya, suaranya menghancurkan ketegangan seperti kaca rapuh yang pecah. Tangannya mengepal penuh semangat, dan senyum cerah khasnya akhirnya muncul, namun terasa aneh, seperti lentera yang berkedip di tengah kuburan, bersinar terlalu terlambat. Rambut pendeknya bergoyang, dadanya naik turun karena lega, matanya berbinar oleh kebahagiaan yang belum tahu betapa cepatnya akan dihancurkan oleh kenyataan di dalam peti itu.

Frans berdiri tidak jauh di belakang mereka, bersandar lemah pada dinding kontainer. Napasnya terengah-engah, dan ia mengusap keringat di dahinya dengan tangan gemetar. "Aku masih nggak percaya kita benar-benar berhasil," gumamnya, meski terdengar lebih seperti ratapan pelan daripada kebanggaan. Mobilnya, yang ia gunakan untuk menabrak pembatas jalan, kini hanya tinggal puing, dan garis tipis darah masih mengalir dari luka di pelipisnya, pengingat jelas tentang harga yang harus mereka bayar demi pelarian ini.

Felicia duduk sambil menyilangkan tangan, posturnya tegak dan tenang. Tatapannya tajam, seolah ia bisa melihat isi peti itu bahkan sebelum dibuka. Senyumnya kecil, bukan senyum lega, melainkan senyum yang dipenuhi beban tanggung jawab. Punggungnya lurus, tubuhnya nyaris tak bergerak. Ia tidak ikut merayakan apa pun, hanya mengawasi, dengan mata yang memantulkan ketegangan tersembunyi, seolah ia sedang mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk.

Raphael berdiri sambil melipat tangan di dada. Wajahnya tenang, hampir seperti patung. Perhatiannya bukan tertuju pada peti itu, melainkan pada Levan yang duduk di balik kemudi. Ada sesuatu dari pria itu yang membuat nalurinya menegang. Cara Raphael berdiri memperjelas satu hal, ia sedang bersiap menghadapi masalah. Banyak pertanyaan yang tak terucap berputar di benaknya seperti roda takdir yang tak mau berhenti.

Isabel, yang sejak tadi memeluk tas besar di pangkuannya, akhirnya mengangkat kepala lalu membukanya. Tangannya sedikit gemetar saat mengeluarkan sebuah buku tua berlapis kayu dengan ukiran simbol yang tidak ia kenali. "Hei, lihat ini!" katanya dengan suara cerah dan mata berbinar. Ia bergegas mendekati peti yang sedang dibuka, mengangkat buku itu seolah mempersembahkan persembahan kepada dewa yang baru bangun dari tidur ribuan tahun. Tangannya yang gemetar membawa harapan dan ketakutan yang saling bertaut.

"Kaivan, aku bahkan membawa Tome Omnicent bersamaku!" katanya riang sambil mengangkat buku itu tinggi-tinggi. Senyumnya membawa kehangatan rapuh ke dalam kontainer yang suram. Cahaya jingga senja memantul samar di permukaan buku itu, seperti bara harapan yang mulai memudar.

Namun sosok di dalam peti itu tidak menjawab.

Kaivan duduk membungkuk ke depan, tubuh kurusnya dibalut pakaian yang robek dan kusut di beberapa bagian. Mulutnya kaku, masih kering akibat kain pembungkam yang sebelumnya menutupnya. Matanya… menyapu satu per satu wajah mereka, Thivi, Frans, Felicia, Raphael, Isabel,Livia,Radit,Zinnia dan Ethan seolah sedang melihat hantu. Wajahnya pucat seperti malam tanpa bintang, tubuhnya gemetar tanpa kendali.

Lalu ia berbicara.

"Kenapa kalian semua ada di sini juga?! Harusnya cuma aku saja!" suara Kaivan pecah tajam dan panik, seperti serpihan kaca yang dilempar ke atas marmer. Kata-katanya menusuk harapan rapuh yang baru saja mulai terbentuk.

Keheningan langsung menyebar.

Thivi, yang beberapa saat lalu masih tersenyum, membeku di tempat. Senyumnya menghilang seperti lilin yang dipadamkan. Ia memiringkan kepala, mata birunya dipenuhi kebingungan dan luka. "Apa maksudmu, Kaivan?" tanyanya pelan. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena kecewa. Dunia di sekelilingnya seolah meredup, menyisakan hanya denting samar dari jantungnya sendiri.

Raphael melangkah maju, tenang namun tegas. Ia duduk bersila di depan Kaivan, menatap langsung ke mata anak itu. "Apa maksudmu? Bukankah kau meminta Levan menyelamatkan kami?"

Kaivan tidak menjawab. Ia hanya menatap balik tanpa kata, seperti anak kecil yang kehilangan bahasa untuk menjelaskan rasa sakitnya. Kepalan tangannya perlahan mengencang, napasnya tidak stabil. Ada sesuatu dalam ekspresinya yang retak, dan ia tidak tahu bagaimana memperbaikinya. Rasa takut, penyesalan, dan amarah bercampur menjadi satu dengan cara yang tak mampu dijelaskan oleh kata-kata.

Di luar, Levan duduk diam di kursi pengemudi. Jemarinya bergerak di atas tombol kontrol dashboard. Cahaya kuning lampu jalan memantul di matanya yang kosong. Ia menekan sesuatu.

Desisan lembut keluar dari ventilasi tersembunyi. Tak seorang pun menyadarinya, sampai semuanya terlambat.

Gas samar tanpa warna mulai keluar dari sudut-sudut peti. Efeknya hampir seketika.

Livia berkedip pelan lalu bergumam, "Kak… kenapa Livi jadi ngantuk banget…?"

Radit yang bersandar di dinding tiba-tiba batuk lalu tubuhnya lemas. Zinnia, yang sejak tadi setengah tertidur, roboh ke samping. Felicia menggigit bibirnya dan mencoba berdiri, namun lututnya runtuh begitu saja. Satu per satu mereka tumbang, kesadaran mereka tenggelam seperti ditarik masuk ke dalam mimpi buruk yang tak bisa mereka lawan.

Kaivan mencoba berteriak, tetapi napasnya tercekat di tenggorokan. Ia mengenali bau itu. Ia tahu artinya.

Namun semuanya sudah terlambat.

Levan, dengan wajah yang masih kosong tanpa emosi, mengangkat ponselnya lalu memutar sebuah nomor. Ia menunggu di tengah dengungan sunyi kendaraan yang terus bergerak.

"Paketnya sudah siap. Aku akan tiba dalam dua puluh empat jam," katanya dalam bahasa Georgia. Nadanya datar dan dingin, namun jika didengarkan baik-baik, ada sedikit kepuasan samar di baliknya, seperti nada terakhir dari lagu duka.

Ia mengakhiri panggilan itu. Ponselnya diletakkan perlahan di atas dashboard sementara tatapannya tetap tertuju pada jalan di depan. Truk itu terus melaju perlahan menuju kegelapan yang terasa mampu menelan segalanya.

Di dalam peti, keheningan turun seperti selimut berat. Hanya suara napas samar yang tersisa, tubuh-tubuh yang terbaring diam di bawah aroma pengkhianatan dan rahasia yang belum terungkap. Dan di tengah kesunyian yang mencekik itu, satu kenyataan tetap ada: mereka telah diserahkan pada takdir yang bahkan tidak mereka pahami. Dan Kaivan, sekali lagi, berdiri di pusat bencana yang tak pernah ia inginkan, namun tak pernah bisa ia hindari.

Udara malam terasa tajam menusuk kulit ketika roda kendaraan berdecit berhenti tepat di luar pagar perimeter Bandara Internasional Halim Perdanakusuma. Tak ada satu pun cahaya menyala di zona pendaratan terbatas itu, seolah dunia sendiri sedang menahan napas. Namun di balik kesunyian tersebut, ketegangan berdengung seperti kabel listrik bertegangan tinggi yang siap putus kapan saja.

Levan, mengenakan setelan hitam dengan wajah sedingin es, melangkah melintasi landasan gelap penuh bayangan. Di belakangnya, dua pria bertubuh besar mendorong kontainer logistik yang sama, kontainer yang membawa sesuatu… atau lebih tepatnya, seseorang. Cahaya bulan menyapu wajah Levan, memperlihatkan kelelahan yang melebur dengan tekad. Satu-satunya hal yang tersisa di dadanya hanyalah keinginan untuk menyelesaikan misi ini.

Di ujung landasan, sebuah jet pribadi telah menunggu dengan mesin yang sudah menyala. Di dalamnya, kursi-kursi kulit hitam menanti para tamu yang tak sadarkan diri, tanpa mengetahui takdir apa yang sedang menunggu mereka.

Di dalam kontainer yang baru dipindahkan itu, Kaivan terbaring dibalut jaket musim dingin yang terlalu besar untuk tubuh kurusnya. Ia tidak bergerak. Wajahnya pucat dan tenang seperti salju yang belum pernah disentuh. Di sekelilingnya, teman-temannya, Thivi, Frans, Felicia, Raphael, Isabel, Ethan, Livia, Zinnia, dan Radit, juga terbaring tanpa gerak, masing-masing terperangkap dalam tidur buatan yang terlalu dalam untuk disebut mimpi.

Levan berlutut lalu menyelimuti Kaivan dengan selimut wol menggunakan gerakan cepat namun anehnya lembut. Embusan udara dingin keluar dari bibirnya sebelum ia berbisik pelan, seolah Kaivan masih bisa mendengarnya:

"Maafkan aku. Tapi inilah jalannya. Suatu hari nanti… kau akan mengerti."

Dengan gerakan yang sudah terbiasa, ia kembali menutup rapat kontainer itu.

Beberapa saat kemudian, jet itu mulai bergerak di landasan. Pesawat tersebut terbang menembus langit malam, membawa Kaivan dan yang lainnya jauh meninggalkan Indonesia, bukan dalam kemenangan, melainkan pelarian, meninggalkan tanah air mereka di bawah beban takdir yang belum selesai.

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya, markas perusahaan milik Vella berubah menjadi medan perang tanpa darah. Gedung pencakar langit yang menjulang megah di jantung Jakarta itu malam ini hanya memantulkan bentuk kemarahannya.

Vella berdiri dengan hak tinggi tertancap kuat di lantai granit. Posturnya kaku seperti patung obsidian. Rambut hitam panjangnya yang berkilau bergoyang samar diterpa dinginnya pendingin ruangan. Namun bukan hawa dingin itu yang membekukan ruangan, melainkan aura dari tatapannya.

Di hadapannya, layar LED raksasa menampilkan pemandangan mengerikan: sisa-sisa kendaraan polisi yang terbakar, api masih menari di antara logam yang meleleh. Tidak ada korban jiwa, hanya beberapa petugas yang pingsan akibat pukulan benda tumpul, namun siaran itu terus mengulang nama yang sama seperti mantra terlarang.

Kaivan.

Bibir Vella menegang. Mata hijaunya bergetar menahan amarah, rahangnya mengeras seperti batu.

"Di mana dia?!" raungnya, suaranya membelah ruangan seperti petir yang membelah langit malam.

Di sampingnya, seorang bawahan yang baru menerima laporan langsung membeku. Tangannya gemetar saat mencoba menjawab.

"N-Nyonya… kami sudah… "

TRAAK!

Sebuah pisau menancap tepat di tenggorokannya, tak ada seorang pun yang melihat dari mana asalnya. Tubuh pria itu langsung roboh, darah mengalir membentuk genangan di bawahnya. Matanya tetap terbuka bahkan setelah mati, masih terkejut oleh keputusan yang tak memberi ruang untuk gagal.

Vella tidak bergeming. Tak ada satu pun otot di wajahnya menunjukkan penyesalan. Ia hanya berbisik lirih, suaranya selembut kematian:

"Bereskan ini. Aku muak dengan tidak mampuan."

Di sudut ruangan, seorang wanita berambut hitam pendek dengan mata merah pucat membungkuk patuh. Dengan gerakan anggun, ia mengangkat kain hitam lalu menyeret mayat itu seperti membuang kantong sampah.

Vella kembali menatap jendela besar di depannya. Dari tempat ia berdiri, cahaya kota terlihat seperti lautan bintang.

"Kaivan… kau pikir bisa lari dariku?" bisiknya. "Aku akan menyapu seluruh Indonesia, tidak… bahkan seluruh dunia jika perlu. Aku bersumpah atas Alchemy itu sendiri… kau akan berlutut di hadapanku.

More Chapters