Dua puluh jam telah berlalu.
Di dalam kendaraan militer yang melaju cepat menembus jalan-jalan bersalju di Pegunungan Kaukasus, suasana berubah drastis. Di balik jendela yang dipenuhi embun beku, gunung-gunung menjulang seperti raksasa bisu, menjaga rahasia berlumuran darah di dalam tubuh mereka yang membeku. Salju terus turun tanpa ampun, menelan dunia dalam hamparan putih yang menyesakkan.
Levan duduk di balik kemudi, mengenakan jaket kulit tebal dan sarung tangan. Matanya tetap terpaku pada jalan licin di depan. Satu kesalahan kecil saja sudah cukup untuk membangunkan mimpi buruk yang telah lama tertidur.
Di kompartemen kargo, para buronan itu masih tak sadarkan diri. Dingin merayap perlahan, membekukan setiap tarikan napas. Thivi menggigil dalam tidurnya, Frans mengerang pelan seolah terjebak dalam mimpi buruk, sementara Raphael tertidur dengan tangan yang masih menggenggam pisau di pinggangnya.
Isabel memeluk Tome of Omnicent erat di dadanya, seakan benda itu adalah satu-satunya harapan yang masih tersisa. Felicia, yang telah lebih dulu terbangun, perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa lemah, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Dengan jari-jari yang gemetar, ia meraba ruang di sekitarnya.
"Sudah berapa lama... aku tertidur?" gumamnya sambil menatap interior gelap kendaraan yang terus berguncang.
Ia mencoba membangunkan yang lain, tetapi gas tidur masih membelenggu tubuh mereka. Kesal, Felicia menendang pintu logam kompartemen itu.
"DRUUG! DRUUUG!"
Suara benturan menggema keras, merobek kesunyian.
Suara tenang Levan terdengar dari pengeras suara, jauh dan hampa.
"Jangan tendang pintunya, Felicia. Kita hampir sampai."
Nada bicaranya datar, tetapi pikirannya berpacu.
Jadi dia keturunan Omnivalor... tidak heran tubuhnya memiliki daya tahan yang lebih baik daripada manusia biasa.
Felicia menghela napas pelan, merasakan bahaya yang semakin mendekat. Di luar sana, ancaman dari pegunungan itu terasa semakin dekat setiap detiknya.
Beberapa menit kemudian, kendaraan itu berhenti di sebuah dataran beku. Sebuah bangunan dua lantai berdiri sendirian di tengah lautan putih yang sunyi, seolah waktu sendiri memilih untuk beristirahat di sana.
Levan segera turun. Sepatu botnya meninggalkan jejak-jejak tegas di atas salju. Saat ia meraih pintu kargo...
"DRUUG!"
Felicia menerobos keluar dan langsung menabraknya. Levan terjatuh ke belakang, terbenam di salju di bawah tubuhnya.
"Di mana kita?!" tuntut Felicia sambil terengah-engah, matanya yang tajam menatap lurus ke arahnya.
Masih terkejut, Levan berusaha duduk.
"Begitukah caramu menyapa orang yang menyelamatkanmu? Kita berada di Pegunungan Kaukasus. Aku tidak berniat menyakitimu. Aku bisa menjelaskan semuanya, tapi kita harus masuk ke dalam dulu. Saljunya semakin parah."
Felicia memandang sekeliling.
Putih.
Tak berujung.
Dunia asing yang menggigit kulitnya dengan dingin yang kejam.
Di balik kebingungannya, muncul rasa lega yang aneh. Ia mengangguk kecil lalu berdiri.
"Gila..." gumam Levan sambil menepuk-nepuk salju dari pakaiannya. "Dia bahkan belum sepenuhnya sadar, tapi sudah sekuat ini. Kalau dia pulih sepenuhnya... ini bisa jadi menarik."
Ia segera bergerak membangunkan yang lain.
Kaivan, Ethan, Radit, Frans, Raphael, Livia, Isabel, Thivi, dan Zinnia perlahan membuka mata satu per satu. Kebingungan memenuhi wajah mereka saat berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan asing yang membeku itu.
Udara di dataran es tersebut menggigit seperti kematian yang menunggu di ujung setiap napas. Setiap serpihan salju yang jatuh terasa seperti pecahan kaca, membisikkan kesedihan di atas kulit mereka. Tidak ada suara selain angin yang membawa kehampaan yang tak tertahankan, seakan dunia sendiri menolak menjadi saksi atas kelangsungan hidup mereka. Alam menangis dalam diam, memeluk setiap napas rapuh dalam genggaman kaku yang membekukan jiwa.
Levan berdiri di samping kendaraan tua itu, hampir ditelan kabut. Matanya menyipit, menembus uap dingin yang menempel pada jendela. Ia tidak berkata apa-apa, diam tak bergerak seperti patung di tengah badai.
Dengan gerakan tenang namun tiba-tiba, ia membuka pintu belakang truk yang dipenuhi kristal-kristal es. Engselnya berderit, menghasilkan tangisan logam yang tersiksa oleh waktu.
Ia berjongkok lalu menepuk pipi Ethan dengan lembut namun mantap, jemarinya memeriksa denyut nadi untuk memastikan pemuda itu masih hidup.
"Bangun..." bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Ethan, seperti mantra untuk menolak akhir yang tak diinginkan.
Zinnia tersentak pelan saat bahunya diguncang. Rambut ungunya menempel di leher yang pucat, sementara napasnya membeku di udara. Ketakutan berkilat di balik matanya. Ia bergerak gelisah dengan lemah, bibirnya bergetar, masih belum mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Levan lalu beralih kepada Livia, menarik selimut tipis yang menutupi wajahnya.
Livia berkedip menatap langit kelabu di atasnya.
Matanya membelalak.
Bukan karena dingin.
Melainkan karena teror terhadap pemandangan asing yang terbentang di hadapannya.
Ia memeluk tubuhnya yang gemetar, menyadari bahwa sesuatu telah berubah untuk selamanya.
Satu per satu, mereka mulai bangkit.
Tubuh-tubuh rapuh yang menyeret diri keluar dari keheningan.
Ethan berkedip beberapa kali, pupil matanya menyesuaikan diri dengan cahaya redup.
"Apakah kita... berada di neraka es?"
Suaranya terdengar serak.
Bibirnya telah membiru, sementara embusan napasnya berubah menjadi kabut putih. Ia tampak seperti bayangan dari dirinya yang dulu, seolah separuh jiwanya tertinggal di tempat lain.
Frans berlutut dengan satu kaki menyentuh salju, memegangi pelipisnya saat rasa sakit berdenyut di kepalanya. Ia memandang sekeliling seperti anak kecil yang tersesat dan baru menyadari bahwa dunia telah meninggalkannya. Saat mencoba berdiri, kakinya goyah, tubuhnya seakan menolak kenyataan.
Radit mengangkat wajahnya, bersin keras, lalu mengumpat pelan.
"Sial... ini lebih dingin daripada diabaikan gebetan sendiri..."
Ia mencoba tertawa, tetapi yang keluar hanya embusan napas lemah yang segera dibawa pergi oleh angin.
Isabel menyentuh pipinya yang membeku.
"Aku... bermimpi sedang terbakar... jadi kenapa semuanya justru membeku sekarang...?"
Suaranya bergetar, matanya kehilangan fokus di antara mimpi dan kenyataan. Ia berpegangan pada sisi kendaraan untuk menjaga keseimbangan, sementara cahaya dalam tatapannya meredup seperti bara api yang berada di ambang padam.
