Cherreads

Chapter 213 - Aman, Namun Tidak Bebas

Felicia berdiri di antara mereka, tubuhnya bagaikan pilar baja di tengah badai putih. Rambut hitamnya terurai liar di sekitar bahunya, sementara matanya menyala merah seperti bara yang terkubur di bawah salju. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya menatap bangunan dua lantai di kejauhan, sebuah siluet suram yang menyerupai benteng dosa. Seluruh tubuhnya berada dalam posisi siaga, seolah ia sudah tahu bahwa apa pun yang menanti mereka di sana... tidak akan membawa kebaikan.

Di antara mereka semua, Kaivan berjalan paling lambat. Kakinya tenggelam ke dalam salju tanpa tenaga, dan matanya menangkap sosok Isabel yang berada beberapa langkah di depannya. Dunia terasa seperti runtuh sedikit demi sedikit.

Livia mengusap lembut kepala pemuda itu. "Tidak apa-apa... aku hanya masih bingung," gumam Kaivan pelan, suaranya retak oleh dingin dan kekacauan dalam hatinya. Untuk sesaat, pandangannya beralih ke arah Isabel sebelum kembali tertunduk.

Livia mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Ia tetap berjalan di sisi Kaivan, menjadi satu-satunya kehangatan di dunia yang terkunci oleh es. Di tengah kehampaan ini, tangan kecilnya membuat Kaivan merasa bahwa dirinya masih memiliki alasan untuk bertahan.

Mereka berjalan bersama menembus salju yang dalam, meninggalkan jejak-jejak kaki yang perlahan dihapus oleh angin. Setiap langkah memperdalam luka yang belum sempat sembuh, mengukir garis pemisah antara mereka dan kehidupan yang pernah mereka kenal. Langkah kaki mereka menyatu menjadi harmoni penuh duka, sebuah requiem yang hanya dapat dipahami oleh jiwa-jiwa yang telah retak.

Bangunan di depan mereka semakin jelas. Dua lantai beton dingin dengan dinding kaca yang lebar, memperlihatkan dunia teknologi yang asing di dalamnya. Cahaya biru dan merah yang samar berkedip di balik kaca, seperti napas makhluk buatan yang mengawasi dari dalam. Udara dipenuhi aroma listrik dan logam.

Salju turun perlahan, seperti abu yang melayang dari langit kelabu yang membungkus dunia dalam keheningan. Angin merintih di sela-sela baja, menyapu kabut tipis di atas tanah yang membeku. Dalam ketenangan yang hampir sakral itu, langkah mereka menghantam salju dengan irama yang berat dan hati-hati.

Levan berjalan paling depan, tubuhnya dibalut mantel hitam pekat yang berkibar lembut diterpa angin. Siluetnya menyerupai bayangan yang telah lama akrab dengan kegelapan, membelah kabut putih dengan ketenangan seorang veteran berpengalaman. Salju menempel pada rambut dan bahunya, tetapi ia tidak berusaha menyingkirkannya. Setiap langkah seolah mengukir jejak masa lalunya di atas hamparan putih yang masih murni.

Ia berhenti di depan sebuah bangunan yang setengah terkubur oleh es. Sebuah pintu logam besar yang berkarat berdiri sunyi dan dingin. Dinding baja di sekelilingnya menganga seperti luka lama yang tak pernah sembuh. Levan berbalik menatap mereka satu per satu. Matanya tampak lelah karena terlalu banyak menyaksikan kegelapan, tetapi masih menyimpan bara keyakinan yang belum padam.

Tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam perlahan terangkat, menyentuh sensor logam di samping pintu. Desisan mekanis memecah kesunyian, dan pintu itu terbuka sedikit demi sedikit, dingin seperti hembusan napas terakhir dari bangunan yang telah lama dianggap mati.

"Selamat datang di..."

Suara Levan terhenti.

Ia membeku, menatap koridor gelap di balik ambang pintu. Wajahnya menegang, seolah masa lalu baru saja menghantamnya melalui kabut yang dingin. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Lalu, dari belakangnya, sebuah suara lembut memecah keheningan, seperti roh yang baru terbangun dari tidur panjang.

"Sasts'avlo Laborat'oria," bisik seorang peneliti di dekat Levan, menyebut nama tempat itu dengan pelan.

Levan menoleh perlahan. Senyum kosong terbentuk di wajahnya. Bukan senyum kebahagiaan, melainkan penerimaan yang pahit.

"Benar," katanya lirih, hampir seperti sebuah pengakuan. "Ini adalah laboratorium pelatihan kami."

Kaivan yang berdiri di belakang Levan melangkah maju. Suaranya pecah, seperti batu yang terlepas dari dasar sungai.

"Tunggu..." katanya cemas sambil menatap lurus ke arah Levan. "Di mana Teh Kira? Di mana dia sekarang?"

Mata Levan bergerak, terjebak di antara rasa iba dan penyesalan. Ia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu berbalik dan berjalan masuk ke dalam. Yang lain mengikutinya dalam diam.

Koridor di dalam bangunan itu sunyi, diterangi cahaya LED dingin yang memantul dari dinding logam berwarna putih kebiruan. Lantainya berkilau seperti es, sementara setiap langkah menggema layaknya denyut kesedihan. Kabel-kabel menggantung dari langit-langit, menyerupai urat nadi makhluk mati yang pernah hidup.

Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah ruangan berdinding kaca transparan. Di balik kaca itu, tubuh seorang wanita terbaring tak bergerak di atas ranjang medis. Selang dan kabel menjalar di sekujur tubuhnya, sementara monitor di sampingnya menampilkan gelombang otak yang nyaris datar.

Kaivan membeku.

Matanya membelalak.

Pupilnya bergetar.

Ia menyentuh kaca itu, meninggalkan embun tipis di permukaannya. Napasnya menjadi berat.

Ia menyentuh kaca itu, meninggalkan embun tipis di permukaannya. Napasnya menjadi berat.

"Kakakmu aman di sini," kata Levan pelan. "Tapi dia belum terbangun. Adikmu... masih berada dalam koma."

Dunia Kaivan runtuh.

Kelegaan dan sesak menghantam dadanya secara bersamaan. Ia memejamkan mata, berjuang menahan luapan emosi yang hampir meluap keluar.

Radit melangkah maju. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket, sementara matanya memandang Levan dengan rasa ingin tahu yang tajam.

"Jadi... apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya datar, meski emosi masih tersisa di balik nada suaranya.

Levan menarik napas panjang sebelum menjawab. Suaranya kini terasa berat oleh kejujuran yang tak bisa lagi disembunyikan.

"Kami sedang meneliti Tome of Omnicent di tempat ini. Dan kalian... adalah bagian dari eksperimen tersebut."

Keheningan menelan seluruh ruangan.

Tak seorang pun bergerak.

Levan melanjutkan, tegas namun pahit.

"Kalian dibawa ke sini karena Kaivan adalah pemimpin kalian. Kami berharap kalian dapat beresonansi dengan pemilik Tome of Omnicent. Jika berhasil, kalian akan menjalani pelatihan di tempat ini selama tiga tahun ke depan."

Kata-kata itu menggantung di udara.

Berat.

Tak terhindarkan.

 

More Chapters