Cherreads

Chapter 214 - Kami Tetap Tinggal

Isabel melirik ke arah Kaivan. Tatapannya bagaikan bilah tipis yang menusuk perlahan, namun dalam. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya, sesuatu yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan retakan di hatinya di balik senyum kecil yang terluka.

Mendengar kehidupan mereka dibicarakan layaknya bahan eksperimen, Thivi tak mampu menahan pertanyaannya. "Kalau kami gagal dalam eksperimen ini... apakah kami akan mati?"

Ketegangan semakin menebal. Semua orang bisa merasakan kecemasan yang perlahan berakar di dalam hati mereka. Levan memandang mereka dengan tatapan serius sekaligus ragu.

"Aku tidak tahu," jawabnya pelan, dan kejujurannya justru terasa mengusik. "Karena ini adalah penelitian pertama kami, aku berharap tidak ada yang mati. Terlebih lagi..." Ia berhenti sejenak, membiarkan keheningan menggantung. "Beberapa orang di laboratorium ini akan memberikan kalian kamus bahasa Georgia. Seperti yang sudah kalian ketahui, saat berdiri di tanah yang baru, kalian harus menghormati langit yang menaunginya. Kalian sekarang berada di Georgia. Jadi kalian harus mempelajari bahasa kami."

Levan mengangkat tangannya. Beberapa staf membawa kamus-kamus tebal dan meletakkannya di depan kelompok itu. Kaivan menatap benda-benda itu dengan bingung, lalu bergumam pelan, "Kurasa dia memakai peribahasa itu dengan cara yang salah."

Levan melirik Kaivan dengan senyum samar. "Setelah ini, kalian akan menjalani pemeriksaan medis, makan malam, lalu dipisahkan. Pria dengan pria, wanita dengan wanita. Namun Kaivan akan ditempatkan di laboratorium yang berbeda, di bangunan lain. Jangan khawatir. Kalian masih bisa berkomunikasi setiap malam. Kami juga akan mengizinkan panggilan yang diawasi kepada keluarga kalian, selama kalian tidak mengungkapkan lokasi ini."

Kaivan mengangkat tangannya. "Setelah makan malam, aku ingin berbicara langsung dengan teman-temanku."

"Izin diberikan," jawab Levan dengan tenang namun tegas. "Namun, kalian harus berbicara di ruangan khusus yang telah kami siapkan."

Mereka menjalani pemeriksaan medis di ruangan yang dipenuhi cahaya putih dan dengungan konstan mesin pendingin. Jarum suntik, pemindai, dan layar data bergerak cepat di sekitar mereka. Setelah itu, mereka makan malam dalam keheningan yang terasa tidak alami, seolah semua orang sedang menahan napas di antara rasa lapar dan ketakutan. Pada akhirnya, Kaivan diberi izin untuk menemui teman-temannya.

Malam itu, ia melangkah masuk ke ruangan yang telah disiapkan. Udara di sana terasa berat, namun masih menyimpan secercah harapan. Ruangan itu sederhana, tetapi kamera dan mikrofon tersembunyi memenuhi setiap sudut. Kaivan tahu setiap kata yang diucapkannya akan direkam, namun setidaknya momen ini tidak akan diganggu.

Ia duduk tegak di kursinya, matanya perlahan menyapu seluruh ruangan. Cahaya lembut jatuh di wajahnya, memantulkan ketegangan yang tersimpan dalam napasnya. Setiap detik terasa begitu berharga, seolah dunia berhenti sejenak untuk mendengarkan.

Pintu terbuka. Radit masuk lebih dulu dengan senyum cerah khasnya. Langkahnya santai, sementara matanya berkeliling ruangan dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Seperti yang kalian tahu," kata Kaivan dengan suara rendah namun jelas, "tujuan awal mereka adalah menelitiku. Kalian semua ikut terseret ke dalam ini karena aku."

Radit tertawa ringan sambil mengangkat bahu, seolah hal itu bukan masalah besar. "Tidak apa-apa. Santai saja, kawanku. Sejujurnya, mungkin tempat ini malah lebih seru, hahaha."

Kaivan membalas dengan senyum pahit. Ia tahu Radit sedang berusaha menghiburnya. Namun di balik keceriaan itu, ada banyak hal yang bahkan mereka sendiri belum pahami.

Zinnia masuk berikutnya. Langkahnya tenang, tetapi kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya. Kaivan menatapnya lalu berbicara pelan, penuh penyesalan.

"Maaf. Kau ikut terlibat karena aku. Sekarang kau ada di sini... dan tidak bisa pulang."

Zinnia membalas tatapannya. Matanya berkilau saat ia menahan air mata. Senyum tipis muncul di bibirnya.

"Tidak apa-apa, Kaivan. Yang penting kau bebas, dan kita masih bisa saling bertemu. Itu saja sudah cukup bagiku."

Kata-katanya menyimpan perasaan yang sulit diungkapkan secara langsung. Beban di dada Kaivan terasa semakin berat.

Frans masuk dengan seringai usil yang sudah menjadi ciri khasnya. Kaivan memandangnya dengan serius.

"Kalau kau? Kau tidak bisa bertemu pacarmu lagi, kan?"

Frans terkekeh pelan, meski kesedihan sempat berkilat di matanya.

"Aku sudah putus dengan Tira," katanya santai. "Saat kubilang aku akan pergi ke luar negeri, dia marah. Tapi ya... kalau memang takdir, kami pasti bertemu lagi, kan?"

Nada suaranya ringan, tetapi Kaivan tahu kesedihan itu nyata. Mereka semua terjebak dalam eksperimen yang tidak pernah mereka pilih, tanpa tahu kapan semuanya akan berakhir.

Thivi masuk dengan energi khasnya, senyumnya tetap cerah seperti biasa. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung memeluk Kaivan erat.

"Akhirnya aku bisa memelukmu," katanya dengan suara bergetar.

Kaivan terkejut, tetapi dengan lembut berusaha menenangkannya.

"Hei... tidak apa-apa. Jangan khawatir. Ini bukan akhir. Kita akan bertemu lagi, kan?" katanya, berusaha meyakinkan Thivi sekaligus dirinya sendiri.

Namun di balik kata-kata itu, ketidakpastian masih tersisa. Ia sama sekali tidak tahu masa depan seperti apa yang menanti mereka.

Felicia masuk setelah Thivi. Ekspresinya serius, namun lembut. Kaivan menatapnya.

"Felicia..." suaranya melemah.

Felicia langsung memotong ucapannya, seolah sudah tahu apa yang ingin ia katakan.

"Aku tahu, Kaivan," katanya tegas. "Aku akan tetap berada di sisimu. Apa pun yang terjadi, katakan saja padaku. Aku tidak akan meninggalkanmu."

Kaivan mengangguk perlahan, merasakan ketulusan itu menembus hatinya. Ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dirinya terhadap Felicia, sesuatu yang bahkan belum ia pahami.

Ethan masuk sambil bercanda.

"Sepertinya kita akan bermutasi menjadi para pahlawan super."

Kaivan tersenyum miring.

"Mungkin kau benar."

Ethan melirik salju di luar jendela.

"Tapi tempat ini lebih keren. Aku benar-benar bisa melihat salju. Hal seperti ini tidak ada di Indonesia, hahaha."

Raphael masuk paling akhir. Ia duduk dengan tenang di seberang Kaivan.

"Ini mungkin akan terasa panjang..." katanya pelan. "Dan membosankan, menurutmu tidak?"

More Chapters