Di seberang ruangan, Felicia terus memperhatikan target mereka. Percakapan mereka mengalir santai, tetapi ia bisa merasakan perhatian pria itu mulai teralihkan oleh keributan di sekitar. Sekarang.
Dengan gerakan cepat namun halus, Felicia menyelipkan tangannya ke saku jas pria itu dan mengambil undangannya, lalu menyembunyikannya di balik tali di pahanya. Ekspresinya tetap tenang, melanjutkan perannya tanpa sedikit pun celah.
"Aku cuma pengen seseorang yang memperlakukanku dengan lembut..." bisik Felicia sambil menggulung sedikit lengan bajunya hingga memperlihatkan bekas luka samar. Tatapannya membawa kesedihan yang dibungkus pesona tenang.
Pria itu semakin tenggelam dalam rayuannya. "Parfummu... wajahmu... kamu cantik banget," gumamnya dengan tangan mulai bergerak liar.
Felicia bergeser anggun menjauh sambil menggoda, "Bukan cuma wajahku. Tubuhku juga mulus dan cantik, nggak ada bulu sama sekali." Ia sedikit mengangkat lengannya, memperlihatkan kulit yang bersih sempurna. Godaan samar itu langsung membuat pria tersebut kehilangan kendali.
Pria itu memojokkannya di dekat meja hidangan. Namun Felicia bergerak cepat. Ia mendorong keras tepi meja hingga piring dan makanan berjatuhan ke lantai.
"Aahhh!" teriaknya, membuat kekacauan langsung menyebar di seluruh aula.
Di tengah keributan itu, Kaivan bergerak.
Diam dan cepat, ia menyelinap di antara para tamu lalu mengambil dua undangan dari saku beberapa pria yang lengah. Livia dan Ethan langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk melewati penjaga yang teralihkan lalu menghilang masuk ke ballroom.
Felicia yang "diselamatkan" para penjaga akhirnya ikut dibawa masuk tanpa menimbulkan kecurigaan.
Zinnia yang masih memainkan perannya memegangi dadanya. "Pak, undangan saya... tadi masih ada di tangan saya. Mungkin jatuh... atau ada yang ngambil waktu keributan tadi..." katanya dengan suara panik.
Para penjaga yang kewalahan oleh kekacauan itu mulai berpencar dalam kebingungan.
Saat itulah Kaivan mendekat diam-diam lalu menyelipkan sebuah undangan ke tangan Zinnia. "Hei," bisiknya dengan senyum lembut. "Punyamu ternyata nyasar ke aku."
Zinnia menatapnya dengan kelegaan yang jelas terlihat. Mereka pun melangkah masuk bersama. Malam itu, misi mereka berjalan tanpa hambatan berarti. Di balik semua ketegangan dan tipu daya, perlahan tumbuh kehangatan kecil yang lembut namun nyata.
Ballroom megah itu berkilau di bawah cahaya kristal, tetapi suasananya jauh dari anggun. Para tamu penting duduk kaku di meja-meja bundar, tak bisa bergerak bebas karena terus diawasi pria-pria berpakaian hitam yang menjaga setiap sudut ruangan. Di balik percakapan elegan, ada ketegangan samar yang perlahan memenuhi udara.
Ethan duduk tenang di samping Livia, meski matanya terus menyapu seluruh ruangan. Saat Livia menunjuk ke arah sebuah pilar, ia berbisik, "Kak Ethan, itu orang tuaku."
Dua sosok paruh baya duduk tegak tanpa menyadari bahwa putri mereka hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Livia cepat-cepat menulis pesan singkat lalu menyerahkannya pada Ethan. Ia memahami risikonya, tetapi tak punya pilihan lain.
Sebelum Ethan sempat bergerak, ia melihat staf mulai memeriksa undangan para tamu. Detak jantungnya langsung meningkat. Mereka tidak memiliki izin resmi. Dengan lirikan samar, ia memberi isyarat pada Livia bahwa sudah waktunya pergi.
Mereka bangkit perlahan, berhati-hati agar tidak menarik perhatian. Saat melewati dekat pintu keluar, Ethan diam-diam menyelipkan catatan itu ke tangan Kaivan. Kaivan yang duduk tak jauh segera membacanya cepat lalu mengikuti arah pandang Livia. Pikirannya langsung mulai menyusun langkah berikutnya.
Kaivan dan Zinnia duduk semeja dengan dua pria asing. Tidak nyaman, tetapi masih bisa diatasi.
"Permisi, Pak. Acara ini sebenarnya tentang apa?" tanya Kaivan santai.
"Pertemuan investor infrastruktur. Pendanaan dari pengusaha besar," jawab pria itu ringan.
"Bapak juga investor?" tanya Kaivan lagi.
Senyum pria itu menipis. "Kamu seharusnya nggak ada di sini, ya?" Tatapannya mulai tajam.
Kaivan tetap tenang. Dengan gerakan tersembunyi, tangannya menyelinap ke balik gaun Zinnia. Sentuhan itu membuat tubuh Zinnia refleks menegang.
"K-Kaivan..." bisiknya lirih.
Tatapan mereka bertemu sesaat. Tanpa kata-kata, Zinnia langsung mengerti. Ia sedikit menggeser posisi tubuhnya, memberi ruang agar Kaivan bisa mengambil sesuatu dari pahanya, karambit kecil yang ia sembunyikan.
Percakapan tetap berlanjut. Zinnia mempertahankan ekspresi tenang meski tubuhnya bergetar samar.
"Saya juga diundang, Pak. Bisnis emas," katanya lembut namun tegas.
Kaivan akhirnya berhasil menggenggam karambit itu lalu menyelipkannya ke saku jasnya. Tatapan mereka kembali bertemu sesaat. Ada rasa lega kecil di antara keduanya, namun mereka sama-sama tahu semuanya belum selesai.
Di seberang ballroom megah itu, Felicia melihat seseorang yang membuat napasnya seolah berhenti, Rapi.
Kenangan duel brutal mereka di Radio Malabar langsung kembali membanjiri pikirannya. Tatapannya menajam, berusaha memberi isyarat pada Kaivan, tetapi Kaivan terlalu tenggelam dalam perannya hingga tidak menyadarinya.
Lampu kristal berkilau di atas langit-langit, memantulkan cahaya lembut ke meja-meja tempat para tamu duduk rapi dengan elegan. Percakapan sopan memenuhi udara, tetapi di balik semua itu, ketegangan menekan seperti beban tak terlihat. Para pria berpakaian hitam berdiri menjaga sudut-sudut ruangan dengan tatapan setajam elang.
Kaivan duduk bersama Zinnia dan dua pria asing tadi. Sementara itu, Livia yang duduk di samping Ethan menyerahkan catatan terlipat padanya, pesan untuk kedua orang tuanya yang duduk tak jauh dari sana. Dengan langkah tenang dan terukur, Kaivan mendekati pasangan itu lalu menyelipkan catatan tersebut ke pangkuan sang ayah.
Namun tindakan kecil itu menarik perhatian.
"Tuan, tolong kembali ke tempat duduk Anda," ujar salah satu staf dengan sopan namun tegas.
Kaivan memberikan senyum tenang. "Kalau saya ke toilet, saya masih boleh masuk lagi, kan?"
Staf itu mengangguk. "Tentu saja."
Saat kembali ke mejanya, Kaivan bertukar pandang dengan Zinnia. Tatapan mereka selaras. Sudah waktunya bergerak.
Ayah Livia membaca pesan singkat itu dan kepanikan langsung muncul di wajahnya. Ia berdiri mendadak, mencoba mengejar Kaivan. Felicia yang terus memperhatikan segera ikut bergerak.
