Cherreads

Chapter 165 - Ruangan Tempat Kekuasaan Tersenyum

Di lorong hotel yang lebih sunyi, jauh dari gemerlap dan kebisingan ballroom, Kaivan, Zinnia, dan Felicia akhirnya berhadapan langsung dengan orang tua Livia. Ayahnya, pria bertubuh besar dengan tatapan tajam, segera mendekat cepat.

"Di mana putriku?!" bentaknya.

Kaivan tetap berdiri tenang. Suaranya lembut namun menenangkan. "Tolong tenang dulu, Pak. Livia aman. Dia bersama kami."

Felicia melangkah mendekat sambil memperhatikan lorong dengan insting tajam. Dengan bisikan pelan, ia memperingatkan Kaivan, "Rapi ada di sini... dia ngikutin kita."

Tubuh Kaivan langsung menegang. Alisnya berkerut, rasa dingin menjalar di tulang punggungnya saat ia bergumam, "Gimana bisa dia ada di sini...? William sudah mati. Rapi seharusnya... seharusnya nggak ada lagi."

Kata "mati" menghantam kedua orang tua itu seperti pukulan keras. Ibu Livia langsung mencengkeram lengan suaminya dengan wajah pucat. Mata sang ayah membelalak saat ia membentak, "Mati?! Kalian ini sebenarnya siapa?! Di mana putriku?!"

Kaivan menarik napas perlahan dan berusaha tetap tenang. Ia memberi senyum tipis. "Percayalah. Dia bersama seseorang yang bisa melindunginya."

Namun ketenangan itu langsung pecah.

Ponsel Kaivan berdering. Nama Frans muncul di layar. Ia segera mengangkatnya, hanya untuk mendengar teriakan panik, "Kaivan, keluar sekarang!"

Sebelum sempat membalas, sebuah tangan muncul dari belakangnya, cepat dan tanpa suara.

Dalam sekejap, ponselnya sudah tak lagi berada di tangannya.

Rapi berdiri di sana, muncul dari lorong yang dipenuhi bayangan. Gerakannya begitu senyap dan halus hingga bahkan Felicia terlambat bereaksi. Aura dingin yang dibawanya terasa jelas.

Zinnia membeku saat Rapi melangkah maju dengan gerakan elegan yang berbahaya. Suaranya terdengar lembut, tetapi setiap katanya terasa tajam.

"Pak, ikut saya. Putri Anda ada di belakang."

Tanpa benar-benar punya pilihan, orang tua Livia mengikuti dirinya. Kaivan, Zinnia, Felicia, dan beberapa penjaga berpakaian jas ikut berjalan di belakang mereka. Lorong hotel yang dipenuhi cahaya keemasan mendadak terasa sempit dan dingin.

Kaivan bertukar pandang dengan kedua gadis di belakangnya. Tatapannya memberi pesan diam, bersiap.

Zinnia mengangguk pelan sambil menenangkan napasnya. Felicia memperhatikan setiap sudut dengan waspada, siap menghadapi apa pun.

Di luar hotel, ketegangan juga terasa sama kuatnya.

Isabel duduk di kursi depan mobil sambil memeluk Tome Omnicent erat-erat, sementara Raphael memperhatikan pintu masuk hotel dengan ekspresi sedingin es. Frans dan Radit gelisah di kursi belakang, sama sekali tak bisa menyembunyikan kecemasan mereka.

Sebuah bisikan lembut menyentuh pikiran Isabel.

Tome itu berbicara.

"Beritahu Kaivan. Tome Omniphilos ada di dalam ruangan itu. Bahayanya lebih dekat dari yang kalian kira."

Frans langsung mencoba menelepon Kaivan, tetapi panggilannya tidak dijawab. Ekspresinya mengeras. Ia menoleh pada Raphael.

"Kita masuk?"

Raphael terdiam sejenak sambil berpikir. "Kalau kita masuk sekarang, semuanya bisa berantakan. Tapi kalau kita terlalu lama nunggu... mungkin semuanya sudah terlambat."

Waktu terasa berjalan lambat.

Semua orang menahan napas.

Lalu bisikan lain kembali terdengar dari Tome.

"Jangan masuk. Kalian akan mengganggu jalurnya. Tunggu sampai Kaivan memberi sinyal."

Radit yang sejak tadi gelisah di kursinya akhirnya meledak. "Kita harus nunggu sampai kapan?!" bentaknya penuh frustrasi.

Isabel menarik napas panjang pelan, berusaha tetap tenang. Ia memahami kenapa mereka harus menunggu, tetapi ketegangan itu membuat bagian dalam mobil terasa sesak. Mereka saling bertukar tatapan cemas, berharap Kaivan segera keluar kapan saja.

Di dalam bangunan mewah yang terang benderang itu, Kaivan, Zinnia, Felicia, dan orang tua Livia dibawa masuk ke sebuah ruangan luas yang dipenuhi cahaya kristal. Tempat itu terlihat hangat, tetapi menyimpan ketegangan aneh di balik kemewahannya. Kaivan dan Zinnia diborgol, sementara Felicia dirantai dari bahu hingga kaki dengan rantai berat, tindakan berlebihan yang memperlihatkan betapa takutnya mereka pada kekuatan gadis itu.

Di tengah ruangan berdiri seorang wanita anggun bernama Vella. Wajahnya terlihat lembut dan hampir polos, tetapi tatapannya memancarkan tekanan dan wibawa yang kuat. Ia menyambut mereka dengan senyum tenang.

"Halo, selamat datang. Maaf soal pengikatnya. Itu cuma sementara," katanya lembut seolah semua ini hanyalah sambutan biasa.

Kaivan memperhatikannya dengan bingung dan waspada. Wanita itu jauh dari bayangan penjahat kejam yang ia pikirkan sebelumnya. Vella lebih terlihat seperti tuan rumah yang tenang.

Vella melangkah mendekat.

"Aku mengumpulkan kalian di sini untuk satu hal, kesempatan bisnis besar." Tatapannya menyapu wajah mereka satu per satu. "Kalau kalian bersedia, tentu saja."

Kaivan mendengarkan dengan hati-hati. Suaranya lembut, tetapi setiap kalimatnya terasa terlalu rapi dan terlalu terukur, seolah menyembunyikan sesuatu di balik keanggunannya. Diam-diam, ia memperhatikan posisi penjaga, jalan keluar, dan benda-benda di sekitar ruangan.

Felicia sedikit mendekat ke arahnya lalu berbisik, "Kalau kita lepas, rencananya apa?"

Kaivan membalas pelan, "Dengerin dulu dia ngomong. Dia nggak pakai kekerasan langsung. Pasti ada alasannya."

Vella terus berbicara dengan santai seperti seorang pembawa acara di atas panggung.

"Tujuanku sederhana, stabilitas, ekonomi yang kuat, dan perdamaian. Aku nggak suka kekerasan, tapi kadang perdamaian harus dijaga dengan cara yang... tegas."

Keheningan singkat menggantung di udara. Vella memperhatikan wajah mereka satu per satu, menunggu reaksi.

Tatapan Kaivan perlahan mengeras.

Di balik kata-kata lembut wanita itu, ia merasakan sesuatu yang lain. Bukan perdamaian, melainkan rasa haus akan kekuasaan.

"Dia cuma mau kemewahan," bisik Kaivan pada Felicia.

Felicia menyeringai tipis sambil menahan tawa kecil. Zinnia hampir ikut tersenyum, tetapi segera membenarkan ekspresinya saat tatapan Vella melewati mereka.

Ruangan itu terlihat indah bercahaya, tetapi dibungkus lapisan tipis ketegangan yang sulit dijelaskan.

Vella mengakhiri penjelasannya dengan nada hangat.

"Tolong pertimbangkan tawaranku dengan hati terbuka."

Senyumnya terlalu hangat.

Terlalu hangat hingga terasa dingin bagi Kaivan.

Sebelum ada yang sempat menjawab, sebuah layar raksasa menyala dan menampilkan video keluarga para tamu. Mereka terlihat baik-baik saja, beristirahat di ruangan nyaman sambil makan dengan tenang.

Vella berkata, "Keluarga kalian aman."

Untuk sesaat, suasana sedikit melonggar. Beberapa orang mengembuskan napas lega.

Namun ketegangan kembali naik ketika ayah Livia berbicara dengan suara gemetar.

"Di mana Livia?"

 

More Chapters