Seorang asisten membisikkan sesuatu ke telinga Vella. Ekspresinya berubah sesaat, lalu kembali tenang.
"Maaf, kami belum memasang kamera di kamar putri Anda. Tapi putri Anda aman," katanya.
Kaivan mengernyit pelan. Ia tahu wanita itu sedang berbohong.
"Kau tidak mengatakan yang sebenarnya," ucapnya tenang namun jelas. "Karena Livia ada bersamaku. Dia aman."
Keheningan langsung membekukan ruangan.
Semua mata tertuju pada Kaivan. Vella sempat tersentak sesaat sebelum Rapi membisikkan sesuatu di telinganya. Mata Vella menyipit perlahan, sementara bibirnya membentuk senyum tipis.
"Oh... Kaivan," gumamnya, terdengar seperti perpaduan antara kekaguman dan ancaman. Ia mengangkat tangannya. "Lepaskan dia. Dan teman-temannya. Sekarang juga."
Kejutan menyebar di antara para tamu. Bisik-bisik bingung mulai terdengar di seluruh ruangan. Kaivan tetap tenang di tengah tatapan penuh rasa penasaran, meski pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Borgol di tangan Kaivan dan Zinnia dilepaskan, begitu juga rantai yang mengikat Felicia.
Di tengah para bawahannya, Vella turun dari panggung dengan langkah anggun namun penuh wibawa. Ia mendekati Kaivan dan berhenti tepat di hadapannya dengan senyum tenang.
"Maafkan orang-orangku. Mereka tidak tahu siapa dirimu," katanya lembut. "Mereka tidak berniat mengikatmu seperti itu."
Kaivan menahan keterkejutannya.
"Tidak apa-apa," jawabnya pelan, meski kebingungan masih berputar di kepalanya. "Tapi... kenapa kau menyebut ini sebuah kehormatan?"
Vella melangkah lebih dekat.
Begitu dekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan.
Ia menggenggam tangan Kaivan dengan kelembutan yang seolah membekukan udara di sekitar mereka.
"Kau adalah pengguna Tome Omnicent, bukan? Aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Dengan bimbinganmu, kita bisa membentuk dunia yang lebih stabil." Tatapannya begitu dalam, sementara suaranya selembut angin yang menyembunyikan badai.
Felicia yang baru saja bebas hanya bisa menatap mereka dengan tak percaya. Ketegangan diam-diam membakar matanya. Melihat Vella menggenggam tangan Kaivan seperti itu terasa salah, mengganggu, bahkan sedikit menyakitkan.
Vella lalu bergerak ke belakang Kaivan. Tangannya menyentuh lembut bahu pemuda itu saat ia mendekat dengan jarak yang terasa terlalu intim.
"Bayangkan... kalau kita berdiri bersama. Dunia ini bisa menjadi milik kita," bisiknya hangat di dekat telinga Kaivan.
Zinnia dan Felicia saling bertukar pandang.
Kegelisahan diam-diam mengalir di antara mereka.
Kelembutan yang diperlihatkan Vella terasa menyimpan sesuatu yang lain di baliknya.
Kaivan berusaha tetap tenang.
"Maaf, tapi... aku masih pelajar."
Vella tersenyum tipis.
"Itu bukan masalah. Aku tiga puluh tahun. Usia cuma angka." Ia menundukkan pandangannya sedikit, lalu melanjutkan dengan suara pelan yang menggantung lembut di udara. "Dan aku belum menikah."
Sebelum Kaivan sempat menjawab, sebuah suara keras memecah ruangan.
"Apa ini?! Kalau kesepakatan ini terjadi, aku kehilangan kendali atas perusahaanku! Gila kau..."
"trug"
suara kaca menancap di karpet ballrom tiba tiba, lalu pria yang berteriak tadi terjatuh terpisah dengan kepalanya
Kekacauan langsung meledak.
Jeritan memenuhi ballroom saat kepanikan menyebar ke segala arah. Darah mengalir di lantai yang sebelumnya terlihat elegan. Tubuh pria tanpa kepala tergeletak diam, dingin, dan mengerikan.
Namun di tengah kekacauan itu, Vella tetap tenang.
Ia berdiri tegak dengan senyum samar di bibirnya. Dengan suara tajam namun terkendali, ia berkata pelan,
"Tolong... jangan memotong pembicaraan saat seseorang sedang berbicara."
Semua mata langsung tertuju padanya.
Tetapi Vella mengabaikan mereka dan kembali memandang Kaivan.
"Jadi, Kaivan? Tawaranku tidak buruk, kan?"
Kaivan menelan ludah pelan sambil mencoba memahami semuanya. Kematian barusan masih terbayang jelas di pikirannya.
Tetapi Vella...
Bersikap seolah itu hanyalah gangguan kecil.
Ia membuka mulut.
"Paling tidak..."
Sebuah ponsel berdering tajam, memotong ketegangan.
Vella mengangkat panggilan itu. Nada suaranya langsung berubah formal.
"Ya, tentu saja, Pak. Saya akan segera ke sana."
Ia menutup telepon lalu menoleh pada seluruh ruangan dengan senyum anggun.
"Maafkan saya. Ada urusan penting yang harus saya tangani. Saya permisi dulu."
Langkahnya perlahan menuju pintu.
Namun tepat sebelum keluar, ia berhenti.
Tatapannya kembali menemukan Kaivan, tajam dan seolah sudah mengetahui segalanya.
"Saat kita bertemu lagi... pastikan kau sudah memilih," bisiknya, meninggalkan rasa dingin di udara.
Zinnia langsung menggenggam lengan Kaivan. Suaranya bergetar.
"Kaivan... pria itu mati seketika..."
Kaivan mengangguk pelan sambil menenangkan napas.
"Aku tahu. Tapi cara dia melakukannya... kaca itu... bergerak terlalu cepat."
Felicia melangkah mendekat dengan mata tertuju pada jendela yang pecah. Suaranya tenang namun tegas.
"Dia tidak melemparkannya. Dia mengendalikannya. Pecahan itu berasal dari jendela, dan lihat. Potongannya terlalu rapi."
Kaivan mengikuti arah tatapannya.
Tepi pecahan kaca itu terlihat presisi, hampir seperti hasil mesin.
Rasa dingin menjalar perlahan di tulang punggungnya.
Saat ia masih memperhatikan jendela itu, sebuah suara lembut memanggilnya.
Kaivan menoleh dan melihat pasangan suami istri memegang kontrak dengan wajah penuh kecemasan.
Sang ayah melangkah mendekat.
"Namamu Kaivan, kan? Putri kami, Livia... dia bersamamu, bukan?"
Kaivan mengangguk perlahan.
"Ya, Pak. Livia aman. Dia bersama teman-temanku."
Kelegaan langsung terlihat di wajah pria itu.
Ia tersenyum tipis, lalu merobek kontrak di tangannya menjadi beberapa bagian.
Istrinya langsung tersentak.
"Sayang! Kenapa kamu merobeknya?!"
