Sebuah suara kasar memotong udara.
Rapi melangkah maju dengan amarah membara di matanya.
"Apa yang sudah kau lakukan, bodoh?!"
Ia mengayunkan tongkatnya lurus ke arah kepala pria itu.
"Clang!"
Serangan itu tak pernah mengenai sasaran.
Felicia menahannya dengan nunchaku miliknya. Di saat yang sama, Kaivan melempar karambitnya. Rapi menghindar, tetapi Kaivan langsung menarik kembali rantainya.
Kaivan mengeluarkan ponselnya lalu melemparkannya pada Zinnia.
"Evakuasi semua orang. Hubungi tim di luar, sekarang!"
Zinnia menangkap ponsel itu lalu berlari menembus kerumunan panik sambil mengarahkan orang-orang keluar.
"Radit, masuk sekarang! Ballroom!" teriaknya melalui telepon.
Radit langsung menjawab.
"Raphael, Frans, Kaivan butuh bantuan. Kita masuk sekarang."
Raphael membenarkan perlengkapannya sambil mengangguk.
"Yang lain siapin mobil. Kalau kita perlu kabur cepat, langsung menuju lokasi."
Sementara itu, Livia melangkah maju dengan tatapan penuh tekad.
"Aku ikut juga. Aku harus melihat mereka sendiri."
Di dalam ballroom, Kaivan dan Felicia berdiri berdampingan.
Rapi tidak sendirian.
Beberapa pria berbaju hitam muncul di belakangnya, siap bertarung.
Felicia merobek bagian bawah gaunnya agar lebih bebas bergerak. Ia melirik Kaivan dengan mata menyala.
"Kaivan... kita habisi mereka sekaligus?"
Kaivan mengangguk.
"Kita bertahan sampai evakuasi selesai. Setelah itu kita mundur."
Mereka berdiri saling membelakangi.
Felicia memegang nunchaku dalam posisi siap, tubuhnya lentur dan ringan. Kaivan mempererat genggaman pada karambitnya, matanya tajam menunggu serangan pertama.
Udara menegang.
Hanya suara napas mereka yang terdengar, bercampur dengan denyut waktu yang lambat dan berat sebelum badai pecah.
Rapi mendecih sambil mengayunkan tongkatnya dengan gerakan tajam penuh ejekan saat melangkah maju. Di belakangnya, pria-pria berbaju hitam mendekat dari segala arah.
Kaivan bergerak cepat, melewati setiap serangan yang diarahkan padanya dengan napas tetap tenang dan stabil.
Felicia berputar anggun.
Nunchaku miliknya menghantam bahu seorang pria hingga terpental mundur.
"Jangan kira jumlah bisa menggantikan keberanian," balasnya tajam sambil menatap Rapi.
Melihat celah, Kaivan melempar karambitnya.
Meski lawannya menghindar, ia langsung menarik kembali rantainya. Bilah itu berputar di udara dengan suara logam nyaring yang menggema di seluruh ruangan.
Gerakan mereka mengalir begitu selaras, presisi dan penuh kepercayaan, seolah mereka sudah bertarung bersama selama bertahun-tahun.
Di luar ballroom, Zinnia sedang membuka jalur evakuasi di tengah kepanikan yang semakin besar.
Ia berlari sambil memberi arahan, matanya sesekali menatap ponsel untuk memastikan tim bantuan sudah siap.
Di dalam, Kaivan dan Felicia masih berdiri saling membelakangi.
Bahu mereka saling bersentuhan, menjadi penahan agar tetap teguh menghadapi gelombang serangan berikutnya.
Rapi menyipitkan mata dengan kesal saat semakin banyak pria berbaju hitam masuk sambil membawa tongkat upacara panjang.
Tongkat itu diberikan padanya dengan penuh hormat.
Ia baru saja hendak meraihnya...
Namun karambit Kaivan melesat lebih dulu, melilit tongkat itu lalu menariknya langsung ke tangan Felicia.
Tanpa ragu, Felicia menyambungkannya pada nunchaku miliknya hingga berubah menjadi dua tongkat panjang yang siap menghadapi apa pun.
Wajah Rapi langsung berubah penuh amarah.
"Aku belum selesai bicara! Itu senjataku!"
Kaivan melangkah maju dengan senyum dingin tipis di bibirnya.
"Kau pikir ini drama panggung dan aku harus nunggu monologmu selesai?" balasnya ringan.
Lalu ia kembali melempar karambitnya, kali ini lurus mengarah pada Rapi.
Rapi menghindar, tetapi Felicia sudah menerobos penjaganya.
Gerakannya lentur dan ganas. Tongkat panjang itu menari di tangannya saat ia menjatuhkan lawan demi lawan.
Kaivan dan Felicia bertarung dengan irama sempurna.
Saat Kaivan bergerak ke kanan, Felicia menyapu sisi kiri, menciptakan tempo yang membuat siapa pun kewalahan untuk mendekat.
Kaivan memperpendek jarak dengan Rapi.
Pria itu menyambutnya dengan tinju kosong. Serangannya cepat, tetapi di mata Kaivan semuanya terasa melambat.
Instingnya mengikuti setiap gerakan lawan hingga ia berhasil menepis dan melilitkan rantai karambit ke lengan Rapi.
Dari posisi itu, Kaivan mencoba menghantamkan dahinya ke wajah Rapi...
Namun benturannya terasa seperti menghantam batu.
Tubuhnya terpental mundur.
Ia meringis sambil memegangi dahinya yang berdenyut sakit.
Di sisi lain ruangan, saat menahan dua penyerang bersenjata, Felicia melihat kejadian itu dari sudut matanya.
Senyum samar muncul di bibirnya sebelum ia kembali berputar anggun dan menjatuhkan lawan-lawannya.
Gerakannya mematikan, namun tetap indah dalam ketepatannya.
Kaivan mengerang sambil masih memegangi dahinya.
"Felicia! Katamu dulu kau bikin dia pingsan pakai sundulan! Kupikir itu titik lemahnya!"
Felicia yang masih sibuk menahan serangan berhasil membalas di sela-sela gerakannya.
"Iya! Tapi waktu itu aku menghantam kepala dan lehernya sekaligus pakai batang besi! Biar aku yang lawan dia sekarang!"
Ia melesat melewati Kaivan lalu mengambil alih duel melawan Rapi.
Kaivan mundur beberapa langkah dan mulai fokus menahan gelombang penjaga yang terus masuk ke ballroom.
Sementara itu, jauh dari kekacauan tersebut, Radit dan yang lainnya, Raphael, Ethan, Isabel, dan Livia, berhasil menyusup masuk ke hotel.
Karena hampir tidak ada penjaga di luar, mereka bisa masuk dengan mudah.
Ethan berhenti di lorong lalu menoleh pada Isabel.
"Kaivan sekarang di mana? Langkah kita selanjutnya apa?"
Isabel membuka Tome Omnicent.
Matanya mengikuti tinta baru yang perlahan muncul di halaman kosong.
Sebuah pesan singkat terlihat jelas.
"Zinnia ada di pintu darurat belakang."
Tanpa ragu mereka langsung berlari ke sana.
Zinnia berdiri di depan pintu dengan wajah tegang sambil membantu beberapa tamu yang berusaha kabur.
Ia menoleh saat mereka datang, dan kelegaan perlahan terlihat di wajahnya.
Lorong itu kosong.
Tidak ada staf hotel.
Tidak ada penjaga.
Di dalam ballroom, Kaivan masih terus bertarung.
Napasnya mulai berat.
Keringat menetes melewati rahangnya.
Langkahnya mulai goyah, tetapi ia menolak melambat.
"Kenapa mereka belum juga keluar semua...?" gumamnya sambil menggertakkan gigi.
Felicia melompat menghindari ayunan tongkat Rapi.
"Kaivan! Kita harus mundur! Mereka terlalu banyak!" teriaknya dengan suara tegang.
