Cherreads

Chapter 168 - Tak Ada yang Akan Ditinggalkan

Namun sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, tendangan Rapi menghantam perutnya dengan keras. Felicia terpental ke belakang dan menghantam sebuah meja. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, memaksa desahan tertahan keluar dari tenggorokannya. Kaivan sempat melirik ke arahnya, kecemasan berkilat di matanya, tetapi ia tak punya ruang untuk lengah.

Di pintu keluar belakang, Ethan, Raphael, Radit, Isabel, dan Livia akhirnya berhasil mencapai pintu darurat. Napas mereka memburu. Raphael mengernyitkan dahi. "Kenapa lewat pintu belakang?"

Zinnia menggeleng pelan. "Bagian depan dipenuhi penjaga. Terlalu berbahaya."

Ethan meletakkan tangan di bahunya untuk menenangkan. "Penjaga di depan sudah mulai berkurang," bisiknya lirih.

Namun Isabel segera memotong, matanya masih tertuju pada Tome itu. "Belum pasti. Omnicent bilang beberapa penjaga sudah kembali ke posisi mereka."

Di tengah ketegangan itu, Livia akhirnya tak mampu menahan dirinya lagi. Ia berlari memeluk kedua orang tuanya erat. "Ayah, Ibu… akhirnya Livia menemukan kalian," bisiknya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.

Momen hangat itu pecah ketika seorang pria di antara para sandera melangkah maju dengan suara gemetar. "Keluarga kami masih di dalam… kami tidak bisa meninggalkan mereka."

Tanpa berkata apa pun, Raphael mengangkat pistolnya dan mengarahkannya ke pegangan pintu darurat yang terkunci.

"Dor!"

Suara tembakan menggema tajam di lorong. Beberapa wanita tersentak ketakutan, tetapi tak ada waktu untuk panik. Raphael menoleh pada para sandera yang mulai bergerak. "Pergi. Sekarang. Kami akan mencari yang masih terjebak."

Radit mengernyit kesal. "Kau yakin? Ini jauh dari kata mudah."

Raphael mengangguk sekali. "Mungkin. Tapi Kaivan juga pasti akan bilang hal yang sama, kita tidak bisa cuma diam."

Nada suaranya tak memberi ruang untuk dibantah.

Itu sudah cukup bagi Radit. Bersama-sama mereka bersiap menyusuri hotel, memeriksa ruangan demi ruangan, dengan hati berat namun tekad yang tak goyah.

Sementara itu, di ballroom, Kaivan dan Felicia masih terjebak di tengah badai pertarungan. Keringat menempel di kulit Kaivan, rasa lelah menekan pundaknya semakin dalam. Sambil menghindari pukulan berat, ia bergumam pelan, "Sialan… kenapa aku repot-repot melakukan semua ini? Aku sebenarnya bisa saja tidak ikut campur. Tujuanku cuma orang tua Livia."

Felicia meliriknya di sela-sela pertarungannya melawan Rapi. Tatapan kecewa memenuhi matanya. "Kaivan… ucapanmu terdengar seperti penjahat," katanya lirih, suaranya menyimpan luka yang tajam.

Kaivan membalas tatapannya tanpa berkata apa-apa. Konflik berputar di matanya, antara harga diri, amarah, dan rasa bersalah yang saling bertabrakan.

Tak jauh dari sana, Isabel berdiri di samping Zinnia sambil kembali membuka Tome Omnicent. Huruf-huruf baru terbentuk dan berputar menjadi peta kasar hotel. Dengan suara tenang namun mendesak, ia berkata, "Keluarkan ponsel kalian. Foto denah ini. Para sandera tersebar di beberapa kamar dan dapur staf."

Satu per satu mereka memotret peta itu. Mata yang tadi dipenuhi kebingungan kini perlahan memancarkan secercah harapan rapuh. Sketsa kasar itu menjadi cahaya kecil di tengah kekacauan.

Raphael dan Isabel bergegas menuju meja resepsionis, mencari kunci kamar di dalam laci-laci. Sementara itu, Ethan, Radit, dan Livia bergerak menuju dapur. Orang tua Livia hanya bisa menatap putri mereka kembali berlari ke dalam bahaya, antara rasa takut dan bangga yang bercampur di mata mereka. Langkah Livia terasa ringan, tetapi hatinya berat oleh keinginan untuk melakukan hal yang menurutnya benar.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau ikut bersama mereka?" tanya ayahnya dengan suara bergetar antara takut dan terkejut.

Livia menoleh sambil memberi senyum tenang. "Tidak apa-apa, Yah. Kak Kaivan sudah membantu Ayah dan Ibu kabur. Livia juga ingin membantu, seperti yang lain."

Suaranya lembut, tetapi penuh keyakinan. Ia kembali berlari menyusul Ethan dan Radit, meninggalkan kedua orang tuanya terpaku di antara kecemasan dan rasa kagum.

Di meja resepsionis, Raphael dan Isabel membuka pintu demi pintu, dipandu kunci di tangan mereka dan peta dari Tome Omnicent. Setiap suara engsel yang berderit membuat tubuh mereka menegang.

Di dapur yang sunyi, Radit dan Ethan berhenti sejenak. Ruangan itu terlihat benar-benar kosong.

"Coba pintu penyimpanan dingin itu," kata Livia cepat, meski suaranya menyimpan keraguan. Harapannya terasa begitu rapuh.

Radit mengangguk lalu menarik pintu berat itu terbuka. Gelombang udara dingin langsung menyembur keluar, bersama pemandangan yang membuat mereka membeku.

Orang-orang duduk terikat satu sama lain sambil menggigil hebat. Wajah pucat dan tubuh lemah memenuhi ruangan beku itu.

"Gila… banyak sekali," gumam Radit dengan mata membelalak.

Suara lemah terdengar dari kerumunan. "Tolong… tali ini…"

Tanpa ragu, mereka bertiga segera bergerak, melepaskan ikatan satu demi satu. Tali-tali jatuh ke lantai, napas mulai teratur kembali, dan ucapan terima kasih lirih memenuhi udara dingin itu, menciptakan kehangatan samar di tengah suhu membekukan.

Di tempat lain, Kaivan masih terus bertarung. Napasnya kasar, tetapi tekadnya belum runtuh. Ia menerobos para penjaga dan berlari menuju Felicia yang masih terjebak dalam pertarungan sengit.

"Fel!" teriaknya sambil melempar karambit ke arah Rapi.

Musuh itu menghindar, memberi Felicia celah sesaat, meski Rapi segera menjaga jarak lagi dengan cepat.

Kaivan memperhatikan gerakannya. Dalam satu gerakan cepat, ia melilitkan rantai logam ke lengan Rapi dan menguncinya kuat.

Kepanikan melintas di wajah Rapi saat ia berusaha melepaskan diri.

Felicia melangkah maju.

Tongkat logam di tangannya terangkat.

Sebuah hantaman berat mengguncang udara, dan waktu seolah berhenti selama sesaat.

Rapi roboh tak sadarkan diri.

Keheningan perlahan menyelimuti ballroom, menggantung di antara ketegangan dan kelegaan.

Kaivan terbaring lemah di lantai dengan napas memburu. Langit-langit di atasnya membalasnya dengan sunyi, sementara di sampingnya, Felicia masih berdiri tegak, tak mampu menyembunyikan kecemasan di matanya.

"Fel, pergi ke atas. Bantu yang lain. Aku menyusul nanti," kata Kaivan pelan namun mantap.

Felicia langsung menggeleng keras. "Kalau sesuatu terjadi padamu bagaimana? Aku tidak akan meninggalkanmu," balasnya tajam, meski suaranya bergetar oleh dorongan untuk melindunginya.

More Chapters