"Buat masuk ke ballroom, kita butuh undangan khusus," gumam Ethan sambil menyapu ruangan dengan tatapannya.
Kaivan mengernyit. "Kita nggak punya. Dan Tome juga nggak ada di aku. Kalau aku terus menelepon mereka, nanti malah bikin curiga."
Livia mendekat sedikit. "Kayaknya kita masih bisa nyelinap masuk. Asal penjaganya lagi nggak lihat."
Tiba-tiba Ethan menyipitkan mata ke arah sudut ruangan. "Bikin sedikit pengalihan perhatian... cuma sebentar," gumamnya pelan. Tatapannya tertuju pada seorang pemuda. "Kaivan, lihat. Kamu ingat dia?"
Kaivan mengikuti arah pandang Ethan dan ekspresinya langsung menegang. "Darius... ketua geng dari Cimahi. Dulu dia pernah mau nuntut aku."
Felicia langsung menegang. "Yang mana? Biar aku hajar aja..."
Ethan segera menahannya. "Bukan sekarang." Lalu ia menoleh bergantian pada Zinnia, Livia, dan Felicia. Dengan nada setengah bercanda namun tetap serius, ia bertanya, "Di antara kalian bertiga... siapa yang paling jago flirting?"
Ketiga gadis itu saling bertukar pandang. Keheningan kecil turun di antara mereka.
Felicia menarik napas pelan. "Zinnia... kamu dulu pernah pura-pura kena pengaruh Omnidream, kan?"
Zinnia langsung tersentak dengan pipi memerah. "N-nggak! Aku nggak mau. Aku bahkan belum pernah dekat sama cowok seumuranku," bisiknya dengan suara gemetar. Kenangan lama menyentuh ujung pikirannya, terlalu dekat dan terlalu menyakitkan.
Felicia menatapnya dengan simpati lembut. Livia yang sejak tadi diam akhirnya berkata pelan, "Kalau begitu... biar aku aja."
Kaivan langsung menggeleng tegas. "Nggak, Liv. Itu terlalu berbahaya buatmu. Apalagi setelah kejadian kemarin. Seseorang tetap harus melindungimu."
Tatapannya beralih pada Felicia. "Tapi Tome Omnicent nyebut kamu sama Zinnia. Mulai duluan, Fel. Zinnia bakal pegang senjataku. Kalau ada apa-apa, kamu bisa bergerak cepat. Ambil undangannya, lalu pura-pura malu atau kesal kalau dia sadar. Bisa?"
Felicia ragu sesaat sebelum akhirnya mengangguk perlahan. "Baiklah."
Ia melangkah maju dengan percaya diri yang tenang, mengambil segelas minuman dari pelayan yang lewat sebelum mendekati target mereka, Darius, bayangan masa lalu Kaivan. Tatapannya lembut namun menggoda, dengan senyum samar yang sengaja dibuat.
"Kayaknya aku belum pernah lihat kamu di sini," sapa Darius.
Felicia tersenyum lembut. "Ini pertama kalinya aku datang ke sini."
"Orang tuamu kerja di mana?" tanya Darius sambil mempersempit pandangan penuh rasa penasaran.
Felicia menjawab dengan mulus, "Di kantor imigrasi," sambil sesekali melirik ke arah Kaivan. Percakapan mereka mengalir tanpa hambatan, dan dari kejauhan teman-temannya memperhatikan dengan penuh harap. Sejauh ini, rencana mereka berjalan baik.
Sementara itu, Kaivan berbisik pada yang lain, "Kita masih butuh satu undangan lagi. Tapi siapa yang punya?"
Ethan menyapu ruangan dengan mata tajam. "Susah ditebak. Semua orang di sini kelihatan penting."
Tepat saat itu, keributan kecil pecah di sudut lobi. Beberapa tamu mulai berdebat keras hingga menarik perhatian orang-orang sekitar. Kaivan langsung memanfaatkan kesempatan itu.
"Zinnia," katanya lembut namun tegas. "Tabrak pria yang jalan ke arah penjaga itu. Jatuh, lalu pura-pura undanganmu jatuh hilang. Minta bantuan mereka."
Zinnia membeku sesaat. Keraguan memenuhi matanya. "Kalau nggak berhasil gimana?" Suaranya bergetar samar.
Kaivan memberikan senyum tenang. "Felicia bakal ngalihin perhatian mereka. Aku juga bakal bantu. Ini cuma soal timing. Waktu penjaganya lengah, Livia sama Ethan bisa masuk."
Ballroom malam itu berkilau seperti lukisan kemewahan hidup. Lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi, menyebarkan cahaya ke marmer putih yang dingin. Para tamu bergerak dengan elegan sambil membawa gelas minuman yang memantulkan cahaya. Namun di balik keindahan itu, setiap sudut menyimpan bahaya bagi Kaivan dan kelompoknya.
Mereka berkumpul di balik bayangan aula sambil berbisik membahas detail terakhir rencana. Tidak ada ruang lagi untuk ragu. Meski masih gelisah, Zinnia menarik napas panjang lalu akhirnya mengangguk. Ia melangkah maju perlahan namun mantap menuju penjaga ballroom.
Tubuhnya terlihat lembut dengan langkah yang secara alami anggun. Ia bahkan tak perlu banyak berpura-pura. Tatapan samar, gerakan menyibakkan rambut, hingga cara ia membawa dirinya sendiri sudah cukup membuat orang menoleh. Sesuai rencana, para penjaga mulai memperhatikannya.
Di saat yang sama, Kaivan mendekati pria yang terlibat pertengkaran tadi. "Ada apa, Pak? Semuanya baik-baik saja?" tanyanya lembut sambil diam-diam meniup bara masalah itu.
"Pria itu menumpahkan sesuatu ke sepatu saya!" bentak tamu tersebut marah.
Kaivan menjawab dengan nada rendah yang memancing emosi, "Orang seperti dia harusnya minta maaf dengan benar, sekalian bersihin sepatu Anda. Orang sepenting Anda nggak pantas diperlakukan seperti itu."
Amarah pria itu langsung tersulut. Ia berjalan cepat mendatangi orang yang dimaksud dengan emosi meluap. Dan Kaivan tahu, ini akan menarik semua perhatian.
Dan benar saja, dalam hitungan detik suasana langsung memanas. Orang-orang mulai menoleh. Beberapa berbisik, sebagian lain mendekat untuk melihat. Bahkan para penjaga mulai terpecah fokusnya.
Itulah saatnya.
Zinnia bergerak.
Ia melangkah maju lalu sengaja menabrak seorang pria yang lewat. "Aduh!" serunya pelan sambil jatuh dengan gerakan dramatis yang sulit diabaikan. Posisi tubuhnya cukup rapuh untuk membuat para penjaga terkejut hingga langsung bergegas menghampirinya.
Pertengkaran yang dipancing Kaivan semakin memanas. Dua pria mulai saling dorong, menarik perhatian lebih banyak orang. Beberapa tamu mencoba melerai, sementara yang lain hanya menonton dengan rasa penasaran yang bersinar di mata mereka.
