Thivi menyeringai jahil. "Kamu malu karena ketiakmu gelap, atau karena..."
"Permisi?! Tentu aja nggak!" balas Felicia cepat dengan wajah memerah. Ia langsung merebut gaun itu lalu buru-buru masuk ke ruang ganti, meninggalkan tawa kecil di belakangnya.
Sementara itu, Livia menoleh ke arah Zinnia dengan tatapan memohon. "Kak Zinnia... pakai yang ini aja ya? Biar uangnya cukup. Tolong?"
Ia mengulurkan sebuah qipao hitam sederhana dengan bordir emas.
Zinnia memperhatikannya cukup lama dengan ragu. "Ini... kelihatannya seperti pakaian tradisional Tiongkok. Cocok nggak buat aku?"
"Pasti cocok banget! Bentuk tubuh Kak Zinnia pas buat ini," jawab Livia sambil tersenyum lembut.
Zinnia akhirnya mengangguk pelan. Ia menerima qipao itu sambil mengusap kain sutra hitamnya dengan jemari halus. "Makasih, Livi," gumamnya sebelum berjalan menuju ruang ganti.
Meski anggaran mereka terbatas dan candaan terus bermunculan, mereka tetap saling mendukung satu sama lain. Di balik tawa ringan itu, ada ketulusan sederhana dalam cara mereka terus melangkah bersama.
Di bawah cahaya hangat redup butik yang memantul di dinding kaca, Felicia keluar dari ruang ganti. Gaun merah tua ketat yang dikenakannya membingkai tubuhnya dengan indah, mengikuti lekuk tubuhnya tanpa sedikit pun kerutan. Aksesori merah di lengannya memberi sentuhan klasik yang lembut.
Ia berhenti di depan cermin besar, sedikit memiringkan bahu lalu mengangkat dagunya. "Gimana? Bagus nggak?" tanyanya santai, meski senyum percaya diri di bibirnya sudah memberi jawaban.
Thivi langsung menyambar tanpa ragu. "Kenapa tanganmu nggak diangkat? Jangan-jangan ketiakmu gelap." Godaannya langsung memancing gelombang tawa.
Felicia membalas dengan gaya dramatis sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Sayangnya buat kamu, semuanya mulus," katanya penuh kemenangan. Tawa kembali memenuhi ruangan.
Tawa itu perlahan mereda saat pintu ruang ganti lain terbuka. Zinnia melangkah keluar dengan ekspresi sedikit canggung. Qipao hitam itu pas di tubuhnya, membentuk siluet elegan yang tenang, sementara belahan kecil di samping gaun memperlihatkan sedikit bagian kakinya.
"Um... resletingnya nggak bisa nutup sempurna," gumamnya pelan dengan nada frustrasi.
Livia mendekat dengan tatapan penuh simpati. "Cantik banget kok, Kak. Serius."
Zinnia menatapnya sejenak lalu mengangguk pelan. Rasa lega perlahan muncul dalam senyumnya saat ia melangkah lebih jauh ke bawah cahaya lampu. Qipao itu berkilau samar diterpa cahaya, membungkus dirinya dalam pesona yang tenang dan anggun.
Kaivan hanya bisa terdiam menatapnya. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Zinnia hampir tanpa sadar. Ada kekaguman yang tenang di matanya, sesuatu yang tidak perlu diucapkan.
Radit menyenggolnya pelan. "Itu yang dulu sempat duduk di wajahmu, kan?" bisiknya.
"Diam!" desis Kaivan dengan pipi memerah. Kenangan itu kembali muncul, memalukan dan canggung, namun anehnya tidak benar-benar ingin ia lupakan.
Zinnia sedikit berbalik dengan senyum samar di bibirnya. "Ayo jalan. Kalian nunggu apa lagi?" Suaranya lembut namun mantap, memecah keheningan dan membawa mereka kembali pada misi yang menanti.
Kaivan yang masih terpaku terus menatapnya. Gaun hitam itu membentuk siluet anggun di tubuh Zinnia, terlihat lembut sekaligus kuat. Yang terpancar darinya bukan hanya kecantikan luar. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang selama ini tak benar-benar ia sadari. Diam-diam, detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Radit, Raphael, dan Frans pun sempat ikut terdiam, terpikat sesaat. Namun bagi Kaivan, malam ini telah berubah menjadi lebih dari sekadar penyamaran biasa.
Di bawah langit malam yang dipenuhi bintang, mereka tiba di depan sebuah hotel mewah di pinggir kota. Bangunannya besar, dijaga ketat, dan berkilau di tengah malam. Udara di sana terasa berbeda, seolah bahkan waktu ikut menahan napas.
Kaivan membuka Tome Omnicent. Halaman-halaman kunonya berdesir pelan seperti bisikan makhluk hidup. Instruksi mulai muncul dalam huruf bercahaya:
"Kaivan, Felicia, dan Zinnia masuk lebih dulu. Livia dan Ethan menyusul setelahnya. Yang lain tetap siaga di luar. Saat presentasi dimulai, orang tua Livia akan muncul di ballroom. Felicia dan Zinnia mengalihkan perhatian pria-pria berpakaian hitam di ujung ruangan. Kaivan, peringatkan mereka bahwa akan terjadi kekacauan. Suruh mereka menyembunyikan senjata mereka."
Felicia mengernyit. "Kita bahkan nggak bawa tas. Senjatanya mau disembunyiin di mana?"
Isabel langsung maju. "Pinjam ikat pinggang kalian," katanya pada Raphael dan Radit. Tanpa banyak tanya, keduanya langsung menyerahkan ikat pinggang mereka. Dengan gerakan cepat, Isabel mengikatkannya di paha Zinnia dan Felicia.
"Kaivan, kasih karambitmu ke Zinnia. Nunchaku Felicia juga simpan di sana. Penjaga hotel mana yang bakal nekat meriksa paha kalian?"
Felicia sedikit meringis saat nunchaku itu dipasang. "Rasanya aneh, tapi ya sudahlah."
Kaivan menyerahkan karambitnya pada Zinnia. Tak ada kata-kata, hanya tatapan singkat di antara mereka. Zinnia menyelipkan senjata itu di balik gaunnya lalu mengangguk pelan.
Kaivan mengembuskan napas panjang. "Baiklah. Kita pisah mulai dari sini. Isabel, Tome-nya aku titip."
Langkah kaki mereka bergema lembut di lantai marmer dingin saat Kaivan, Zinnia, dan Felicia berjalan menuju pintu masuk utama. Para penjaga di depan berdiri tegap dengan tatapan tajam, tetapi ketiganya melangkah tenang, mengenakan rasa percaya diri seperti zirah. Di bawah cahaya lampu yang lembut, misi mereka akhirnya dimulai.
Di titik pemeriksaan, seorang penjaga menghentikan Kaivan. Pemeriksaannya cukup teliti, tetapi tidak ada yang terlihat mencurigakan selain ponselnya. Setelah helaan lega pelan, ia akhirnya dipersilakan masuk.
Zinnia maju berikutnya dan mendapat pemeriksaan yang lebih ketat. Tangan penjaga bergerak hati-hati, tetapi karambit yang tersembunyi di balik gaunnya tetap tidak ditemukan. Tubuhnya sempat menegang sesaat sebelum akhirnya ia melangkah masuk.
Felicia yang menyembunyikan nunchaku di paha kanannya juga berhasil lolos tanpa masalah.
Di dalam lobi hotel, mereka berhenti sejenak. Marmer putih mengilap memantulkan cahaya chandelier kristal besar di atas mereka. Para tamu penting berbincang santai dengan elegan di berbagai sudut, menciptakan suasana mewah yang dipenuhi rahasia.
Beberapa menit kemudian, Ethan dan Livia tiba. Mereka berkumpul santai di dekat meja prasmanan, berpura-pura menikmati suasana sambil saling berbisik memberi kabar terbaru.
