Mereka semua masuk ke dalam mobil. Raphael, Radit, dan Ethan berdesakan di kursi paling belakang. Felicia, Thivi, Isabel, dan Livia duduk di bagian tengah, sementara Frans berada di depan sebagai pengemudi. Di sampingnya, Kaivan duduk dengan Zinnia yang tenang bersandar di pangkuannya.
Thivi memecah ketegangan dengan seringai jahil. "Kenapa nggak aku aja yang duduk di pangkuanmu, Kaivan?"
Zinnia langsung menjawab sebelum Kaivan sempat membuka mulut. Senyum lembut terlukis di bibirnya. "Kalau kamu yang duduk di depan, Felicia bisa cemburu. Aku lebih aman."
Tawa kecil langsung menyebar di dalam mobil, membuat suasana sedikit mencair. Namun meski tersenyum, ada kesungguhan samar di mata Zinnia. Saat mobil mulai bergerak, ia mendekat lalu berbisik pelan, "Kamu suka, kan?"
Kaivan menahan helaan napas panjang. "Jangan di sini," gumamnya lirih, meski kedua lengannya tanpa sadar semakin erat memeluk gadis itu seolah ingin melindunginya dari dunia luar.
Mereka kembali tenggelam dalam keheningan lembut yang terasa rapuh namun hangat. Zinnia memejamkan mata lalu bersandar nyaman padanya. Di luar sana kekacauan sedang menunggu, tetapi di dalam mobil yang terus melaju itu, mereka menemukan tempat kecil untuk bernafas.
Kaivan menatap ke depan. Tome Omnicent berada di pangkuan Zinnia. Tubuh gadis itu terasa pas berada dalam pelukannya. Ia mencoba membaca isi tome tersebut, tetapi fokusnya terus terpecah antara tulisan kuno di dalamnya dan kehangatan yang berdenyut di dadanya.
Dengan napas pelan, ia akhirnya berkata, "Frans, kita harus mampir ke toko pakaian dulu. Kita bakal menyusup ke acara formal."
"Siap," jawab Frans singkat sambil mengarahkan mobil menuju toko terdekat.
Mereka tiba di sebuah butik bercahaya redup yang berada di antara bangunan kolonial tua. Lampu jalan membentuk bayangan panjang di atas trotoar malam. Setelah mobil berhenti, mereka semua segera turun.
Di dalam butik, deretan jas rapi dan gaun panjang langsung menyambut mereka. Cahaya hangat memantul lembut di atas kain-kain elegan itu.
Raphael mengangkat sebuah jas hitam dengan potongan rapi. "Jadi kita bakal pakai beginian, ya?" katanya santai, meski sorot matanya terlihat serius dan siap.
Suara penuh semangat Thivi langsung terdengar. "Yes! Akhirnya aku bisa pakai gaun!" serunya sambil memutar tubuh dengan gaun merah tua di tangannya.
Namun suasana berubah ketika Kaivan memeriksa dompetnya. Kosong.
"Aku... lupa bawa uang," bisiknya pelan.
Keheningan langsung turun.
Zinnia menoleh cepat ke arahnya. "Hah? Tapi kita udah pilih semuanya."
Ethan tertawa kecil. "Kita pinjam dulu terus balikin nanti aja?"
Radit langsung memotong datar, "Itu tetap namanya nyuri."
Livia maju selangkah dengan gerakan anggun seperti biasa. "Aku bawa uang sih, tapi... cuma cukup buat lima orang."
Kaivan menundukkan pandangannya pada Tome Omnicent di tangannya, seolah berharap buku itu memberinya jawaban. Felicia mendekat dengan tenang. "Jadi... siapa aja yang ikut masuk?"
Setelah terdiam sejenak, Kaivan menjawab dengan mantap. "Aku, Ethan, Felicia, Zinnia, dan Livia. Kita yang menyusup masuk. Sisanya tunggu di luar."
Senyum Thivi perlahan memudar. "Aku nggak ikut lagi?"
"Maaf, Thiv. Ini bukan soal kemampuan. Kita tetap butuh orang di luar. Peranmu penting."
Thivi terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. "...Oke. Aku ngerti."
Isabel ikut menambahkan, "Rencana bagus. Kami bakal siap kalau kalian butuh bantuan."
Waktu berlalu sementara mereka mulai memilih pakaian masing-masing. Kaivan mengenakan jas hitam klasik yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Zinnia memilih gaun gelap sederhana yang memancarkan keanggunan tenang. Tatapan mereka bertemu di pantulan cermin, lalu saling memberi senyum kecil yang penuh pengertian.
Tak ada kata-kata yang diperlukan.
Pada momen itu, kebersamaan mereka terasa seperti janji diam-diam.
Namun kenyataan segera kembali.
Di bawah cahaya neon hangat butik itu, tumpukan pakaian tadi mendadak terasa berat. Bukan karena kainnya, melainkan karena harganya.
Livia berbicara pelan dengan nada canggung. "Um... maaf. Uangnya nggak cukup. Kita harus cari yang lebih murah."
Felicia memperhatikan jas di tangannya. "Jas cowok mahal banget. Tapi mungkin gaun buat cewek masih ada yang lebih murah."
Zinnia menunduk melihat gaun elegan yang tadi dipilihnya. "Jadi... aku nggak bisa pakai yang ini," gumamnya pelan sambil tersenyum tipis, meski nada kecewa masih terdengar samar di suaranya.
Thivi yang sejak tadi penuh semangat langsung bergerak lebih dulu. "Lihat! Aku nemu yang cocok banget buat Felicia!" serunya sambil mengangkat sebuah gaun merah terang.
Felicia mengernyit saat memeriksanya. "Terlalu terbuka. Ketiakku bakal kelihatan. Dan ini ketat banget."
