Kaivan dan Zinnia langsung menjauh refleks. Wajah mereka memerah saat buru-buru duduk tegak, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Beberapa teman lain ikut keluar menyusul Livia, dan dalam sekejap balkon kembali dipenuhi obrolan dan tawa ringan.
"Nikmat banget ya ngerokok diam-diamnya, Kai?" goda Ethan sambil merebut bungkus rokok Kaivan, mengembalikan suasana menjadi hangat seperti biasa.
Namun di balik keramaian itu, sisa keheningan tadi masih tertinggal di dada Kaivan dan Zinnia.
Thivi duduk di samping Kaivan dengan gerakan santai yang anggun, lalu mengambil sebatang rokok untuk dirinya sendiri. Asap tipis melingkar lembut di sekitarnya saat ia menyalakannya. Dalam jeda sunyi yang sempat kembali, suaranya terdengar ringan namun tenang. "Jadi, habis ini kita mau ke mana?"
Zinnia ikut menyahut dengan nada santai yang menyimpan sesuatu di baliknya. "Iya. Jangan bilang kita bakal bongkar isi ponsel lagi?" Ia tertawa kecil, meski hanya Kaivan yang memahami makna tersembunyi di balik ucapannya. Tatapan mereka sempat bertemu sesaat, cukup lama untuk saling memahami hal yang tak terucapkan, sebelum kembali larut bersama yang lain sambil menyembunyikan rahasia mereka di balik senyum kecil.
Kaivan mengembuskan napas pelan sebelum menjawab dengan nada santai. "Kita jual emasnya dulu. Setelah itu baru cek lagi pakai Tome Omnicent." Jawabannya membuat bahu Zinnia sedikit lebih rileks. Ketegangan pribadi di antara mereka perlahan menghilang untuk sementara.
Raphael yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya ikut berbicara. "Oh iya. Livia, gimana kabar orang tuamu? Kira-kira ayahmu bisa bantu jual itu nggak?"
Livia menggeleng sambil mengernyit bingung. "Aku udah coba hubungi mereka. Tapi dua-duanya nggak ada yang angkat. Aneh banget."
Radit yang duduk santai dengan kaki selonjor menimpali, "Coba telepon kakakmu. Siapa tahu dia tahu sesuatu."
Livia cepat-cepat mengangguk lalu menelepon. Tak lama kemudian terdengar suara lelah samar dari seberang sana. "Kak, kenapa Ayah nggak angkat telepon? Aku nggak bisa hubungi beliau sama sekali."
"Nggak tahu. Ibu juga nggak angkat. Mungkin mereka lagi sibuk."
Felicia melirik Kaivan lalu berbisik pelan, "Kai... ini aneh, kan?"
Kaivan duduk bersila di kursi rotan dengan wajah diterangi cahaya biru lembut dari Tome Omnicent yang melayang di depannya seperti pecahan kristal hidup. Ia menatapnya diam beberapa saat sebelum bergumam pelan, "Mereka sedang menghadiri rapat di hotel daerah Dago malam ini."
Keheningan langsung turun di antara mereka. Bahkan suara serangga malam di luar terasa ikut menghilang.
Isabel yang duduk dekat pagar teras menghentikan ayunan kakinya. Rambut merah mudanya berkilau lembut diterpa cahaya saat ia bertanya lirih, "Jadi... ini bukan kayak penculikan waktu di vila itu?"
Kaivan menggeleng perlahan. "Kelihatannya bukan. Tapi... bagian mereka nggak bisa dihubungi itu yang nggak masuk akal."
Frans yang bersandar di tiang kayu dengan bayangan panjang membentang di belakangnya akhirnya bicara. "Ini mencurigakan. Kita harus tetap waspada." Suaranya rendah, tenang, hampir terlalu tenang.
Radit duduk di anak tangga dengan tubuh sedikit membungkuk, jemarinya mencengkeram lutut sendiri. Tatapannya terlihat jauh, tetapi tubuhnya tampak siap bergerak kapan saja, seolah menunggu perintah berikutnya.
Malam terasa semakin sunyi, seperti sedang menahan napas.
Kaivan kembali menundukkan pandangan. Tome Omnicent berdenyut lembut seperti jantung hidup.
"Lalu... sekarang kita harus gimana?" tanyanya.
"Orang tua Livia sedang diancam. Mereka dipaksa mengikuti perintah seorang operator jaringan gelap karena percaya Livia telah diculik. Padahal Livia aman, dia bersama kalian semua. Hanya saja mereka belum mengetahui itu."
Kata-kata itu menyelimuti mereka seperti kabut dingin yang berat.
Livia langsung menegang di kursi goyangnya. Matanya membesar, dipenuhi ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan.
Lalu,
Nada dering ponsel memotong keheningan. Tajam. Mendesak.
Semua orang langsung menoleh.
Livia refleks meraih ponselnya di meja kecil dekatnya, tetapi sebelum tangannya sempat menyentuh benda itu, Radit bergerak lebih cepat. Tangannya menyambar lalu menepis tangan Livia sebelum mengambil ponsel itu terlebih dahulu.
"Radit! Kenapa?! Itu telepon dari orang tuaku!" seru Livia panik. Ia buru-buru maju dengan tangan gemetar berusaha merebutnya.
Radit menatap layar ponsel tanpa berkedip. Sikap cerianya lenyap, digantikan sesuatu yang tajam dan dingin.
Suaranya rendah, hampir terlalu tenang. "Sekarang kita harus apa?"
Kaivan perlahan menutup Tome Omnicent. Bunyi kecil saat buku itu tertutup terdengar seperti awal dari sesuatu yang tak terhindarkan. Ia berdiri perlahan, mantel tipisnya bergerak diterpa angin malam. Tatapannya tenang dan tak tergoyahkan.
"Kita pergi. Sekarang," katanya.
Frans langsung berjalan menuju mobil yang terparkir di bawah bangunan. Radit menyerahkan ponsel itu kepada Kaivan. Isabel dan Livia saling bertukar pandang sesaat sebelum ikut menyusul tanpa berkata apa-apa. Langkah mereka mantap, bergerak dalam tujuan yang sama.
