Ibu Kaivan yang sejak tadi mendengarkan akhirnya membiarkan perasaannya meluap. Matanya berkilau samar, meski senyumnya tetap lembut. "Meski begitu... justru saya yang bersyukur karena kalian semua ada untuknya," bisiknya pelan. Rasa syukur mengalir dari suaranya, seperti kelegaan seorang ibu setelah bertahun-tahun dipenuhi kekhawatiran.
"Dulu dia selalu mengurung diri di kamar, main game sendirian terus... saya takut dia tumbuh tanpa punya teman," lanjutnya dengan suara yang sedikit bergetar oleh kesepian lama.
Felicia mengulurkan tangan lalu menggenggam tangan wanita itu dengan lembut. "Jangan khawatir, Tante. Aku janji akan selalu menjaga Kaivan."
Senyum wanita itu semakin hangat, dipenuhi rasa lega. "Hati saya tenang melihat dia dikelilingi teman-teman sebaik kalian..." katanya sambil sedikit menunduk. "Saya titip Kaivan pada kalian semua. Terima kasih sudah selalu ada di sisinya."
Mereka saling bertukar pandang dengan senyum kecil yang tenang. Malam itu, mereka semua memahami satu hal. Ikatan di antara mereka bukan sesuatu yang sederhana. Di balik tawa dan air mata yang mereka bagi, tersimpan kenangan masing-masing tentang Kaivan, seorang pemuda yang diam-diam telah mengubah hidup mereka.
Zinnia bangkit dari sofa lalu mendekati ibu Kaivan. "Tante, kamar mandinya di mana?"
"Pakai yang di atas saja, Nak. Yang bawah sedang dipakai."
Zinnia mengangguk lalu berjalan menaiki tangga kayu. Rumah itu terasa hangat, setiap derit lantainya menyatu dengan suasana lembut yang memenuhi rumah.
Setelah keluar dari kamar mandi, matanya menangkap pintu balkon yang sedikit terbuka. Tirainya bergoyang perlahan, seolah memanggilnya mendekat.
Di luar, angin malam menyambutnya dengan lembut. Di bawah langit penuh bintang, Kaivan duduk sendirian di bangku panjang sambil memegang rokok yang masih menyala di antara jemarinya. Asap tipis berputar ke atas, membentuk lingkaran samar sebelum larut dalam gelap malam.
"Hei, kenapa sendirian di sini? Yang lain lagi di bawah," kata Zinnia dengan nada ringan namun penuh rasa penasaran.
Kaivan tersenyum kecil, matanya masih menatap langit. "Cuma pengin duduk sebentar. Ngerokok sambil lihat bintang." Suaranya menyatu pelan dengan udara malam.
Zinnia duduk di sampingnya. Mereka tidak berbicara, tetapi keheningan di antara mereka terasa nyaman, dibungkus oleh sunyinya malam yang lembut.
Beberapa menit berlalu sebelum Kaivan menoleh ke arahnya. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu ke sini?"
"Cuma penasaran aja. Ini pertama kalinya aku main ke rumahmu," jawab Zinnia sambil tersenyum kecil.
Saat berbicara, tangannya tanpa sengaja menyentuh bungkus rokok Kaivan. Benda itu jatuh ke lantai balkon dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar. "Ah, maaf, salahku," katanya cepat sambil langsung membungkuk refleks untuk mengambilnya. Gerakannya begitu spontan sampai ia tidak sadar posisi yang baru saja ia lakukan di depan Kaivan.
Kaivan yang sejak tadi menatap langit langsung teralihkan oleh sesuatu yang membuatnya membeku. Wajahnya seketika memerah. Kenangan di vila itu langsung terlintas kembali, terutama momen memalukan saat Zinnia terpeleset dan jatuh tepat di atasnya. Ingatan itu muncul begitu jelas hingga panas di wajahnya tak bisa ia kendalikan.
Zinnia mengambil bungkus rokok itu lalu menyerahkannya kembali dengan jemari yang sedikit gemetar. "Ini..." bisiknya pelan. Saat melihat wajah Kaivan yang memerah, matanya menyipit penasaran. "Kenapa mukamu merah, Kaivan?"
Kaivan buru-buru memalingkan wajah. "Nggak apa-apa... aku cuma... nggak sengaja lihat sesuatu."
Butuh beberapa detik bagi Zinnia untuk memahami maksudnya. Pipi gadis itu perlahan ikut menghangat saat ia sadar posisi tubuhnya tadi. Secara refleks ia menyentuh bagian bawah punggungnya, mendadak sadar akan bagaimana posisinya beberapa saat lalu. Keheningan tipis menyelimuti mereka, canggung namun anehnya terasa lembut, ditemani angin malam yang membawa jejak samar keintiman.
Ia kembali duduk di samping Kaivan, kali ini lebih tenang meski tetap tanpa kata. Keheningan yang tersisa tidak terasa buruk. Rasanya seperti tirai tipis yang menyembunyikan rasa malu dan tawa yang belum berani mereka keluarkan.
Beberapa saat kemudian, Zinnia menoleh pelan. Suaranya lembut, nyaris tenggelam oleh malam. "Waktu di vila itu... kamu serius soal sinyal tadi?"
Kaivan berkedip bingung. "Yang mana?"
Zinnia sedikit mendekat. Napasnya menyentuh pelan leher Kaivan. Bisikannya terdengar ringan, namun cukup tajam untuk membuat detak jantung Kaivan goyah. "Tentang... waktu kamu bilang suka kalau aku duduk di atasmu."
Tangan mereka bersentuhan tipis, nyaris tak terasa. Namun keduanya langsung tersentak seperti terkena percikan listrik kecil. Secara refleks mereka saling menjauh, meski rasa hangat aneh di antara mereka masih tertinggal.
"M-maaf..." ucap mereka bersamaan. Tatapan mereka sempat bertemu sesaat sebelum keduanya buru-buru memalingkan wajah, mencoba menenangkan perasaan yang mulai berantakan.
Zinnia menarik napas perlahan sebelum kembali berbicara. "Kalau waktu itu... kamu benar-benar suka, dan pengin itu terjadi lagi... bener begitu, Kaivan?"
Kata-kata itu keluar lembut, tetapi membawa beban yang sudah terlalu lama tertahan di dadanya. Kaivan terdiam, menatap mata gadis itu seolah mencoba memahami arti di balik setiap nada gemetar dalam suaranya.
"Zinnia... ah, a-anu... hehe, lupakan aja. Aku juga nggak tahu kenapa ngomong begitu," gumam Kaivan gugup sambil mematikan rokoknya. Senyum canggungnya sama sekali tidak mampu menyembunyikan detak dadanya yang semakin kacau.
Zinnia terkekeh pelan, malu namun tulus. "Maaf... aku juga nggak tahu kenapa bisa ngomong begitu." Tatapan mereka kembali bertemu, dan pada saat itu dunia terasa mengecil di sekitar mereka. Seolah hanya ada mereka berdua, dibungkus suasana hangat dan rapuh yang membuat waktu terasa berhenti.
Kaivan menatap langit redup di balik pagar balkon, mencoba menata pikirannya. "Jujur aja... aku nggak marah soal kejadian waktu itu. Hehe... cuma rasanya agak aneh kalau dipikir sekarang."
Zinnia menundukkan pandangan sambil memainkan ujung rambutnya. "Haha... gitu ya? Anehnya aku malah nggak merasa canggung sama sekali. Biasanya aku nggak bisa duduk dekat cowok, tapi... ahaha... kali ini rasanya beda."
Kaivan melirik jarak di antara mereka yang semakin dekat. "Duduk dekat... kayak gini?"
Zinnia mengangguk pelan dengan pipi yang mulai memerah. "Iya... kayak gini."
Kaivan tersenyum tipis lalu sedikit mendekat. Tidak banyak, tapi cukup sampai paha mereka saling bersentuhan. Keheningan lembut kembali turun di antara mereka, ditemani detak dua hati yang sama-sama tidak tenang.
Zinnia menundukkan kepala dengan wajah hangat memerah, namun senyum lembut tetap tertinggal di bibirnya. "Hehe... iya. Kayak gini. Aku nggak keberatan, Kaivan," bisiknya pelan, nyaris terbawa angin malam yang masuk dari balkon terbuka.
Dan kemudian,
"BRAAAK!" Pintu balkon terbuka keras, menghancurkan momen rapuh yang baru saja tercipta. Livia muncul dengan senyum cerah. "Wah, angin di luar enak banget!" serunya riang, sama sekali tidak sadar telah memotong suasana intim di antara mereka.
