Cherreads

Chapter 158 - Malam yang Terasa Seperti Rumah

Tentu saja Ethan tidak bisa menahan diri. Ia mendekat sambil menyeringai jahil, lalu berbisik pelan, "Bukan cuma nginep, mereka jug..."

"Dasar mesum!" Siku Felicia langsung menghantam perut Ethan sebelum kalimat itu selesai keluar.

Ethan langsung membungkuk sambil megap-megap, tapi itu masih belum cukup. Thivi melompat ke punggungnya dan menutup mulutnya dengan panik. "Jangan ngomong gitu, Ethan!" serunya dengan wajah merah padam.

Ethan hanya bisa mengerang lemah di balik telapak tangan Thivi, sementara yang lain pecah dalam tawa. Ketegangan yang tadi tersisa langsung mencair, berganti menjadi kehangatan dan kekacauan kecil yang menyenangkan. Jauh di dalam hati, mereka semua tahu, malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan.

Saat mereka tiba di rumah Kaivan, langit sudah benar-benar gelap. Udara malam terasa sejuk, membawa rasa lega setelah seharian berada di bengkel. Sepuluh sahabat berdiri di depan sebuah rumah modern minimalis dengan dinding bata ekspos dan jendela kaca lebar yang memancarkan cahaya hangat dari dalam.

Kaivan membuka pintu sambil tersenyum cerah, tetapi sebuah suara riang langsung menyela sebelum ia sempat berkata apa pun.

"Wah, rame banget malam ini!" seru kakak perempuannya, Kira, dari balik pintu. Matanya menyapu seluruh kelompok dengan tatapan penuh godaan. "Raphael, Ethan, tamu langganan. Tapi Felicia sama Thivi...? Mau tidur bareng Kaivan, ya? Hahaha!"

"Teteh!" pekik Felicia. Wajahnya langsung memerah seketika saat ia memeluk dirinya sendiri dan terdiam karena malu.

Di dekat sana, Kira yang sejak tadi memperhatikan dengan tenang mendekat ke arah Kaivan. Dengan senyum jahil, ia menarik pelan kerah baju adiknya. "Oi, Kaivan," bisiknya setengah bercanda, setengah penasaran, "kamu serius mau tidur sama mereka semua?"

Kaivan mengembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan diri di tengah kekacauan yang makin menjadi. "Nggak," jawabnya tegas. "Aku udah jelasin semuanya tadi." Tapi ia tahu betul, tawa Kira tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Sebelum godaan itu berubah canggung, Livia yang jelas tidak memahami pembicaraan mereka langsung angkat suara dengan polos. "Memangnya kenapa? Tidur bareng ya cuma tidur bareng. Livi juga kadang tidur sama kakak laki-laki Livi."

Thivi yang berdiri cukup dekat langsung merangkul Livia setengah panik lalu berbisik cepat, "Livia... kalau mereka bilang 'tidur bareng', maksudnya itu... melakukan hal dewasa."

Livia berkedip bingung. Wajah lembutnya dipenuhi ketulusan yang benar-benar polos. "Tapi... bukannya melakukan hal dewasa itu cuma pelukan sama saling sayang?" tanyanya tulus, tanpa sadar kalau kata-katanya baru saja mengguncang suasana.

Thivi langsung tertawa lepas, ringan dan benar-benar tanpa ditahan. "Hahaha, bukan, bukan gitu maksudku, Livi... astaga, kamu polos banget," katanya sambil mengusap kepala gadis itu dengan penuh sayang.

Tawa kembali pecah di antara mereka, menghapus sisa ketegangan yang ada. Satu per satu mereka masuk ke dalam rumah. Udara malam membawa aroma samar masakan rumahan yang masih tertinggal di lorong. Di ruang tamu, cahaya lampu hangat memantul lembut di dinding kayu, menciptakan suasana nyaman dan menenangkan. Sebuah sofa empuk menunggu tubuh-tubuh lelah yang sejak tadi menghabiskan malam dengan canda dan rahasia yang masih mereka simpan masing-masing.

Saat mereka memasuki ruangan, ibu Kaivan keluar dari dapur. Senyumnya hangat, seperti selimut tipis di malam yang tenang. Wajahnya memancarkan kebanggaan lembut ketika menyadari putranya membawa pulang teman-teman baru.

"Astaga, banyak sekali wajah baru. Siapa saja ini?" sapanya lembut. Suaranya tenang, seperti alunan musik yang tidak mengganggu keheningan.

Frans maju lebih dulu dengan sikap sopan dan tenang. "Nama saya Frans, Tante," ucapnya pelan namun tegas. Isabel mengikuti dengan langkah anggun. "Saya Isabel. Senang bertemu dengan Tante," katanya sambil tersenyum lembut. Livia yang selalu ceria sedikit memantul kecil di tempatnya. "Hai! Aku Livia. Senang bertemu dengan Ibu Kaivan!" serunya riang. Terakhir, Zinnia melangkah mendekat dengan tenang. Ia sedikit menundukkan kepala sebelum berkata serius, "Nama saya Zinnia, Tante. Merupakan kehormatan bisa bertemu dengan Tante."

Ibu Kaivan mengangguk puas lalu mempersilakan mereka duduk. Aroma sup ayam hangat menguar dari dapur. Meja makan yang sederhana namun penuh kehangatan telah dipenuhi nasi hangat, masakan rumahan, dan tawa pelan yang perlahan mulai tumbuh di antara mereka.

Di meja makan, Felicia dan Thivi duduk di sisi kanan dan kiri Kaivan. Mereka bergantian mencoba menyuapinya sambil tertawa setiap kali Kaivan menolak dengan setengah hati. Dari seberang meja, Zinnia hanya memperhatikan dengan ekspresi antara geli dan tidak percaya sambil menyeruput soda miliknya.

Frans dan Livia duduk di ujung meja sambil terkikik membahas kejadian-kejadian konyol sepanjang hari. Di ruang tamu, Raphael, Ethan, Radit, dan Isabel sibuk bermain kartu, pecah tertawa setiap kali ada yang kalah.

Malam mengalir begitu lembut, seolah dunia sama sekali tidak memiliki beban. Namun tiba-tiba Kaivan berdiri. Ekspresinya berubah samar. "Aku ke kamar mandi sebentar," gumamnya singkat. Langkahnya cepat, hampir terlihat gelisah. Beberapa temannya sempat menoleh, tetapi perhatian mereka segera kembali pada percakapan masing-masing.

Sementara tawa masih terus memenuhi rumah dengan kehangatan dan cahaya lembut, Kaivan berjalan sendirian menuju kamar mandi. Di balik pintu yang tertutup, ia sedikit membungkuk sambil menekan perutnya. Bukan hanya karena terlalu banyak makan, tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak ikut tertawa bersama mereka.

Sementara itu, di luar kamar mandi, suasana ceria perlahan berubah menjadi kehangatan yang tenang. Ibu Kaivan berdiri di tengah ruangan. Suaranya lembut dan penuh kasih, mengalir seperti air di sela bebatuan. Ia memandang teman-teman Kaivan, dan untuk sesaat, waktu terasa melambat.

"Terima kasih," ucapnya pelan namun jelas, "karena kalian mau berteman dengan Kaivan."

Kata-kata sederhana itu menyentuh sesuatu jauh di dalam hati mereka. Di balik suaranya tersimpan kerinduan seorang ibu, seorang ibu yang selama bertahun-tahun melihat putranya hidup sendirian dan menutup diri dari dunia.

Suasana berubah. Tawa mereka tadi perlahan mereda menjadi keheningan yang penuh makna. Tatapan mereka saling bertemu, menyadari bahwa ini bukan sekadar kumpul biasa.

Sesuatu telah tumbuh di dalam hangatnya malam itu, rasa syukur, penerimaan, dan kasih sayang yang tak pernah benar-benar terucapkan.

Radit berbicara lebih dulu. Wajah cerianya yang biasa kini tampak lebih lembut. "Seharusnya saya yang berterima kasih, Tante. Kaivan pernah membantu saya," katanya jujur. Bayangan kenangan lama melintas di matanya, saat-saat ketika Kaivan menariknya keluar dari masalah yang tidak akan pernah ia lupakan.

Zinnia ikut mengangguk pelan. Nada suaranya lembut namun tegas. "Kalau aku nggak ketemu Kaivan waktu itu, dompetku mungkin sudah jatuh dari jembatan." Ia tersenyum tipis. Kejadian kecil, namun menjadi awal pertemuan yang terus membekas di hatinya.

Lalu Thivi yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. Tatapannya tenang, tetapi suaranya sedikit bergetar. "Iya, Tante... kalau Kaivan nggak nolong aku di motor malam itu, mungkin aku sudah nggak ada di sini." Kata-katanya mengalir pelan seperti angin malam, tenang namun terasa berat. Semua orang tahu cerita itu. Dan semua orang tahu betapa dekatnya Thivi dengan kehancuran sebelum Kaivan datang menolongnya.

Felicia yang sejak tadi diam perlahan mengangkat pandangannya. "Kalau dipikir-pikir, aku juga yang harus berterima kasih sama dia. Kaivan bantu aku waktu aku... hampir menyerah." Kata-katanya sederhana, tetapi menyimpan beban dari perjuangan yang selama ini ia sembunyikan, sampai Kaivan diam-diam mengulurkan tangan.

Bahkan Ethan yang biasanya paling jahil pun ikut serius. "Kalau bukan karena Kaivan, mungkin aku masih terjebak di geng motor bodoh itu." Suaranya rendah, membawa kejujuran tentang seberapa jauh Kaivan telah menariknya keluar dari kegelapan.

Raphael berbicara setelahnya dengan nada mantap. "Kalau Kaivan nggak menghentikanku malam itu... mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang nggak akan pernah bisa kuperbaiki." Ada rasa syukur yang tenang di balik suaranya.

Isabel memberikan senyum kecil. "Dan kalau Kaivan nggak muncul waktu itu, mungkin ponselku sudah hilang dari dulu." Ucapannya terdengar ringan, namun tetap tulus.

Livia terkikik pelan, tetap menjadi sosok paling ceria di antara mereka. "Heheh, kalian semua ternyata punya cerita spesial sendiri sama Kak Kaivan, ya?" Tawanya membuat ketegangan yang tersisa perlahan menghangat kembali, sementara beberapa mata mulai tampak berkaca-kaca.

More Chapters