Cherreads

Chapter 157 - Livia yang Mengubah Persamaan

Sementara Livia kembali menikmati mangkuk makanannya, hangat sinar matahari sore menyelinap masuk melalui jendela toko, memantulkan cahaya lembut di wajahnya. Tome di tangan Kaivan berpendar samar dengan cahaya keunguan, seolah merespons ketenangan suasana di sekitarnya.

Di sudut ruangan, Raphael bersandar dalam diam, sampai getaran halus dari sakunya memecah keheningan. Ia mengangkat ponselnya tanpa ekspresi. "Ya?"

Suara tajam Zinnia terdengar dari seberang sambungan. "Raphael, kasih ponselnya ke Kaivan."

Tanpa banyak tanya, Raphael menyerahkannya. Kaivan menerimanya sambil tetap menatap Tome. "Ya, Zinnia. Ada apa?"

"Ponsel terakhir lagi diproses. Sudah tidak ada unit bekas lagi."

Kaivan menutup Tome perlahan. Tiga ketukan pelan di sampulnya mengiringi pikirannya. "Baik. Kumpulkan emasnya dulu. Nanti kita ke sana."

Ia mengembalikan ponsel itu. Raphael mengangguk kecil, dan keheningan kembali menyelimuti meja mereka, hangat, damai, namun dipenuhi sesuatu yang tak terucap.

Lalu suara jernih Livia memecah sisa hening itu.

"Kalian juga bisnis emas? Kayak Papa aku?" tanyanya polos penuh rasa penasaran, duduk bersila di atas karpet sambil memeluk lutut dan memiringkan kepala seperti anak kecil yang mendengar sesuatu yang akrab.

Raphael meliriknya, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Alih alih menjawab, ia bertanya pelan namun tajam.

"Livia... sekarang ayahmu di mana?"

Livia mengangkat bahu ringan. "Nggak tahu. Papa selalu sibuk," jawabnya santai, seolah kalimat itu tak menyimpan luka apa pun.

Para pria di sana saling bertukar pandang singkat. Jawabannya terlalu sederhana. Ada sesuatu yang terasa janggal, sesuatu yang diam diam berbahaya. Mungkin gadis itu memang bukan anak biasa.

Mereka memilih untuk tidak mendesaknya. Sore itu, setelah membereskan semuanya, mereka kembali ke bengkel. Emas menunggu untuk diproses, rencana harus disusun, dan mungkin, ada seorang gadis yang perlu dilindungi dari dunia yang terlalu gelap.

Saat mereka tiba di bangunan tua di dalam kompleks mal yang hampir kosong, langit sudah berubah jingga. Dari luar tempat itu tampak biasa saja. Namun di dalamnya, dunia lain terbuka.

Livia melangkah masuk dengan mata berbinar. Ekspresinya perlahan berubah dari penasaran menjadi kecewa. Bengkel ini sama sekali tidak seperti bisnis emas mewah yang selama ini ia bayangkan dari pekerjaan ayahnya. Tidak ada kilau glamor, hanya meja kerja, kabel, dan komponen bekas.

Di ruangan utama, Isabel menyambut mereka ceria. "Selamat datang semuanya!" Namun saat matanya bertemu Livia, ia mendekat ke Kaivan dan berbisik, "Gadis ini... yang dari Out of the Island itu?"

Kaivan mengangguk sekali. Tanpa penjelasan.

Livia mengikuti lorong sempit sambil memandangi setiap sudut. Ketika memasuki ruang kerja, langkahnya terhenti. Untuk pertama kalinya ia melihat proses ekstraksi secara langsung. Aroma logam tipis bercampur bau bahan kimia memenuhi udara. Semuanya terasa asing, namun anehnya memikat.

Di salah satu sudut, Frans dan Felicia membongkar ponsel bekas dengan gerakan cepat dan presisi. Tangan mereka bergerak lincah di antara kabel dan chip, hampir tanpa bicara, namun tak pernah kehilangan fokus. Di sisi lain, Isabel menuangkan cairan kimia ke dalam wadah besar. Uap tipis naik dari campuran tempat komponen direndam, membawa aroma tajam dan suasana berat seperti senja sebelum hujan.

Zinnia duduk di meja logam, memindahkan serpihan kecil emas ke dalam botol kaca satu per satu. Gerakannya hati hati dan tepat. Setiap gram emas seolah menyimpan cerita, tentang perjuangan, keberanian, dan keputusan yang diambil dalam diam.

Senja perlahan berubah menjadi malam saat pekerjaan mulai melambat. Bunyi alat alat mereda, digantikan ketenangan yang menyelimuti ruangan. Thivi berdiri di ujung sana, menatap sisa komponen ponsel yang berserakan.

"Aku nggak tahu ponsel bekas bisa jadi sumber emas," bisiknya pelan, hampir seperti doa yang tertinggal di dinding.

Kaivan menutup Tome Omnicent perlahan lalu menoleh ke Zinnia. "Berapa gram yang bisa kita lepas, Zinnia?" tanyanya tenang.

"Empat ratus sembilan puluh dua," jawab Zinnia tanpa ragu, suaranya lembut namun pasti.

Rasa lega samar itu langsung pecah ketika Raphael bersandar di dinding dengan ekspresi mengeras.

"Pemerintah melarang penjualan model seperti ini. Risikonya makin besar," gumamnya lirih namun berat, seperti bisikan badai yang menunggu pecah.

Keheningan menyapu mereka.

Namun sebelum kekhawatiran benar benar tumbuh, Livia mengangkat wajahnya dengan senyum lembut seterang matahari.

"Kalau mau, Kak... aku bisa minta Papa bantu. Kalian bisa jual emasnya lewat dia." Suaranya cerah, hampir bersinar.

Semua mata langsung tertuju padanya. Gadis yang sejak tadi hanya terlihat ceria dan polos kini seperti lentera kecil di tengah gelap. Harapan perlahan menyala di mata mereka, rapuh namun hangat.

Zinnia yang tadi masih ragu langsung berseri.

"Empat ratus sembilan puluh dua gram dikali empat ratus sepuluh ribu... itu lebih dari dua ratus juta rupiah!" Ia menghitung lagi dengan cepat dan yakin. "Dibagi sepuluh orang... dua puluh juta per orang. Gila."

Ketegangan langsung mencair. Tawa kecil mulai terdengar di antara mereka, ringan dan menular.

Masih penasaran, Thivi merangkul bahu Livia.

"Jadi sebenarnya ayahmu kerja apa sih, Liv?"

Livia mengangkat dagu sambil mengetuk bibirnya pelan, berpikir.

"Papa punya bengkel emas, kayak... bikin perhiasan emas gitu," jawabnya bangga dengan senyum lembut namun percaya diri.

Mata Kaivan menyipit sejenak dalam pikirannya, lalu senyum hangat perlahan muncul.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian semua menginap di rumahku malam ini? Orang tuaku juga sudah lama ingin bertemu kalian. Sekalian merayakan semuanya."

Isabel langsung duduk lebih tegak.

"Wah, seru tuh! Aku juga belum pernah ke rumahmu, Van."

"Bukan ide buruk," tambah Frans sambil mengangguk.

Namun Zinnia masih belum sepenuhnya yakin. Ia memiringkan kepala dan menatap Kaivan curiga.

"Memangnya nggak apa apa cewek menginap di rumahmu?"

Ruangan mendadak sunyi.

Lalu Radit, dengan nada jahil khasnya, menyela.

"Hah? Kamu belum tahu? Felicia sama Thivi sering nginap di sana kok."

Kepala Zinnia langsung menoleh cepat ke arah dua gadis itu, matanya membelalak penuh keterkejutan.

More Chapters