Cherreads

Chapter 156 - Gadis yang Seharusnya Tidak Ada di Sini

Mereka menunggu di luar hotel selama beberapa menit sebelum pria itu akhirnya keluar sendirian. Raphael bergerak lebih dulu. Dengan langkah cepat dan presisi, ia mendekat dari belakang lalu menutup wajah pria itu menggunakan saputangan yang sudah dibasahi cairan anestesi. Pria itu hanya sempat terkejut sesaat sebelum tubuhnya melemas dan jatuh tanpa suara.

Ethan segera menelepon ambulans. Suaranya terdengar tegang, namun tetap tenang saat melaporkan seorang pria tak sadarkan diri di depan hotel. Tak butuh waktu lama hingga para petugas medis datang dan membawa pria itu pergi, tanpa sedikit pun menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah pria itu pergi, Raphael, Ethan, Kaivan, dan Radit memasuki Hotel Melati. Bangunan tua itu terasa suram. Lampu lorong yang redup, dinding kusam yang catnya mengelupas, serta karpet usang seakan menelan suara langkah kaki mereka.

Dipandu oleh nomor kamar yang tertulis di Tome Omnicent, mereka berjalan dengan hati-hati.

Sesampainya di depan kamar, Kaivan mengetuk pintu perlahan.

Ketegangan menggantung di udara.

Terdengar langkah kaki dari dalam.

Pintu itu terbuka perlahan.

Seorang gadis muda berdiri di baliknya.

Livia.

"Kalian siapa?" tanyanya lembut, matanya dipenuhi kebingungan sekaligus kewaspadaan kecil.

Radit langsung maju dengan gaya dramatis. "Kami datang untuk menyelamatkanmu… dari kekejaman dunia ini!"

Kaivan segera menjitak dahi Radit.

"Berhenti. Kita bukan aliran sesat."

Namun suasana ringan itu langsung memudar ketika mereka melihat Livia lebih dekat.

Gadis kecil berambut pirang itu tampak begitu polos dan pemalu. Tatapannya jernih, tanpa rasa takut, hanya bingung seperti anak kecil yang tersesat di tempat yang tak ia pahami.

Ethan mendekatinya dengan tenang, sedikit menunduk agar sejajar dengan tinggi matanya.

"Ngapain kamu di sini? Hotel begini bukan tempat yang cocok buat anak seumuranmu."

Livia tersenyum polos, tanpa curiga sedikit pun.

"Aku mau ketemu cowok dari aplikasi. Katanya ngobrol di sini lebih aman. Terus dia keluar bentar buat beli permen di minimarket."

Keempat pemuda itu saling berpandangan.

Tanpa perlu berkata apa pun, mereka semua memahami bahaya di balik situasi itu.

Rahang Ethan menegang.

Tatapan Kaivan berubah tajam.

Raphael menghela napas pelan.

Dan Radit… yah, Radit malah terlihat seperti sedang menonton komedi absurd.

Radit menyeringai sambil bersandar di dinding, kedua tangannya dilipat di belakang kepala.

"Permen, ya? Jangan-jangan maksudnya sekalian beli 'pelindung'."

Livia memiringkan kepalanya seperti anak kecil yang sedang mendengar teka-teki.

"Pelindung? Tapi tempat ini kan sudah aman."

Radit hampir tertawa keras, namun Kaivan langsung menyela dengan wajah serius.

Berdiri di samping Ethan, ia berkata tanpa basa-basi,

"Maksudnya kondom. Buat… ya, supaya aman. Paham?"

Livia menatap Kaivan dengan ekspresi polos yang sama. Kali ini kepalanya miring ke arah sebaliknya.

"Kondom itu apa?"

Waktu seolah berhenti.

Tak ada yang menjawab.

Satu-satunya suara hanyalah dengungan kipas tua di langit-langit kamar.

Ethan memejamkan mata.

Raphael memalingkan wajah.

Radit menutup mulutnya, berusaha mati-matian menahan tawa.

Namun di balik keheningan itu, ada sesuatu yang terasa jauh lebih berat.

Mereka semua menyadarinya sekarang.

Livia terlalu polos.

Terlalu murni.

Ia belum tersentuh oleh sisi buruk dunia yang sedang mereka hadapi.

Untuk sesaat, keempatnya merasa seperti penjaga kecil yang mati-matian ingin melindungi kepolosan itu agar tidak ternoda.

Kaivan mengembuskan napas perlahan lalu melirik yang lain.

Mereka semua mengangguk pelan.

Sebuah kesepakatan tanpa kata.

Ethan melangkah mendekat dengan senyum yang kini jauh lebih lembut.

"Jadi… habis ini kamu mau pergi ke mana?"

Wajah Livia langsung berbinar di bawah cahaya jingga matahari sore.

"Kakak-kakak tahu tempat bakso enak nggak? Livia pengen bakso!"

Keempat pemuda itu terdiam.

Bukan karena bingung.

Melainkan karena gemas.

Begitu saja, ketegangan yang tadi memenuhi udara perlahan mencair.

Radit tertawa sambil mengacak rambutnya sendiri.

Kaivan hanya menggeleng kecil.

Raphael memperlihatkan senyum tipis.

Sementara Ethan mengusap lembut kepala Livia.

"Oke. Kita cari bakso enak buat kamu."

Tak lama kemudian, mereka duduk di sebuah warung pinggir jalan yang terkenal dengan baksonya.

Uap hangat mengepul dari mangkuk-mangkuk di meja, memenuhi udara dengan aroma kuah kaldu yang menenangkan.

Livia makan dengan sangat bahagia, terus mengangguk kecil seolah baru menemukan dunia kecil yang aman untuk dirinya.

"Enak banget! Livia belum pernah makan bakso seenak ini!"

Matanya berbinar cerah saat menyendok bakso berikutnya dengan antusias seperti anak kecil.

Kaivan memandangnya dari samping.

Ada rasa lega kecil yang perlahan melembutkan tatapannya.

Melihat Livia bisa makan dengan tenang tanpa rasa takut, tanpa bahaya, membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Di seberang meja, Raphael, Ethan, dan Radit mengobrol santai.

Meski begitu, tatapan mereka sesekali tetap mengarah pada Livia.

Masih memperhatikannya.

Masih menjaganya.

"Aneh juga ya? Kali ini semuanya terasa lebih gampang. Nggak ada penculikan, nggak ada berantem," kata Kaivan setengah bercanda, setengah lega.

Raphael mengangkat alisnya tipis. Suaranya terdengar ringan.

"Bagus kalau begitu. Nggak perlu drama. Jadi… setelah ini apa?"

Kaivan membuka tasnya lalu mengeluarkan Tome Omnicent.

Jarinya menyentuh tiap halaman seolah sedang menyentuh sejarah yang hidup.

Namun sebelum ia sempat fokus membaca, suara manis Livia kembali terdengar.

"Kaak, Livia boleh nambah nggak? Livia masih lapar," katanya polos, pipinya sedikit menggembung seperti anak kecil yang meminta tambahan permen.

Kaivan tertawa kecil.

"Tambah aja, Liv. Aku udah kenyang."

More Chapters