Jari itu menekan pelatuk. Dunia seakan menahan napas.
"Bang!!"
Letusan senjata merobek sunyi malam.
Yusra terjatuh, tubuhnya terguling dan kejang, tercekat oleh jeritan yang tak lagi terdengar manusiawi. Darah menyembur dari selangkangannya, meresap ke tanah dan menghapus senyum miringnya untuk selamanya. Teriakannya seperti raungan binatang yang diseret ke neraka. Jemarinya mencakar tanah, tubuhnya bergetar seperti tersambar petir, kedua tangannya mencengkeram luka yang telah mengakhiri kejantanannya.
"AAAAAGHH! SENJATAKU, SENJATAKU!! NGGH!! KAU... KAU MATI!! DASAR KAU...!!" suaranya pecah, retak seperti kaca bergerigi. "API, ADA API DI DALAMKU!!" Ia terengah, seolah setiap tarikan napas menarik besi membara langsung ke dalam paru-parunya.
Rasa sakit itu bukan sekadar sakit. Itu kehancuran. Itu akhir dari segalanya. Neraka pribadi yang diciptakan hanya untuk satu manusia. Setiap detik, setiap denyut rasa itu, mengikis kewarasannya, rasa malu, amarah, dan keterkejutan melebur menjadi racun yang menggerogoti.
Hutan tetap diam. Angin malam berbisik lirih. Namun dunia telah berubah.
Raphael melangkah maju, amarahnya tak lagi terbendung. Dengan satu gerakan tajam, ia menendang wajah Yusra tepat sasaran.
Suara retakan menggema. Seolah dunia membeku.
Yusra terhempas di rumput lembap, napasnya tersengal lemah. Tubuhnya melintir dalam penderitaan yang tak bisa ditampung kata. Bahkan saat itu, matanya masih liar, menyala oleh kebencian dan keputusasaan.
Thivi, yang masih terperangkap dalam ilusi Omnidream, berteriak, "Kaivan, jangan! Jangan sakiti Kaivan!" Suaranya bergetar ketakutan. Dalam pikirannya yang hancur, wajah Yusra dan Kaivan telah bercampur, kebenaran dan mimpi buruk tak lagi bisa dibedakan.
Yusra berusaha bangkit, tubuhnya gemetar hebat. "Kau manusia kotor... kenapa kau tembak di sana? Aku akan..."
Satu tendangan lagi membungkamnya. Sepatu Raphael menghantam kepala Yusra, memutus setiap kata, setiap napas. Tubuh Yusra terkulai lemas. Malam menelan hembusan napas terakhirnya.
Raphael berdiri, dadanya naik turun, matanya menyapu kegelapan. Ia menoleh pada Zinnia.
"Kau tidak kedinginan... dengan pakaian seperti itu?" Suaranya, yang tadi bagai petir, kini turun lembut seperti kabut pagi.
Zinnia berjongkok, memeluk tubuhnya sendiri. Wajahnya memerah, tubuhnya gemetar, bukan hanya karena dingin, tetapi juga karena rasa malu yang tiba-tiba menyergap saat ia menyadari keadaannya.
"Tolong..." bisiknya. "Bisa ambilkan pakaianku? Itu... di dekat reruntuhan."
Raphael mengangguk, melangkah pelan melintasi tanah yang beberapa saat lalu menjadi panggung kegilaan.
Di bawah cahaya bulan pucat, setiap jeritan, setiap kilatan rasa sakit, setiap penghinaan malam itu perlahan larut dalam sunyi.
Di bawah stasiun tua Radio Malabar, udara menegang seperti jerat tak terlihat. Aroma tanah lembap bercampur bau logam menyengat hidung Felicia saat ia berlari menembus koridor bawah tanah yang sempit. Dinding beton retak yang dilapisi lumut menelan gema langkahnya, memanjangkan setiap detik menjadi sesuatu yang ditelan kegelapan.
Rantai baja yang dulu membelenggunya kini melilit di tangannya, berubah menjadi senjata yang cukup tajam untuk membunuh.
Satu peluru membelah udara, memecah keheningan. Peluru itu memantul liar di dinding sempit. Felicia menjatuhkan diri ke samping, menempel pada beton dingin. Sesaat kemudian, peluru lain menghantam tempat ia berdiri tadi, menyemburkan serpihan tajam seperti percikan api.
"Sial," desisnya. Napasnya tak beraturan. Ia menyelipkan tangan ke dalam kantong perlengkapan. Dua flashbang tersisa, tak lebih. Secercah harapan tipis di labirin mematikan ini.
Bayangan-bayangan mengejarnya dalam kecepatan tanpa suara. Ethan dan Isabel muncul dari kegelapan, napas mereka terengah. Felicia menatap Isabel tajam, suaranya rendah namun tegas.
"Cari Kaivan. Sekarang."
Masih gemetar, Isabel membuka Tome Omnicent. Halamannya bersinar samar, seolah bernapas dalam gelap. Jemarinya menyentuh sebuah simbol, dan peta ilusi dari kompleks bawah tanah itu mekar di udara.
"Dia di kiri, di..."
Letusan lain memotong ucapannya. Peluru menghantam beton di samping mereka, debu meledak ke udara. Isabel menjerit, tubuhnya tersentak, hampir menjatuhkan Tome.
Felicia mendecakkan lidah, suaranya setajam bilah yang ditarik di tengah sunyi malam. Mata merahnya berkilat dingin. Ia tahu ini bukan saat untuk bersembunyi.
Dengan gerakan sehalus bayangan, ia merendah. Rambut hitamnya berayun seperti tinta yang bergerak. Satu lutut menyentuh lantai, satu tangan menahan tubuhnya, tatapannya menembus kabut asap mesiu.
"Saat tembakan berhenti... cari Kaivan," bisiknya, lembut dan mantap, seperti riak kecil di permukaan danau yang tenang.
Ethan berlindung di balik tumpukan puing, rahangnya mengeras. Keringat mengalir di pelipisnya. "Felicia... kau akan sendirian. Itu... itu gila!"
Ia menoleh perlahan, gerakannya tenang namun pasti. Matanya tajam, berkilau dengan keyakinan seseorang yang telah menerima medan perang sebagai takdirnya. Ia memberi satu anggukan singkat.
"Percaya padaku."
Tak ada waktu untuk berdebat, hanya jarak tipis antara hidup dan mati.
Felicia menarik sebuah flashbang dari sabuknya, ibu jarinya mengait pin. Ia menahan napas, lalu melemparkannya ke arah sumber tembakan dengan presisi dingin.
"Dingggg!"
Cahaya membelah koridor, membalikkan dunia seketika. Jeritan panik menyusul.
"Aaah! Aku tidak bisa melihat!"
Felicia bergerak.
Tubuhnya mengalir bersama sisa cahaya, cepat, senyap, mematikan. Kakinya nyaris tak menyentuh tanah sebelum kembali melesat.
Rantai baja berputar di genggamannya. Dalam satu detak jantung, ia menyerang.
"CRACK!"
Rantai itu menghantam tengkorak penyerang yang buta cahaya. Tulang retak. Senjatanya terlepas. Tubuhnya terpental ke dinding sebelum jatuh dalam diam.
