Sekarang Aku Memegang Pistolmu
Dan di tengah kegelapan itu, sebuah ide putus asa menyala. Ia harus mendekati Yusra, sosok yang paling ia takuti, tetapi teman-temannya berada dalam bahaya.
Tanpa ragu, Zinnia melepaskan pakaiannya. Yang tersisa hanyalah bra dan celana dalam. Langkahnya kecil, namun terasa sangat berat saat ia melangkah keluar ke tempat terbuka, tubuhnya terbuka di hadapan ancaman dan ilusi.
Tak jauh dari sana, Yusra menoleh ke arah Frans dan Radit yang masih menahan Thivi. Suaranya memecah udara, keras dan tajam. "Lepaskan gadis itu, atau kalian mati di sini juga!"
Thivi menjerit, wajahnya terpelintir oleh teror yang tak terlihat. "Kaivan! Tolong aku!" Suaranya pecah, seolah memanggil dari dalam mimpi buruk.
Tiba-tiba, suara lain membelah kekacauan. "Kaivan! Kamu di mana?!"
Zinnia berdiri gemetar dalam bayangan, air mata mengalir di pipinya. Ia memanggil seseorang yang tidak ada. Yusra meliriknya, senyum buruk terukir di bibirnya. "Aku di sini, Kaivan. Kemari."
Zinnia berlari ke arahnya. "Kaivan! Aku kangen kamu!" serunya, ekspresinya kosong, pikirannya tenggelam dalam ilusi.
Radit berteriak, "Zinnia! Ada apa denganmu?! Jangan kena tipu!"
Frans menahan Thivi dengan kuat saat gadis itu meronta. Ia melirik Radit. "Dia tadi masih berpakaian lengkap. Kenapa sekarang cuma pakai... itu?"
Mereka terdiam. Kebingungan menebal di udara. Zinnia telah jatuh ke dalam ilusi sama dalamnya seperti Thivi.
Mata Yusra berkilat liar saat ia mengarahkan pistol ke Raphael. Tak ada yang bergerak. Waktu terasa melambat, seperti dunia berhenti bernapas.
Debu beterbangan. Reruntuhan masih menghangat. Angin malam membawa bau logam darah dan sisa api yang memudar. Segalanya terasa seperti detik sebelum ledakan.
Zinnia berdiri hampir tanpa pakaian, wajahnya kosong, tubuhnya gemetar, matanya terpaku pada Yusra. Ia tidak sadar apa pun. Sosok itu melangkah mendekat, senyum licik terukir di bibirnya. Ujung jarinya hanya beberapa sentimeter dari pipi Zinnia.
"Mau Kaivan menghangatkanmu?" bisik Yusra, suaranya merayap seperti racun.
Zinnia berbisik lemah, "Kaivan... aku kedinginan..." Suaranya retak, matanya berkabut.
Raphael mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Amarah meluap, tetapi tubuhnya terlalu hancur untuk bergerak. Frans dan Radit masih menahan Thivi, wajah mereka tegang.
Kekacauan menelan malam saat Thivi berteriak, "Kaivan, kenapa kamu pilih Zinnia juga?!" Suaranya pecah, luka di hatinya terbuka. Jeritannya menembus kegelapan.
Yusra terkekeh pelan. Napasnya yang pahit menyentuh kulit Zinnia. Suaranya merendah, licin.
"Santai... Kaivan ada di sini. Kamu mau dimanja, kan?"
Tangannya merayap naik ke bahu Zinnia. Sentuhan kotor yang memaksa. Zinnia menahan napas. Ketakutannya pada laki-laki mencengkeram dadanya, namun ia tetap bertahan. Demi semua orang.
"Lakukan saja seperti biasa... waktu kita berdua," bisiknya pelan.
Yusra terdiam, lalu tertawa. "Hah! Jadi Kaivan sering enak-enakan sama yang montok ini?"
Ia melangkah lebih dekat, membuka kancing bajunya satu per satu dengan santai, seolah dunia sudah ada di tangannya.
Cahaya bulan menembus celah pepohonan. Rumput bergoyang pelan. Tanah menjadi panggung sunyi bagi jiwa-jiwa yang bertabrakan.
Radit menahan Thivi dari belakang. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena ketegangan. Tangan kirinya mencengkeram tanah. Napas Thivi tersengal, panik membelitnya.
Radit menoleh. "Kamu dengar dia bilang 'seperti biasa'? Jangan-jangan Zinnia sama Kaivan... gitu?"
Frans menyipitkan mata. "Zinnia tidak pernah dekat dengan cowok. Bahkan ke Kaivan saja, dia selalu jaga jarak. Tapi ini bukan waktunya bahas itu."
Keheningan menegang. Ilusi semakin dalam. Satu gerakan salah bisa berarti mati.
"Bajingan, Yusra! Berhenti!"
Raphael muncul dari pepohonan, napasnya berat, tatapannya tajam seperti pisau. Setiap langkahnya membawa satu tujuan: menghancurkan.
Yusra menoleh, senyum miring muncul di bibirnya. Dengan gerakan cepat, ia menarik pistol dan menempelkannya ke kepala Zinnia.
"Gerak, dia mati."
Zinnia gemetar. Keringat mengalir di pelipisnya. Dadanya naik turun cepat. Namun matanya menantang kematian.
Thivi menjerit, tubuhnya melengkung dalam pelukan Radit. Air mata mengalir deras. "Jangan, Kaivan! Kalau kamu mau... aku juga bisa!"
Suaranya hancur. Raphael menoleh. Hatinya terpelintir.
Yusra melirik Thivi dengan jijik. Ia memutar pistol di jarinya sebelum kembali mengarahkannya ke Zinnia.
"Tunggu giliran, toket gede."
Zinnia tampak rapuh, hanya mengenakan pakaian dalam tipis, tubuhnya menggigil. Namun sesuatu berubah di matanya. Bukan lagi malu, melainkan amarah yang membara.
Yusra menatapnya dengan geli. Gerakannya lambat, penuh niat. Ia membuka celananya, merendahkan Zinnia sepenuhnya.
"Cepat. Pegang pistolku," katanya, nadanya kotor dan menjijikkan.
Tangan Zinnia gemetar saat menyadari pistol itu berada dekatnya. Namun ia tidak melakukan apa yang Yusra harapkan.
Moncongnya terangkat. Bukan ke bawah, tetapi lurus ke titik paling rentan milik Yusra.
Mata Zinnia tidak berkedip. Di dalamnya berputar balas dendam, rasa sakit, dan tekad untuk mengakhiri semua penghinaan.
"Dengan senang hati," bisiknya tenang, namun dalamnya seperti badai yang lama tertahan. "Yusra... sekarang aku yang pegang pistolmu."
