Cherreads

Chapter 117 - Dia Mencoba Membunuhku Demi Pria yang Ia Cintai

Ia menatap Raphael. Bukan lagi sebagai sekutu, melainkan sebagai pengkhianat. Napasnya memburu. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena amarah. Air mata mengalir di pipinya, namun tak membawa duka. Ia sudah memilih.

"Aku... aku akan melindungi Kaivan!" teriaknya, suaranya pecah di antara patah hati dan kemarahan.

Raphael membeku. Gadis lembut yang dulu ia kenal kini berdiri di hadapannya sebagai ancaman. Meski hatinya hancur, ia tak punya ruang untuk ragu.

Thivi meraung lalu menerjang. Tubuhnya bergerak dengan kecepatan mengerikan, didorong oleh kekuatan ilusi. Tinju melesat membelah udara. Raphael hanya punya sepersekian detik, ia menjatuhkan diri ke samping, nyaris lolos.

Tendangan berputar menyusul tanpa jeda. Ia merunduk, napasnya kacau. Serangan demi serangan menghujani. Ia menahan, namun setiap benturan menggetarkan lengannya, memaksanya mundur.

Dalam sekejap, Raphael tersandung. Sebuah pukulan menghantam dadanya, merampas napas dari paru-parunya. Ia terbatuk, darah menyembur dari bibirnya.

Belum sempat menarik napas lagi, tendangan berputar menghantam tulang rusuknya. Tubuhnya terlempar, menghantam batu. Dadanya terasa terbakar. Namun rasa sakit paling tajam adalah kenyataan itu sendiri, Thivi, yang ingin ia selamatkan, kini menjadi pisau yang diarahkan padanya.

"Latihanmu masih kurang, Raphael," bisik Yusra. Suaranya menyelinap di malam seperti pecahan kaca, membelah sunyi.

Raphael terhuyung, napasnya kacau. Tubuhnya nyaris tak sanggup berdiri saat rasa sakit menggerogoti setiap bagian dirinya. Darah mengalir dari luka-lukanya, meresap ke tanah kasar. Dalam pandangan kabur, ia melihat sesuatu yang lebih menyakitkan dari luka mana pun, Thivi berdiri di atasnya dengan batu besar di tangan, wajahnya tenggelam dalam air mata dan kebencian yang bukan miliknya.

Raphael menggigil. Ia tahu ia harus bertindak. Mengumpulkan sisa tenaga, ia menghindar dari pukulan mematikan. Batu itu menghantam tanah dengan dentuman keras yang mengguncang tulangnya. Sedikit lebih lambat saja, ia sudah mati.

Tak ada waktu untuk bernapas. Hanya berbekal tekad, Raphael menerjang Yusra. Belati di tangannya berkilat di bawah cahaya bulan, satu-satunya cahaya di malam yang penuh pengkhianatan. Ia mengarahkannya lurus ke tenggorokan.

Yusra nyaris tak menahannya. Ujung bilah itu melintas sangat dekat dengan kulitnya. Ia terhuyung mundur, matanya melebar, Raphael bukan lagi korban pasif seperti yang ia kira.

Namun Raphael tak berhenti. Ia berputar, tendangannya menyapu kaki Yusra hingga ia terjatuh. Inilah kesempatannya. Ia mengangkat belati tinggi. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena rasa sakit, karena semua yang telah hilang.

Sebelum bilah itu turun, sesuatu menghantam sisi kepalanya.

BRAK!

Tubuhnya terpental ke samping, menghantam tanah. Dunia berputar. Pandangannya kabur. Kepalanya terasa seperti terbelah.

Ia menatap ke atas. Thivi berdiri di atasnya, menggenggam dahan kayu tebal. Darah menetes dari ujungnya. Matanya kosong. Senyumnya terdistorsi, bayangan iblis yang mengenakan wajah gadis yang dulu tersenyum lembut di sampingnya.

Tome Omnidream telah mengubahnya menjadi monster yang tak pernah bisa dibayangkan Raphael. Dan dia... dialah yang menjatuhkannya.

"Aku mengenainya, Kaivan!" teriak Thivi, suaranya pecah dengan kegembiraan yang tak ia pahami. Ia berdiri bangga dalam ilusinya, meski tubuhnya gemetar.

Yusra bangkit perlahan. Tubuhnya terluka, namun tawanya, serak dan mengejek, menembus malam. Ia menatap Raphael yang tergeletak tak berdaya di kakinya, dan senyumnya semakin lebar.

"Bagus, Thivi. Kalau dia mati, aku aman. Lalu kita bisa menikah. Kita bisa punya anak setiap malam. Kamu mau, kan?"

Wajah Thivi memerah dalam. Di bawah pengaruh Tome, kata-kata Yusra berubah menjadi sesuatu yang suci. Ia menatap Raphael, bukan lagi sebagai pelindung, melainkan musuh.

Napasnya bergetar, ia mengangkat dahan kayu tinggi. Jarinya mengerat. Ini bukan sekadar serangan, ini adalah keselamatan masa depan yang ia yakini nyata.

Raphael hanya bisa melihat, dunia berputar dan memudar. Rasa sakit merobek tubuhnya, namun pikirannya berjuang untuk tetap sadar. Ia tak ingin mati seperti ini, bukan di tangan dirinya.

Napasnya tersendat. Malam berubah menjadi angin dingin dan penderitaan. Ia melihat Thivi, gadis dengan senyum nakal yang dulu ia kenal, kini berubah menjadi makhluk yang terbelenggu kebencian. Tome telah merenggut segalanya.

"Aku akan mengakhiri ini," bisik Thivi, suaranya gemetar namun teguh dalam kebohongan.

Dahan itu turun. Namun Raphael, yang bertahan di ambang kesadaran, berguling di detik terakhir. Pukulan itu menghantam tanah dengan keras.

Thivi tak ragu. Ia mengayun lagi, lebih cepat. Raphael menahan dengan belatinya, namun benturan itu membuatnya terhuyung. Kakinya goyah. Tubuhnya hampir runtuh.

Dari kejauhan, Frans dan Radit muncul, wajah mereka berubah ngeri saat menyadari apa yang terjadi.

"Sial, kita harus menghentikannya!" teriak Radit.

Frans tak menunggu. Ia berlari maju, tubuh atletisnya bergerak seperti petarung terlatih. Dengan waktu yang tepat, ia menangkap lengan Thivi sebelum dahan itu menghantam Raphael lagi.

"Cukup, Thivi! Ini bukan dirimu!" desisnya, menahan kekuatannya. Namun Thivi meronta liar. Tubuh kecilnya bergerak dengan keganasan yang tak wajar, seolah kerasukan. Radit menyusul, memegang bahunya.

"Lepaskan aku! Mereka akan menyakiti Kaivan!" teriak Thivi, air matanya mengalir, matanya mengeras oleh keyakinan yang lahir dari ilusi.

Raphael berdiri perlahan, goyah. Matanya kosong, namun hatinya tak sanggup berpaling dari wajah Thivi yang hancur. Kata-kata tak lagi berarti. Tak ada yang bisa menjangkau hati yang telah dilahap kegelapan.

Lalu,

"BANG!"

Suara tajam membelah udara. Semuanya terhenti. Kayu berhenti berderak. Napas terhenti. Asap tipis melayang dari pistol di tangan Yusra, senyum angkuhnya terlihat di balik laras.

"Kalian merusak kesenanganku," katanya ringan. "Aku cuma ingin hidup tenang, cuma aku dan gadis manis yang bisa kupeluk setiap malam. Sederhana, kan?"

Raphael menunduk. Bahunya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena amarah yang mendidih.

"Kau... sampah..."

Yusra tertawa, tajam dan mengejek. "Iya. Dan sampah seperti aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku tidak peduli siapa mereka, selama tubuh mereka cukup hangat untuk mengisi malamku."

Udara menegang. Setiap kata yang ia ucapkan adalah racun, menyulut api di hati siapa pun yang mendengarnya.

Di antara reruntuhan stasiun Radio Malabar yang dulu megah, udara malam terasa berat, seperti napas terluka yang tertahan di dada. Zinnia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, tubuhnya gemetar bukan hanya karena dingin, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam, ketakutan yang menekan dadanya.

Matanya menyapu puing-puing, mencari dengan panik. Tangannya bergetar saat mencoba menenangkan diri.

"Apa... yang harus kulakukan...?" bisiknya, suaranya tertelan angin. Detak jantungnya berpacu, seolah akan meledak.

More Chapters