Cherreads

Chapter 116 - Dia Menciumnya Saat Aku Hanya Bisa Menonton

BANG! BANG!

Tembakan menggema di sepanjang koridor, bukan untuk membunuh, melainkan untuk mengejutkan. Para penjaga yang berlari masuk seketika terhenti, kaget oleh perlawanan yang tak mereka duga.

Felicia melempar salah satu granat kejut. Cahaya menyilaukan dan suara melengking memecah udara, membuat para penjaga kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, ia menerjang maju, menjatuhkan mereka satu per satu menggunakan rantai yang tadi mengikatnya.

Sementara itu, Raphael terus maju mengejar Thivi. Napasnya memburu saat ia berlari menembus bayangan tanpa ujung. Hanya satu hal yang ada di pikirannya, menemukan Thivi sebelum semuanya terlambat.

Di bawah kegelapan mencekik stasiun Radio Malabar, Raphael tersandung masuk ke sebuah pintu terbuka, tubuhnya penuh luka dan darah. Tujuannya jelas, membawa Thivi kembali.

Lalu sebuah suara memecah malam.

"Kaivan! Jangan tinggalkan aku lagi!"

Jantung Raphael berdegup kencang. Ia berlari ke arah suara itu. Di ujung lorong, Thivi sedang memeluk seorang pria. Sosoknya tinggi, melindungi, familiar, namun Raphael tahu.

Itu bukan Kaivan.

Itu Yusra.

Dada Raphael menegang. Sosok yang dulu ia hormati kini berdiri di depannya, tersenyum tipis, tangannya bertumpu di pinggang Thivi dengan sentuhan yang tampak lembut namun terasa menghina. Ekspresinya tenang, terlalu tenang. Tapi Raphael bisa melihat kebenaran di baliknya.

Ini bukan cinta. Ini manipulasi.

Permainan kejam dari Tome, Omnidream.

Amarah dan rasa bersalah berputar seperti badai. Yusra bukan hanya berpura-pura menjadi Kaivan, ia mencuri jiwa Thivi, mengurungnya dalam mimpi palsu yang jauh lebih mematikan daripada peluru mana pun.

"Yusraaa!" teriak Raphael, suaranya merobek malam seperti kaca pecah. Matanya menyala penuh amarah, namun Yusra hanya membalas dengan senyum tipis, tenang, seolah semua itu tak berarti.

"Aku Kaivan," bisiknya licik. "Sejak awal, akulah yang paling memahami dirinya." Kata-katanya menusuk seperti duri ke dalam hati Raphael.

Tubuh Thivi bergetar, matanya berkaca-kaca, memeluk pria di depannya. Suaranya pecah.

"Jangan... Kaivan... jangan lepaskan aku... peluk aku... tolong..."

Rapuh. Tersesat dalam cinta yang tidak nyata.

Raphael tak bisa bergerak. Detak jantungnya menggema, tapi tubuhnya membeku. Ia tahu, yang memeluk Thivi bukan Kaivan. Itu monster berwajah manusia. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah melihat.

Yusra menunduk, menyentuh pipi Thivi dengan lembut, sentuhan yang sepenuhnya palsu.

"Tentu saja, Thivi."

Wajahnya mendekat, dan dengan kesombongan seorang pemilik atas sesuatu yang bukan miliknya, ia mencuri sebuah ciuman. Itu bukan kasih sayang. Itu hukuman. Segel paksa yang menghina, dan di bawah kendali Omnidream, Thivi hanya bisa terisak dalam diam.

Tangannya mendorong lemah dada Yusra. Matanya kosong. Tubuhnya bukan lagi miliknya.

Raphael berdiri terpaku, amarahnya naik perlahan seperti asap. Hatinya terbakar, perlahan dan kejam, dihancurkan oleh ketidakberdayaan. Dunianya seakan runtuh saat martabat Thivi direnggut tanpa ampun.

"Bajingan...!" raungnya, suaranya merobek udara. Tangannya meraih pisau di pinggang, menggenggamnya seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap hidup. "Kau juga melakukan ini pada mereka, kan?! Para wanita itu... yang tak bisa kuselamatkan!"

Bayangan bermunculan di benaknya. Wajah-wajah wanita yang dulu ia lindungi, kini hanya tersisa sebagai luka dalam ingatan. Nama-nama yang terhapus. Dan di balik semua itu, berdiri satu sosok yang sama.

Yusra.

Namun bajingan itu hanya tersenyum, matanya tenang seperti predator yang yakin mangsanya tak punya jalan keluar.

"Bajingan?" gumamnya. "Aku membersihkan dosa mereka, Raphael. Dosa seorang wanita... adalah milik suaminya. Katakan padaku, apakah aku salah?"

Kata-kata itu menghantam seperti peluru. Tidak membunuh tubuh, tapi merobek hati. Raphael tahu, Yusra bukan sekadar monster. Ia adalah kejahatan yang percaya dirinya suci.

Senyum Yusra melebar tanpa penyesalan. Bibirnya kembali turun, merusak sunyi malam saat ia mencuri ciuman lain dari Thivi. Tangannya bergerak tanpa ampun, menghapus sisa rasa aman terakhir yang masih dimiliki gadis itu.

Raphael mengepalkan tangan, darahnya mendidih. Ia ingin mencabik Yusra hingga tak tersisa.

"Kau akan membayar semuanya!" teriak Raphael. Suaranya retak oleh amarah, rasa sakit, dan dendam. Dalam satu gerakan, ia mencabut pisaunya. Bilahnya menangkap cahaya bulan, dan malam bersiap menyambut darah.

Raphael menyerbu. Setiap ayunan pisaunya membawa tekad untuk mengakhiri semua ini. Namun Yusra, licin seperti ular, menghindar dengan mudah. Ia mundur selangkah, masih memegang wajah Thivi seolah genggamannya tak akan pernah lepas.

"Maafkan aku, Thivi... punggungku sakit karena Raphael," bisik Yusra, memelintir kebenaran menjadi racun. Ia menunjuk ke arah Raphael, menanamkan kebencian dalam ilusi.

Kata-katanya mengguncang hati Thivi, mengarahkannya pada kebencian yang bukan miliknya.

Thivi menatap Raphael, air matanya berubah menjadi bara amarah.

"Aku akan melindungi Kaivan!" teriaknya, bahunya gemetar dalam pelukan kebohongan. Tubuh rapuhnya bergerak agresif, menyerang Raphael seolah ia musuh yang harus dihancurkan.

Raphael membeku. Ia menatap Thivi yang tak lagi mengenalinya. Gadis lembut itu telah direnggut oleh kekuatan kotor. Namun tekadnya tak goyah. Meski hatinya hancur, ia tak akan membiarkannya tetap terkurung.

Pisau di tangan, Raphael menghadapi dua bayangan di depannya, Thivi sang korban yang kini melawannya, dan Yusra, penguasa ilusi.

Malam ini, pikirnya, semuanya akan ditentukan di sini.

Angin malam menyapu pelan kulit Raphael, menyentuh luka yang belum pulih seperti bisikan dingin. Aroma tanah dan darah bercampur di udara yang tegang. Di bawah cahaya bulan pucat, Yusra menoleh pada Thivi. Senyumnya tak berubah, manipulatif, dingin, seolah seluruh permainan masih berada dalam genggamannya.

"Maafkan aku, Thivi..." suara Yusra bergetar samar, berpura-pura sedih. Ia mengangkat tangannya ke luka di punggungnya. "Luka ini... Raphael yang menusukku."

Thivi terhuyung. Mata birunya melebar, terpecah antara kebingungan dan rasa sakit.

"Apa...? Tidak..." bisiknya hampir hilang tertelan malam.

Namun racun itu sudah meresap. Keraguan tumbuh liar di dalam pikirannya, dipelintir oleh Tome Omnidream.

More Chapters