Rahang William menegang. Amarah menyala di dadanya. Ia benci tatapan itu, ketenangan penuh percaya diri di wajah Kaivan, bahkan saat terikat. Namun yang lebih ia benci adalah getar ragu yang mulai menggerogoti dirinya sendiri.
Suara tembakan di luar semakin keras. Ledakan kecil mengguncang dinding. Pertahanan mulai runtuh. William menoleh ke arah pintu, napasnya berat. Dunia di luar sedang berubah, perlahan lepas dari genggamannya.
"Mereka menembaki siapa...?" gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Kaivan. Tangannya melayang di dekat gagang pintu, ragu. Lalu pandangannya kembali ke Kaivan, yang kini duduk dengan keyakinan tenang, seolah sudah tahu bagaimana semua ini akan berakhir.
Kaivan memiringkan kepala, tersenyum tipis. "Kau tidak pernah punya rencana, William," ucapnya pelan. "Akulah yang merancang semua ini."
Mata William menyala. "Bohong! Kau tidak mungkin memprediksi semua ini tanpa Tome Omnicent!"
Kaivan mengangkat bahu. "Itulah masalahmu. Kau pikir kekuatan datang dari Tome. Padahal kekuatan sejati datang dari pikiran. Kau mengandalkan kekuatan. Aku mengandalkan strategi."
William menggenggam gagang pintu, namun sebelum ia sempat membukanya,
BANG!
Sebuah tembakan meledak.
William tersentak mundur, tangannya terlepas dari gagang. Napasnya tersendat. Matanya melebar.
Kaivan berbicara lebih pelan sekarang, namun nadanya tetap tajam dan tak tergoyahkan. "Dengarkan, William. Kau bahkan tidak tahu siapa musuhmu. Kau pikir kau memegang kendali, padahal yang sedang kau tunggu... adalah kehancuranmu sendiri."
Ruangan seakan membeku. Tembakan semakin dekat. Rasa takut mulai tumbuh di mata William.
Lima menit sebelumnya.
Sementara itu, di lorong sempit yang remang, lima sahabat bergerak dalam diam. Raphael memimpin di depan, matanya menyapu setiap bayangan, mencari jebakan. Di belakangnya, Radit, Frans, Ethan, dan Isabel menggenggam senjata mereka erat, setiap langkah terukur dan waspada.
Dinding lembap memantulkan gema langkah kaki mereka, mempertebal ketegangan yang menekan. Napas berat memenuhi udara. Di ujung lorong, sebuah pintu baja besar berdiri, seperti ambang menuju ketidakpastian.
Raphael berhenti. Ia mengeluarkan alat kecil dari sakunya dan mulai membobol kunci.
"Cepat," bisik Ethan penuh desakan. Frans mengambil posisi di belakang, senjata terangkat, mata siaga.
Keringat mulai mengalir di dahi Raphael. Setiap detik terasa seperti keabadian, hingga akhirnya,
Klik.
Kunci itu terbuka.
Tanpa membuang waktu, Raphael mendorong pintu. Derit pelan terdengar, menggema seperti jeritan di dalam gelap. Dan seketika, mereka membeku.
Di ruangan redup itu, tiga sosok yang mereka kenal duduk terikat di kursi besi, Zinnia, Thivi, dan Felicia. Wajah mereka pucat, lelah, namun mata mereka masih menyala dengan perlawanan.
Raphael melangkah maju, tegang di setiap gerakannya. Ia berhenti di depan Zinnia, suaranya rendah dan tertahan. "Di mana Kaivan?"
Zinnia menatapnya, napasnya tak stabil. "Aku tidak tahu... kukira dia bersamamu saat kita terpisah," jawabnya lemah, suaranya bergetar antara takut dan tekad.
Raphael menunduk sejenak, lalu menatap sekitar, menyisir bayangan di sekeliling. "Orang-orang di sini... mereka teroris. Aku pernah bertemu jenis mereka di zona merah. Kejam, tanpa belas kasihan."
Zinnia mengangguk pelan, matanya melirik yang lain yang sudah tegang. "Kita tidak boleh terpisah lagi. Tetap dekat, periksa setiap sudut sebelum bergerak. Formasi kecil. Tetap waspada."
Suara Raphael menggelap, lebih dingin. "Terutama kalian para gadis, waspadai satu nama, Yusra. Dia bukan sekadar terobsesi. Ini sudah di luar nalar. Aku melihatnya sendiri, dia membunuh seseorang hanya karena ditolak."
Ia melangkah sedikit maju, menatap satu per satu. "Yusra tidak peduli kau bersenjata atau tidak. Baginya, kalian hanya target. Dia bisa bersikap sopan, bahkan lembut, tapi jangan tertipu. Jika ada pria asing menatap terlalu lama atau mendekat tanpa alasan, laporkan. Jangan hadapi sendirian."
Thivi yang sejak tadi gemetar dalam diam tiba-tiba pecah. Suaranya retak, penuh putus asa. "Kaivan... di mana Kaivan?!"
Raphael meletakkan kedua tangan di bahunya dengan lembut, suaranya tenang namun tegas. "Thivi, tenang... Kaivan masih hidup. Kita akan menemukannya." Namun tatapannya kosong, terjebak dalam bayangan William.
Radit berjongkok di depan Felicia yang masih terikat rantai. Ia menyeringai tipis. "Kau kelihatan kacau, Felicia."
Felicia menatap tajam. "Mau buka ini, atau cuma mau ngobrol?"
Radit terkekeh pelan. "Kelihatannya kau menikmati banget diikat ala BDSM, ya?"
Felicia langsung melotot tajam. "Nikmat apaan, bodoh? Lepasin ini!"
BANG!
Radit menembak. Kunci hancur, rantai jatuh berderak. Felicia mengusap pergelangan tangannya yang memar, wajahnya kesal. "Sumpah... aku semakin benci gaya BDSM diikat-ikat kayak beginian. Jijik."
Namun satu tembakan itu menghancurkan ketenangan rapuh mereka. Thivi menjerit, lalu berlari menuju pintu.
"Kaivan! Kaivan!!" teriaknya, panik merobek suaranya saat ia menghilang di lorong.
Raphael terpaku sesaat, tapi Thivi sudah lenyap dalam gelap. "Sial, Thivi..." gumamnya.
Sebelum ia sempat mengejar, langkah kaki berat terdengar mendekat. "Suara apa itu?!" teriak seseorang dari ujung lorong.
Raphael bereaksi seketika. Ia merogoh saku dan melempar tiga granat kejut ke arah Felicia. "Kau tahu cara pakainya?"
Felicia menangkapnya dengan gerakan mulus, matanya tajam. "Selalu."
Tanpa berkata lagi, Raphael berlari menyusuri lorong, mengejar teriakan panik Thivi. Udara semakin tegang. Ethan mengintip dari celah pintu yang sempit, wajahnya tegang. "Mereka datang," bisiknya tajam, memberi isyarat agar semua bersiap.
Radit mengembuskan napas pelan, mengangkat pistolnya. "Sepertinya mereka sudah menemukan kita," gumamnya.
Tanpa ragu, ia melepaskan dua tembakan cepat ke arah lorong.
