Koridor bawah tanah yang lembap dan remang menjadi saksi saat Kaivan terbangun dari kegelapan. Pandangannya buram, kepalanya terasa berat seolah ditekan besi, tubuhnya lemah tak berdaya. Ia berkedip perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya redup dari lampu tua yang berkedip di sudut ruangan. Udara terasa pengap, dipenuhi aroma beton berlumut dan karat, seperti penjara yang membusuk bersama waktu. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup sisa-sisa tragedi yang telah lama dilupakan.
Saat kesadarannya kembali, tawa tajam yang mengejek memecah kesunyian. Kaivan menoleh. Di seberang ruangan berdiri seorang pria dengan postur percaya diri dan seringai yang terukir jelas di wajahnya.
William. Musuh lamanya.
"Bagaimana rasanya, pangeran yang tertidur? Hahaha!" William berjalan mendekat, memutar sesuatu yang berkilau di bawah cahaya lemah.
Mata Kaivan menyipit. Itu karambitnya, senjata jiwanya, kini berada di tangan musuh.
Kaivan tetap diam. Tatapannya tajam, tak bergeming. Pikirannya bergerak cepat, menganalisis, mencari celah, menghitung kemungkinan. Tangannya bergerak samar ke belakang, meski ia sudah tahu senjatanya telah hilang.
William terkekeh. "Mencari ini?" Ia memutar karambit itu dengan nada mengejek. "Dulu ada di sakumu. Sekarang, milikku."
Kaivan tetap tenang. Matanya mengikuti setiap gerakan William, membaca ritmenya. Pria itu terus berbicara, menikmati ilusi kendali yang ia miliki.
"Kalau saja kau tidak ikut campur waktu itu, KTT PBB akan berakhir dengan ledakan. Kepercayaan dunia runtuh, investor lari, ekonomi hancur. Dan wanita itu, dia pasti sudah bergabung dengan pemerintah!"
William mengayunkan karambit itu, membiarkannya berputar sebelum menangkapnya kembali dengan mudah. Gerakannya penuh percaya diri, terlalu percaya diri.
Lalu, dengan gerakan ringan, ia mengangkat sebuah remote kecil dan menekan tombol. Sebuah layar besar di sudut ruangan menyala, memenuhi ruang dengan suara siaran nasional.
"Berita terkini. Gubernur Jawa Barat ditemukan meninggal dunia, penyebabnya dinyatakan sebagai bunuh diri..."
Suara penyiar yang datar bergema di ruangan. William tersenyum puas, lalu mematikan layar. Sunyi kembali turun, lebih berat dari sebelumnya.
"Sayang sekali, ya? Kalau kau tidak ikut campur, mungkin dia masih hidup."
Akhirnya Kaivan berbicara. Suaranya rendah, tenang, dan tajam.
"Dia mengakhiri hidupnya sendiri. Bukan karena ulahmu, William."
William tertawa, dingin dan kosong. Ia mengeluarkan sebuah buku usang dari sakunya. Halaman-halamannya berkilau samar, Tome of Omnidream.
"Buku ini memberiku kekuatan untuk mengendalikan mimpi siapa pun dalam jangkauan alam bawah sadar. Sekarang, mimpi dan kenyataan tunduk padaku."
Kaivan menatapnya tanpa emosi. Tanpa takut, tanpa kagum. Ia sudah lama belajar bahwa kekuatan sejati tidak berasal dari Tome, melainkan dari pikiran yang jernih.
William melangkah lebih dekat, arogansi terpancar jelas.
"Apa yang sedang kau pikirkan sekarang, Kaivan? Silakan saja, terus berpikir berlebihan seperti biasa. Itu tidak akan menyelamatkanmu."
Kaivan tersenyum tipis. Senyum yang membuat William mengerutkan kening.
"Aku hanya sedang berpikir... cumi bakar terdengar enak setelah aku keluar dari sini."
William tertawa terbahak. "Kau pikir bisa keluar?! Tanpa Tome Omnicent, kau bukan apa-apa! Aku punya Tome Omnidream, dan warisan Tome of Valor!"
Dengan satu tangan, ia mengangkat meja kayu berat seolah hanya selembar kertas.
"Aku kuat, Kaivan! Lebih kuat dari yang bisa kau bayangkan!"
Matanya bersinar gila, seperti tiran yang yakin dirinya dewa.
Kaivan tetap tenang. Ia tahu William memang kuat. Tapi ada sesuatu yang tak pernah bisa direbut, pikirannya. Sejak kehilangan Tome, ia belajar bahwa kekuatan fisik dan sihir tak berarti tanpa kecerdasan. Strategi dan perhitungan, itulah yang jauh lebih mematikan.
William terus tertawa, mabuk oleh kesombongannya sendiri. Namun Kaivan sudah melangkah lebih dulu dalam pikirannya. Bahkan tanpa Omnicent, ia masih bisa memprediksi, masih bisa merencanakan. Dalam diam, ia menyusun langkah berikutnya sementara William tenggelam dalam ilusinya.
"Kau hanyalah pangeran tanpa kerajaan," ejek William, tak menyadari bahwa Kaivan telah melihat celah dalam pertahanannya.
Di ruang sempit yang menyesakkan itu, Kaivan duduk terikat. Rasa sakit berdenyut di tubuhnya, namun tatapannya tetap dingin dan teguh. Di hadapannya, William berdiri angkuh, senyum sinisnya memenuhi udara dengan arogansi. Ruangan terasa semakin sempit, bukan karena dinding, melainkan karena tekanan kekuatan di antara mereka.
"Sayang sekali," ejek William, matanya berkilat. "Gadis tangan kananmu itu, keturunan Omnivalor, tidak akan datang menyelamatkanmu kali ini."
Keheningan Kaivan terasa tajam. Tatapannya tak bergeser.
Lalu, tanpa diduga, senyum tipis muncul di bibirnya. Seolah ejekan William hanyalah debu yang tertiup angin.
"Kau pikir aku satu-satunya yang bisa menggunakan Omnicent?" suaranya rendah, tenang, namun cukup tajam untuk membelah udara.
Ada sesuatu tersembunyi di balik nadanya. Sesuatu yang tak bisa dilihat William.
William terdiam sesaat, lalu tertawa keras. "Hah! Tome hanya memilih satu pengguna! Satu! Sampai mati! Tidak ada pengganti, Kaivan!"
Kaivan tidak menjawab. Senyum itu tetap ada. Ia mengetahui sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang membuat tanah seakan bergetar.
Lalu,
BANG!
Suara tembakan menggema dari ruangan sebelah. William terkejut, kepalanya langsung menoleh ke arah pintu. Gema itu menghantam kesunyian, mengingatkan bahwa permainan ini belum berakhir.
Udara menjadi berat. Lampu di langit-langit bergetar, bayangannya menari liar di dinding bata yang dingin. William yang tadi tenang kini membeku. Tembakan lain terdengar di luar, membuat lantai bergetar. Sesuatu sedang terjadi, sesuatu di luar kendalinya.
"Apa itu? Siapa di luar sana?!" teriaknya, suaranya retak antara marah dan takut.
Di hadapannya, Kaivan tetap terikat, namun matanya menyala hidup, tajam dan penuh keyakinan. Lalu ia tertawa.
Bukan tawa putus asa, melainkan tawa kemenangan. Tawa itu memenuhi ruangan dengan kepastian.
"Sudah kubilang, William... kau benar-benar mengira aku satu-satunya yang bisa menggunakan Omnicent?"
Mata William membesar. Untuk pertama kalinya, keraguan menembus topengnya.
"Diam! Aku tidak butuh trikmu!" Ia meraih batu dari meja dan melemparkannya ke arah Kaivan.
Kaivan hanya memiringkan kepala sedikit. Batu itu meleset, menghantam dinding dan pecah sia-sia.
"Lambat," gumam Kaivan pelan, senyum tipis masih tergambar. "Kau tidak pernah berubah, William. Selalu mengandalkan otot sebelum pikiran."
