Langkah kaki bergema dari arah berlawanan. Raphael segera merendah, memberi isyarat cepat. Mereka berdua menyelinap ke balik tumpukan peti kayu tua.
Seorang penjaga muncul, berjalan dengan langkah mantap namun waspada. Senapannya berkilau samar dalam cahaya redup. Isabel menahan napas. Genggamannya pada Tome Omnicent semakin erat, seluruh tubuhnya gemetar.
Raphael menyerang tanpa suara. Tubuhnya melesat maju, lengannya melingkari leher penjaga itu dari belakang. Pria itu meronta, terengah, namun Raphael bergerak lebih cepat, satu putaran tajam, napas terputus. Pertarungan itu berakhir dalam sunyi.
Langkah mereka kembali bergema di lorong sempit, memantul di dinding batu berlumut. Raphael tetap waspada, nalurinya tajam, menyapu setiap bayangan yang mencurigakan. Hanya napas mereka dan gesekan sepatu yang menemani kesunyian yang tersisa.
Saat ketegangan sedikit mereda, Raphael berjongkok di samping tubuh penjaga itu. Tangannya menyusup ke saku jaket tebal pria itu dan menyentuh sesuatu yang dingin, sepotong besi kecil yang terasa familiar. Sebuah kunci berkarat, tua namun masih bermakna. Ia menatapnya dalam diam, seolah menggenggam kesempatan yang telah lama ia tunggu.
Tanpa berkata apa-apa, Raphael menyerahkan kunci itu kepada Isabel. Jemari Isabel gemetar saat menerimanya. Raphael tetap siaga, matanya tertuju pada kegelapan di depan, merasakan bahaya yang bersembunyi dalam diam.
"Kita sudah dekat," gumamnya pelan, suaranya nyaris hilang dalam dingin yang mengalir di lorong.
Di hadapan mereka berdiri sebuah pintu besi besar, menjulang dan suram. Permukaannya berkarat, penuh goresan, seolah telah menyaksikan terlalu banyak kisah yang dilupakan. Roda penguncinya terkunci rapat, menuntut kekuatan dan tekad untuk membukanya.
Isabel menelan ludah. Jantungnya berdegup cepat. Wajahnya tetap tenang, namun telapak tangannya basah oleh keringat. Ia tahu, apa pun yang ada di balik pintu itu bisa mengubah segalanya.
Raphael mengambil kunci itu dan memasukkannya ke dalam lubang kunci yang tua. Suara gesekan logam terdengar pelan, diikuti bunyi klik yang berat. Tatapan mereka bertemu, harapan dan ketakutan tercermin di keduanya.
Pintu itu mengerang saat terbuka, bunyi karatnya memecah keheningan. Udara lembap yang berbau busuk mengalir keluar, kental dengan aroma pelapukan. Raphael masuk lebih dulu, tubuhnya merendah, matanya tajam menembus gelap.
Ruangan itu luas, namun tertutup bayangan. Sebuah lampu tua menggantung, berkedip, menciptakan siluet yang gelisah di dinding bernoda. Lantai beton tampak licin di beberapa bagian, seolah langit-langitnya telah menangis selama bertahun-tahun.
Di tengah ruangan, tiga sosok terikat pada kursi kayu. Tubuh mereka terkulai lemah, wajah mereka dipenuhi keringat dan kotoran. Di antara mereka, Radit perlahan mengangkat kepala.
Ia melihat Raphael dan Isabel, dan entah bagaimana masih mampu tersenyum, lemah namun tulus. "Kalian baik-baik saja?" suaranya serak, lelah.
Frans mengeluarkan tawa kecil di sampingnya. "Bukannya kamu yang harus menanyakan itu?"
Raphael tidak membuang waktu. Ia berlutut di samping Radit, mengamati simpul-simpul tali yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya. Isabel ikut membantu, bergerak ke arah Frans dan Ethan.
Tangannya gemetar saat membuka ikatan di pergelangan Frans. Simpulnya kasar dan kuat, dibuat untuk menahan tawanan berjam-jam. Ia menarik napas dalam, memaksa dirinya tetap tenang.
"Kita harus cepat," kata Raphael. Tangannya bergerak cepat, tepat, tanpa ragu, seperti seseorang yang telah melakukannya berkali-kali.
Radit mengembuskan napas saat tangannya akhirnya bebas. "Sial... tanganku mati rasa." Ia menggerakkan jari-jarinya, mencoba menghidupkannya kembali.
Tanpa kata, Raphael beralih ke Ethan. Pria itu hanya mengangguk, mereka sama-sama tahu waktu bukan di pihak mereka.
Isabel akhirnya melepaskan ikatan terakhir di kaki Frans. Ia meregangkan kakinya, lalu menatap Isabel dengan senyum tipis yang lelah. "Tanganmu gemetar. Gugup?"
Isabel mendengus pelan, mengabaikannya sambil menyelesaikan pekerjaannya. Saat semua telah bebas, Raphael segera bergerak menutup pintu dengan mendorong peti baja tua sebagai penghalang.
"Di mana yang lain? Para gadis, dan Kaivan?" tanyanya, suaranya tenang namun penuh desakan.
Ethan mengernyit, mencoba mengingat. "Kurasa mereka di ruangan lain. Aku sempat mendengar suara Thivi tadi... tapi tidak tahu dari mana."
Radit berdiri di sampingnya, melirik Raphael. Wajahnya tampak jauh, dibayangi masa lalu. "Rasanya seperti deja vu, ya? Seperti dulu... di markas teroris."
Tatapannya tertahan pada Raphael, beban kenangan di antara mereka terasa berat. Kata-kata itu keluar sebelum ia sempat menahannya.
"Maaf, Raphael," bisiknya, penuh penyesalan.
Raphael menatapnya sejenak. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia melemparkan sebuah pistol ke arah Radit. Senjata itu berputar di udara sebelum jatuh mantap di tangannya. Sentuhan dingin logamnya bergema pelan di ruangan sempit itu.
"Lupakan. Aku sudah tidak memikirkan masa lalu," kata Raphael. Suaranya dingin namun tegas, tak ada ruang untuk masa lalu.
Radit menatap pistol itu. Matanya sedikit membesar, seolah benda itu terasa asing. Jemarinya menyentuh permukaannya, merasakan dinginnya logam.
"Kau tahu cara menggunakannya?" tanya Raphael pelan, ada secercah harapan dalam nadanya.
Radit menarik napas perlahan, lalu menggeleng. "Tidak... tapi aku pernah lihat di film."
Ia mencoba bercanda, tapi tak ada yang tertawa.
Frans mengeluarkan tawa lemah. "Kalau sudah sering nonton film aksi, setidaknya kamu bisa menggunakan itu."
Tak ada yang menjawab. Kesunyian kembali mengental, lebih berat dari sebelumnya.
Tatapan Raphael menyapu mereka satu per satu. Ia menghafal wajah-wajah itu, membaca apa yang tersembunyi di balik mata mereka. Ia tahu apa yang menanti tidak akan mudah. Mereka harus siap, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Karena perang bukan hanya tentang peluru, tetapi tentang keberanian untuk tidak runtuh di dalamnya.
"Tidak ada pilihan lain, Radit. Kita harus siap. Kita tidak tahu apa yang menunggu di depan," kata Raphael, mengangguk tipis. "Tetap fokus. Tetap tenang."
Radit menggenggam pistol itu, mengangguk ragu. Ethan menepuk bahunya dengan ringan.
"Jangan terlalu tegang, Radit. Pastikan saja jarimu tidak menempel dengan pelatuk," kata Ethan dengan senyum tipis.
Radit mengembuskan napas panjang, mencoba melepaskan ketegangan dalam dirinya. Ia kembali menatap pistol itu, mengangkatnya sedikit, menyesuaikan genggaman. Ia belum sepenuhnya yakin, namun saat ini, tidak ada waktu untuk takut.
Raphael memperhatikan mereka sejenak, lalu menarik napas dalam sebelum melangkah ke arah pintu. Engselnya berderit pelan saat ia membukanya sedikit, memperlihatkan celah sempit menuju lorong di luar. Jantungnya berdetak lambat namun stabil, matanya menyapu setiap sudut dengan ketelitian seorang prajurit. Hembusan udara dingin masuk, membawa aroma tanah lembap dan besi tua dari dinding yang lama tak tersentuh cahaya.
"Kita bergerak. Kita harus menemukan yang lain sebelum terlambat," kata Raphael tegas, suaranya tak goyah. Ia melangkah keluar lebih dulu, tubuhnya tegak, seolah memikul beban segalanya di pundaknya. Yang lain mengikuti di belakang, ragu namun tetap melangkah. Cahaya redup di lorong memanjangkan bayangan mereka di dinding, seolah berbisik bahwa apa yang menanti di depan bukan hanya ujian kekuatan, tetapi juga keberanian, dan ikatan rapuh yang membuat mereka tetap berdiri bersama.
