Isabel membeku. Tatapannya mengikuti arah pandang Raphael, menembus kabut. Seorang penjaga berdiri berjaga, senapan di tangannya.
Detak jantungnya semakin cepat. Ia merapat ke arah Raphael, berbisik panik, "Bagaimana kalau kita panggil polisi?"
Raphael meliriknya, wajahnya tegas. "Polisi tidak akan membantu. Justru kita yang akan ditangkap, karena membawa senjata."
Rasa pahit menyentak dadanya. Mereka sendirian.
Dengan tubuh merendah, Raphael menarik pisau tempurnya. Kilau peraknya menangkap cahaya bulan.
Ia bergerak mendekati penjaga itu, senyap seperti bayangan. Satu langkah lagi, lalu ia menerjang. Tangan kirinya menutup mulut pria itu, tangan kanan mengiris cepat dan tepat. Darah menyembur, dan penjaga itu roboh tanpa suara.
Dari kejauhan, Isabel membeku. Tubuhnya menegang, tangannya yang gemetar menutup mulut. Ia belum pernah melihat kematian sedekat ini, senyata ini, setenang ini. Suaranya pecah saat ia tergagap, "K-kau… m-membunuh d-dia?"
Raphael berbalik, tatapannya tenang namun dingin. "Kau kira apa? Aku akan mengajak mereka bicara baik-baik dan meminta mereka melepaskan teman-teman kita?" ucapnya dengan nada getir. Kata-kata itu menggantung berat di antara mereka, pengingat kejam bahwa idealisme tak berarti apa-apa di dunia seperti ini.
Isabel menggigit bibir, mencoba menelan gelombang takut yang naik dalam dirinya. Ia memalingkan pandangan dari tubuh itu dan memaksa pikirannya tetap fokus. Suaranya tetap tenang, meski pelan. "Bagaimana kalau kita ketahuan?"
Raphael mengembuskan napas, menarik Isabel ke balik reruntuhan. "Itu sebabnya kita harus bergerak cepat. Mereka akan sadar penjaganya hilang sebentar lagi."
Sementara itu, jauh di bawah tanah, udara terasa lembap dan berbau logam, dinginnya menusuk kulit. Cahaya redup dari lampu tua menciptakan bayangan panjang di dinding bata yang dipenuhi lumut.
Zinnia perlahan tersadar. Rasa sakit berdenyut di kepalanya, pikirannya masih tertutup kabut. Saat matanya akhirnya menyesuaikan, ia sadar ia tidak sendirian.
Isak tangis samar terdengar dari sudut ruangan, suara yang dipenuhi duka dan keputusasaan. Zinnia menoleh ke arah suara itu dan menemukan Thivi, gemetar di lantai dingin. Matanya bengkak, pipinya basah oleh air mata, bibirnya bergetar saat ia berbisik menyebut satu nama berulang kali.
"Kaivan... Kaivan... tolong... di mana kau?" Suaranya pecah, dipenuhi ketakutan.
Zinnia menelan ludah, memaksa tubuhnya yang kaku untuk bergerak. Tangannya terikat oleh rantai besi kasar. Dengan sisa tenaganya, ia mengangkat kepala, menyapu ruangan yang redup dan tak bernyawa.
"Thivi..." panggilnya pelan, suaranya serak. "Kita di mana?"
Thivi tidak menjawab. Isak tangisnya terus berlanjut, menggema di dinding seperti detak jantung yang rapuh.
Zinnia mengatupkan rahang. Ia tidak bisa hanya diam.
Ia kembali menoleh, mencari secercah harapan. Di sudut ruangan yang lain, ia melihat Felicia, tubuhnya terbelit rantai besi berat seperti ular yang menolak melepaskan mangsanya.
"Felicia..." panggil Zinnia lagi, kali ini lebih tegas. "Apa yang terjadi? Siapa yang menangkap kita?"
Felicia perlahan membuka mata. Wajahnya yang biasanya tenang tampak pucat, bekas luka menghiasi kulitnya. Ia mencoba bergerak, tetapi bunyi rantai yang beradu dengan lantai batu membuat setiap usaha terasa sia-sia. Ia menarik napas gemetar, mengumpulkan tenaga hanya untuk menjawab.
"Aku tidak tahu..." gumamnya akhirnya, suaranya serak. "Rasanya kita diculik... tapi aku masih tidak tahu siapa pelakunya."
Dingin menjalar di tulang belakang Zinnia. Ketidakpastian itu semakin memperdalam ketakutan yang mengurung mereka. Isak pelan Thivi memenuhi udara, bercampur dengan derit logam dan tetesan air menjadi kesunyian yang menyesakkan.
Ketiga gadis itu terperangkap dalam ruang gelap yang pengap, tanpa tahu siapa yang membawa mereka ke sana, atau apa yang menanti selanjutnya. Kelelahan mulai merayapi tubuh mereka, tetapi ketakutan yang lebih besar membuat mata mereka tetap terbuka.
Di tempat lain, lorong bawah tanah semakin gelap dan sempit. Raphael dan Isabel terus melangkah, menembus udara lembap yang berbau tanah basah dan besi berkarat. Lampu yang berkedip di atas kepala melempar bayangan tajam di dinding, mengubah lorong itu menjadi labirin yang seolah menelan mereka.
Raphael berjalan di depan, tubuhnya merendah, setiap gerakannya penuh kehati-hatian. Matanya menyapu setiap sudut gelap, waspada terhadap bahaya. Isabel mengikuti di belakang, jemarinya menggenggam pistol erat. Keringat dingin membasahi telapak tangannya, meski udara terasa dingin.
"Ingat lorong sebelah kiri dari buku itu?" bisik Isabel, suaranya nyaris tak terdengar di antara dengung lorong.
Raphael tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat untuk berhenti. Sunyi. Hanya suara tetesan air dari langit-langit yang retak. Detak jantung Isabel menggema di dadanya.
"Ada sesuatu di depan," bisik Raphael akhirnya, matanya terpaku pada lorong yang semakin menyempit.
Isabel menelan ludah. "Sesuatu? Maksudmu..."
