Cherreads

Chapter 120 - Baja Melawan Sunyi Merah Darah

Felicia tidak berhenti. Ia berputar, mengalir luwes seperti penari dalam waltz terlarang bernuansa kematian. Memanfaatkan momentum serangan sebelumnya, ia mengayunkan rantai kedua ke arah leher musuh lain yang panik.

Logam dingin itu melilit tenggorokannya dalam satu lilitan kejam. Tangannya mencakar putus asa, namun sudah terlambat.

Felicia menjejakkan kaki dan menarik dengan kekuatan tak manusiawi.

"Guhkk!"

Tubuh pria itu terangkat sesaat, matanya membelalak saat sisa napas terakhirnya direnggut sebelum sempat berubah menjadi jeritan. Lalu semuanya terkulai. Ia jatuh, sunyi, final.

Felicia melangkah maju. Wajahnya tetap tenang, tak tersentuh oleh beban dua nyawa yang baru saja runtuh di hadapannya. Baginya, mereka hanya nada singkat dalam simfoni kelam malam ini. Namun ia tahu, ini belum berakhir. Ia hampir bisa mencium rasa takut yang mendekat dari ujung koridor, merasakan getaran samar dari kehadiran lain yang semakin dekat.

Refleksnya bergerak lebih cepat dari pikiran. Dalam sekejap, ia menerjang, rantainya beradu dengan moncong senapan penyerang ketiga. Ia memutar tubuh dan melompat, melayangkan tendangan tajam ke dada pria itu.

"UGHK!"

Tubuhnya terpental, punggungnya menghantam dinding. Udara terhempas dari paru-parunya. Sebelum sempat menyeimbangkan diri, Felicia sudah berada di hadapannya, tinjunya terangkat.

"BRAKK!"

Tubuh itu runtuh. Tak sadarkan diri. Tak ada ruang untuk belas kasihan.

Felicia berdiri sendiri di koridor remang. Tiga musuh tergeletak di lantai, dan jemarinya masih menggenggam rantai yang bergetar, bukan karena lelah, melainkan karena adrenalin yang masih mengalir deras di nadinya.

Di kejauhan, langkah kaki Ethan dan Isabel menjauh, menuju Kaivan. Felicia menarik napas perlahan, menenangkan detak jantungnya. Pertarungan ini baru saja dimulai. Ia tidak berniat berhenti.

Di bawah tanah Radio Malabar, koridor menyambutnya dengan udara dingin dan aroma logam. Kelembapan menempel di kulitnya, menajamkan setiap denyut inderanya.

Tiba-tiba, sebuah tongkat logam membelah kegelapan.

Felicia mengangkat rantainya secara naluri, baja bertemu baja, benturan menggema di lorong sempit. Hantaman itu membuatnya terhuyung, punggungnya menghantam dinding.

Rasa sakit menjalar di sepanjang tulang punggungnya, namun ia tetap berdiri. Perlahan, ia menegakkan tubuh, darah mengalir dari pelipisnya, rantai masih kokoh di genggamannya. Mata merahnya menyipit menembus bayangan.

Langkah kaki pelan dan terukur mendekat.

Seorang wanita berjubah hitam muncul, gerakannya halus dan presisi. Seperti bayangan yang telah belajar cara membunuh.

"Kau kuat," katanya dingin. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum seseorang yang telah menentukan hasil akhir.

Felicia mendesis, "Siapa kau?"

Wanita itu menurunkan tudungnya. Wajah cantik namun keras muncul, matanya berwarna merah yang sama, menyimpan ketenangan yang berbahaya.

"Rapi," ucapnya pelan. Sebuah nama yang jatuh seperti bisikan hukuman mati.

Tanpa peringatan, Rapi menyerang.

Tongkatnya melesat ke arah kepala Felicia dengan kecepatan membutakan. Felicia memutar rantainya membentuk lengkungan pelindung.

Clang!

Percikan api menyebar dalam gelap. Rapi memutar tubuh, menyerang dari sisi berlawanan. Felicia melompat menjauh, tongkat itu membelah udara hanya beberapa inci dari pipinya.

"Kau cepat," ejek Rapi.

Bibir Felicia terangkat membentuk senyum tipis, napasnya berat. "Terima kasih."

Ia berputar tajam, rantainya melesat, melilit tongkat Rapi dalam satu gerakan cepat.

Tarikan kuat itu mengguncang senjata tersebut, berusaha menyeret Rapi ke wilayah Felicia.

Untuk sesaat, Rapi terdiam, terkejut.

Namun alih-alih melawan, ia justru melepaskan tongkatnya. Tubuhnya berputar ke belakang dalam gerakan handspring yang anggun, siluetnya melayang sejenak sebelum mendarat ringan di lantai.

Felicia menyipitkan mata. Ia mengakui kelincahan wanita itu, meski tak akan pernah mengatakannya.

Rapi bangkit kembali, tatapannya tetap tenang dan menguliti. "Menarik," gumamnya dengan senyum tajam. "Tapi, berapa lama kau bisa bertahan?"

Kini Felicia memegang senjata lawannya, napasnya perlahan, menghitung langkah berikutnya. Namun Rapi tak berniat menunggu.

Dalam sekejap, ia melesat maju. Tangannya yang kosong membelah udara, mematikan dan presisi.

Felicia mengayunkan rantainya untuk bertahan, namun Rapi melompat ke samping dengan lincah, memutar tubuh dan melayangkan tendangan berputar yang menghantam perut Felicia.

Serangan itu cepat, nyaris tak terlihat.

"Bugh!" Felicia terhuyung, napasnya hampir terlepas. Ia mengatupkan gigi, menahan rasa sakit yang meledak di dalam dadanya.

Di koridor remang, dua bayangan saling berhadapan. Napas Felicia memburu, dadanya naik turun. Rapi berdiri tenang, matanya tajam seakan mampu membelah udara.

Dalam sekejap mata, Felicia menerjang, mengayunkan tongkat ke arah kepala Rapi. Namun gadis itu berputar menghindar dengan luwes, seolah menari. Nunchaku tiga ruas di tangannya berputar cepat, mengarah ke tulang rusuk Felicia.

Felicia mendengar angin terbelah. Ia melompat mundur, nyaris lolos dari serangan itu. Namun Rapi tak memberinya ruang. Ia melangkah masuk, melepaskan tendangan berputar. Felicia menahannya dengan tongkat besi.

"BRAKK!" Benturan menggema. Felicia tergelincir mundur, sepatu botnya menggesek lantai, namun ia tetap berdiri. Matanya menyala oleh tekad yang keras. Tubuhnya lelah, namun jiwanya menolak menyerah. Ia mengeratkan genggaman pada tongkatnya. Pertarungan ini baru saja dimulai.

"Aku harus menemukan Kaivan... aku tidak boleh kalah di sini." Felicia menarik kekuatan dari satu pikiran itu, napasnya kasar namun matanya terus menyala.

More Chapters