Bab 3 — Tidak Ada Tempat Lari
Gelap.
Aku tidak bisa melihat apa pun.
Tapi aku tahu… aku tidak sendirian.
Suara napas itu masih ada.
Dekat.
Terlalu dekat.
Refleks, aku langsung berlari ke arah pintu kamar. Tanganku meraba dinding, mencari gagang pintu dalam kegelapan.
Begitu ketemu, aku langsung membukanya dan keluar berlari.
Aku tidak berani melihat ke belakang.
Lorong rumahku seharusnya tidak sepanjang ini.
Tapi sekarang…
Tidak ada pengusiran.
Dinding di kanan kiriku terasa lebih sempit. Udara dingin menusuk kulitku. Lampu mati, tapi aku masih bisa melihat bayangan pintu-pintu yang berjejer.
Semuanya tertutup.
Semuanya sama.
Tok… tok… tok.
Ketukan itu mengamati lagi.
Dari belakangku.
Aku mempercepat langkah.
Lalu—
Suara langkah lain ikut terdengar.
Ikutiku.
Pelan.
Ketuk… ketuk… ketuk.
"Berhenti…" bisikku, hampir menangis.
Tapi suara itu tidak berhenti.
Malah semakin dekat.
Ponselku tiba-tiba menyala.
Padahal aku tidak menyentuhnya.
Satu pesan muncul.
"Jangan berhenti."
"Apa maumu…" suaraku bergetar.
Aku terus berlari.
Napas semakin berat.
Kakiku mulai lemas.
Dan tiba-tiba—
Lorong itu berakhir.
Di depanku hanya ada satu pintu.
Berbeda.
Sedikit terbuka.
Dari dalamnya… keluar cahaya redup.
Dan suara.
Suara seseorang menangis.
Aku membeku.
Suara itu…
Mirip denganku.
Perlahan aku mendekat.
Setiap langkah terasa berat.
Sepertinya-olah ada sesuatu yang menahannya.
Ponselku bergetar lagi.
"Masuk."
Aku menggeleng.
"Tidak…"
Tapi mereka bergerak sendiri.
Mendorong pintu itu perlahan.
Kreek…
Pintu terbuka.
Dan di dalam—
Aku melihat diriku sendiri.
Duduk di lantai.
Menangis.
Dengan wajah pucat… dan mata kosong.
Aku mundur satu langkah.
"Ini… bukan aku…"
Tapi "aku" yang di dalam ruangan itu berhenti menangis.
Perlahan-lahan.
Menatap langsung ke arahku.
Dan tersenyum.
Senyum yang tidak seharusnya ada.
Lalu dia berbisik—
"Sekarang… ganti kamu."
Lampu di lorong langsung mati.
Gelap total.
Dan sesuatu yang menarikku dari belakang.
Keras.
Aku berteriak—
Tapi tidak ada suara yang keluar.
