Bab 6 — Tempat Tanpa Pintu
Gelap.
Bukan sekadar gelap.
Ini seperti… tidak ada apa-apa.
Aku jatuh.
Terus jatuh.
Tanpa tahu ke mana.
Tidak ada lantai. Tidak ada dinding. Tidak ada suara.
Sampai akhirnya—
Bruk.
Tubuhku menghantam sesuatu.
Keras.
Aku meringis, mencoba bangkit.
"K-keluar… aku harus keluar…" suaraku lemah.
Aku melihat sekeliling.
Tempat ini… aneh.
Seperti lorong panjang, tapi tidak punya ujung. Dindingnya hitam, berdenyut pelan… seperti hidup.
Dan yang paling aneh—
Tidak ada pintu.
Sama sekali.
"Ini… tempat apa…" bisikku.
Langkah kakiku terdengar lagi sekarang. Gema panjang mengikuti setiap gerakan.
Aku mulai berjalan.
Perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu aku berhenti.
Di dinding…
Ada sesuatu.
Seperti… bekas tangan.
Banyak.
Ratusan.
Seolah-olah ada orang-orang yang pernah mencoba keluar… tapi gagal.
Aku menelan ludah.
"Jangan lihat…"
Suara itu.
Pelan.
Tepat di belakangku.
Aku membeku.
Perlahan, aku menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi suara itu… masih ada.
"Kamu bukan yang pertama."
Aku mundur.
"Siapa kamu?!"
Tidak ada jawaban.
Hanya—
Bayangan.
Di dinding.
Yang tidak mengikuti gerakanku.
Bayangan itu… bergerak sendiri.
Membentuk sosok.
Tinggi.
Kurus.
Dan terlalu panjang untuk disebut manusia.
Jantungku berdegup kencang.
"Itu…" suaraku hilang.
Sosok itu keluar dari dinding.
Seperti cairan hitam yang menetes… lalu berdiri tegak di depanku.
Aku ingin lari.
Tapi kakiku tidak bergerak.
Sosok itu mendekat.
Sangat dekat.
Dan untuk pertama kalinya—
Aku melihat wajahnya.
Atau… sesuatu yang seharusnya menjadi wajah.
Kosong.
Gelap.
Tanpa mata.
Tanpa mulut.
Tapi aku tahu… dia sedang "melihatku".
Lalu suara itu muncul lagi.
Kali ini… dari dalam kepalaku sendiri.
"Setiap pintu… butuh pengganti."
Aku menggeleng cepat.
"Aku nggak mau…"
Bayangan itu mendekat.
Tangannya terangkat.
Panjang.
Hitam.
Menyentuh dadaku.
Dingin.
Menusuk.
"Kamu sudah membuka."
Air mataku jatuh.
"Aku nggak buka…" aku berbisik lemah.
Sunyi.
Lalu—
Untuk pertama kalinya…
Aku melihat sesuatu di ujung lorong.
Sebuah pintu.
Berbeda.
Lebih gelap dari yang lain.
Seperti menyerap cahaya di sekitarnya.
Sosok itu berhenti.
Lalu menunjuk ke arah pintu itu.
"Kalau mau kembali… masuk."
Aku menatap pintu itu.
Lalu kembali ke sosok di depanku.
"Kalau aku masuk…"
Suara itu menjawab pelan—
"Kamu tidak akan sama lagi."
