Hening.
Seperti jarum yang jatuh di ruangan berdebu, setiap napas di udara seakan berhenti. Felicia menatap bingung. Isabel menutup mulutnya, sementara Raphael hanya mengernyitkan dahi.
Ethan mengeluarkan tawa rendah yang dipenuhi kenangan lama.
"Dulu aku masih berada di geng jalanan. Kekerasan, perkelahian, mencuri, itulah hidupku. Aku melihat Kaivan, anak kutu buku dengan motor butut. Aku berpikir, 'Target mudah.' Aku mencuri motornya lalu kabur. Tapi gengku malah merebutnya dariku. Aku tidak mendapat apa-apa."
Tawanya berubah pahit. Ia menundukkan kepala, jemarinya saling menggenggam erat di atas lutut.
"Lalu… setelah kami keluar dari toko barang antik itu dan sadar kalau uang kami tidak cukup untuk membeli Tome Omnicent, dia bertanya padaku, 'Biasanya teman-temanmu nongkrong di mana?' Aku sudah memperingatkannya. Aku pikir, 'Dia gila. Dia bakal mati.' Ada dua puluh orang di sana. Tapi dia malah berjalan lurus ke depan, matanya tetap teguh."
Ethan mengangkat kepala, menatap satu per satu wajah mereka. Ekspresinya bukan hanya dipenuhi rasa hormat, tapi juga kekaguman.
"Dan pada akhirnya… yang babak belur justru mereka. Gengku. Dia menjatuhkan mereka satu per satu. Dia tidak terlihat seperti manusia. Tapi dia tidak membunuh siapa pun, hanya memastikan mereka tidak bisa berdiri lagi. Saat itulah aku tahu… aku harus mengikutinya. Meninggalkan semua kebusukan itu."
Tak ada yang berbicara. Felicia bahkan tidak membalik halaman. Ruangan itu terasa seperti gereja setelah pengakuan dosa, berat oleh kesedihan dan ketulusan.
Ethan perlahan berdiri lalu berjalan ke arah jendela. Bayangannya memanjang di atas lantai.
"Aku tidak akan pernah bisa membalas apa yang Kaivan lakukan untukku. Tapi aku tahu satu hal… dia lebih baik daripada siapa pun yang pernah kutemui. Dia tidak pernah meminta balasan apa pun. Dia hanya memberi. Tanpa ragu."
"Yang ini tentang Raphael," kata Felicia sambil menarik napas panjang.
Suaranya bergetar saat membaca.
"Senin, 23 November. Hari ini adalah pertarungan pertamaku dengan Raphael. Punggungku masih menyimpan bekas luka dari tusukan pisaunya. Dia mengakui masa lalunya yang gelap, memilih terorisme karena ego. Tapi aku melihat dirinya berubah. Raphael sekarang jauh lebih kuat, tidak lagi terikat oleh siapa dirinya dahulu. Memiliki teman seperti Raphael adalah pelajaran hidup yang berharga."
Udara terasa semakin berat. Raphael menundukkan kepala lalu mengembuskan napas kasar.
"Bodoh…" gumamnya. "Mendengar itu malah membuatku merasa bersalah lagi. Kau ingin menolongku, dan aku malah menusukmu."
Mata Thivi membelalak.
"Kalian bertarung? Kau benar-benar menusuk punggungnya?"
Raphael mengangguk, suaranya rendah.
"Dulu aku dipenuhi kebencian. Hidupku hancur, jadi aku ingin dunia ikut terbakar bersamaku. Aku tidak peduli siapa yang menghalangiku, bahkan Kaivan sekalipun."
Kedua tangannya mengepal.
"Tapi dia berbeda. Dia tidak menyerah bahkan setelah aku melukainya. Dia bilang, 'Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Yang kupedulikan adalah masa depanmu.' Dan entah bagaimana… kata-kata itu menghentikanku. Dia menyelamatkanku."
Felicia menatapnya dengan mata bergetar.
"Kaivan… dia selalu melihat sisi baik seseorang, bahkan ketika orang itu sendiri tidak bisa melihatnya."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Setiap cerita yang mereka dengar mengukir lapisan baru tentang betapa dalam Kaivan telah menyentuh hidup mereka.
Felicia perlahan membalik halaman.
"Yang ini tentang Isabel," katanya lembut.
Mata Isabel langsung melebar.
"A-aku? Sekarang?" tanyanya. Pipi gadis itu memerah tipis saat ia melangkah mendekat, tatapannya terpaku pada buku.
Felicia tersenyum samar lalu mulai membaca.
"Sabtu, 19 Desember. Gadis bodoh yang terlalu mudah dimanipulasi. Hari ini Isabel menjadi emosional saat bercerita tentang ponselnya yang hilang, dan aku membantunya mencarinya sampai ketemu. Itu pertama kalinya aku melihat tatapan tulus penuh rasa terima kasih di mata seseorang. Bagiku itu hanya hal kecil, tapi melihat dirinya mengingatnya dengan begitu hangat membuatku tergerak. Kadang, hal-hal yang kita anggap sepele justru berarti segalanya bagi orang lain. Anehnya, dia juga bisa membaca Tome Omnicent. Aku tidak tahu kenapa, tapi Isabel terasa berbeda."
Isabel menutup mulutnya, menahan gejolak di dadanya.
"Aku dulu berpikir… kalau seorang laki-laki baik pada perempuan, berarti dia menyukainya," bisiknya. "Tapi Kaivan benar-benar… berbeda. Dia memang tulus baik."
Semua orang memandangnya, tapi Isabel tidak peduli. Tatapannya menunduk, berkilau dipenuhi emosi.
"Waktu ponselku hilang, aku pikir tidak ada yang peduli. Tapi dia membantuku mencarinya sampai ketemu, bahkan saat aku sendiri hampir menyerah." Suaranya bergetar. "Itu pertama kalinya aku merasa ada seseorang yang peduli padaku, bukan karena menginginkan sesuatu, tapi hanya karena… dia ingin menolong."
Felicia berhenti sejenak, memberi Isabel waktu untuk menenangkan emosinya sebelum membalik halaman berikutnya.
"Yang ini tentang Livia," katanya lembut sambil melirik gadis pirang di sudut ruangan.
Livia mengangkat kepala, rasa penasaran menyala di matanya.
Felicia mulai membaca dengan suara lembut.
"Sabtu, 6 Februari 2010. Livia, dengan senyum polosnya, selalu memanggilku 'pahlawan.' Hari ini dia mengingat kembali saat dirinya hampir diculik, dan bagaimana kami datang tepat waktu untuk menyelamatkannya. Aku masih ingat betapa takutnya dirinya saat itu… dan bagaimana yang bisa kupikirkan hanyalah menolongnya dengan semua yang kumiliki. Melihat dirinya sekarang, cerah dan penuh harapan, membuat semuanya terasa layak. Livia kecil yang dulu gemetar ketakutan kini tumbuh menjadi gadis pemberani. Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka. Bahkan kedua orang tuanya membantu kami menjual emas yang kami kumpulkan dari ponsel-ponsel lama."
Livia menatap Felicia dengan mata berkilau.
"Kak Kaivan… tidak semua orang mengajari Livia cara bertahan hidup di dunia seperti ini," katanya sambil tersenyum lembut.
"Livia masih ingat," lanjutnya pelan. "Livia hampir dibawa orang jahat, tapi Kaivan dan yang lainnya datang tepat waktu. Kalian semua melindungi Livia. Dulu Livia sangat takut. Tapi Kaivan bilang, 'Kau tidak sendirian. Kami ada di sini untuk melindungimu.' Sejak hari itu, Livia selalu merasa aman. Livia tahu Kaivan benar-benar peduli, bukan hanya pada Livia, tapi pada semua orang."
Ethan yang duduk di sudut menyandarkan kepalanya ke dinding, tatapannya jauh entah ke mana.
"Dia… dia tidak pernah melihat dirinya seperti itu," gumamnya. "Baginya, semua yang dia lakukan hanyalah… sesuatu yang kecil. Tapi bagi kita, itu berarti segalanya."
Radit yang biasanya paling sering bercanda kini ikut terdiam. Ia menggaruk belakang leher dengan canggung, mencoba menyembunyikan emosi yang mulai memenuhi dadanya.
"Orang itu… Kaivan… dia aneh," katanya pelan. "Tapi dia juga… luar biasa."
Ruangan itu kembali menegang. Felicia duduk kaku, buku harian Kaivan tiba-tiba terasa jauh lebih berat di tangannya. Teman-temannya memandangnya dengan campuran rasa penasaran, takut, dan gelisah.
"Tunggu…" bisik Felicia sambil perlahan membalik ke halaman-halaman belakang. Matanya jatuh pada goresan tinta yang jauh lebih kacau daripada sebelumnya. "Ada sesuatu di sini… catatan yang berbeda."
Ia menarik napas panjang, menenangkan suara gemetarnya sebelum mulai membaca.
"Tanggal tidak penting. Bulan itu menyebalkan."
Semua orang langsung menoleh ke arahnya, tapi tidak satu pun bersuara. Felicia terus membaca, meski setiap kalimat terasa seperti menusuk udara.
"Ibu… kenapa kau pergi? Kenapa kau dibunuh seperti itu? Kenapa dunia ini begitu kejam?"
Isabel menutup mulutnya, air mata mulai memenuhi matanya. Felicia meliriknya sekilas namun tetap melanjutkan.
Di bawah tulisan itu, spiral tinta hitam tebal menyebar di atas halaman seperti racun yang merembes ke kertas. Suara Felicia mulai goyah saat membaca lagi.
"Kak… kenapa kau tidak bangun? Kenapa aku tidak bisa menyelamatkanmu? Kenapa dunia ini hanya memberiku rasa sakit? Aku sudah cukup menderita…"
Setiap baris membuat udara terasa semakin berat dan dingin, seolah hawa beku keluar dari halaman-halaman itu lalu membungkus ruangan. Di setiap kalimat, Kaivan yang mereka kenal terasa semakin menjauh, digantikan oleh seseorang yang terkikis habis oleh duka.
Ini bukan sekadar kata-kata penderitaan. Ini adalah langkah awal menuju perubahan yang mengerikan. Buku harian yang tadinya dipenuhi kesedihan sunyi perlahan berubah menjadi deklarasi kebencian dan rasa haus akan kekuatan. Setiap halaman mencatat satu langkah lagi menuju kegilaan.
Beberapa halaman hanya berisi gema yang kacau.
"HA HA HA HA."
"AKU AKAN MENGHANCURKAN SEMUANYA."
"BUNUH!"
Huruf-huruf itu terlihat seperti dipaksa tertulis di atas kertas. Goresannya tidak rata, seolah ditulis oleh tangan yang gemetar karena amarah. Satu halaman dipenuhi kata "KENAPA" dari atas hingga bawah, ditulis begitu brutal sampai bagian tengah kertasnya robek.
Mereka yang membaca bukan hanya merasa takut, tetapi juga seperti diseret masuk ke dunia Kaivan yang sedang runtuh. Thivi merasa mual, Isabel hampir menangis, bahkan Raphael terlihat terguncang. Buku harian itu terasa seperti pusaran keputusasaan yang menyedot seluruh kehangatan ruangan.
Pada akhirnya, tulisan Kaivan tidak lagi menyerupai buku harian. Itu telah berubah menjadi manifesto kehancuran, kata-kata dari seorang anak laki-laki yang tak lagi mampu membedakan kenyataan dan delusi. Di beberapa bagian, ia menulis bahwa membunuh tidak berarti apa-apa, bahwa tidak seorang pun bisa memerintahnya, bahwa ia melihat masa depan di mana semua orang berlutut di hadapannya.
Halaman terakhir adalah yang paling mengerikan.
"DUNIA INI MILIKKU!"
Tulisan itu memenuhi seluruh halaman, dikelilingi coretan hitam seperti darah yang menyebar. Tintanya begitu tebal hingga terasa kasar di ujung jari.
Felicia berhenti membaca, menatap halaman itu dalam ketakutan yang sunyi.
Felicia berdiri di belakang Isabel, mencoba menenangkan gemetar di tangannya. Ia memaksa dirinya terlihat tenang, namun dirinya tampak rapuh, seperti kaca retak yang bertahan hanya dengan satu helai benang. Thivi duduk di lantai sambil memeluk lututnya dalam diam. Zinnia berdiri di sudut ruangan, memalingkan wajah untuk menyembunyikan air mata yang mulai memenuhi matanya. Raphael bersandar di dinding dengan tangan bersilang, rahangnya mengeras seolah sedang menahan sesuatu yang bahkan tidak bisa ia jelaskan.
Mereka semua menunggu dalam diam, sampai akhirnya Isabel memecah keheningan.
"Hari itu…" Isabel menyentuh pipinya, mengusap air mata yang mulai jatuh. Suaranya bergetar, seperti seseorang yang mencoba berbicara sambil memikul beban terlalu berat. "Aku dan Kaivan baru saja pulang membeli koper. Dia bilang itu untuk sesuatu yang penting. Untuk perjalanannya ke Norwegia."
Thivi sedikit mengangkat kepala, matanya melebar, namun ia tidak mengatakan apa-apa.
"Kami kembali ke rumahnya," lanjut Isabel dengan suara gemetar. "Dan saat aku membuka pintu, bau itu…"
Ia berhenti, memejamkan mata erat seolah ingin mengusir ingatan tersebut.
"Bau darah. Kakiku langsung lemas. Tapi Kaivan…"
