Cherreads

Chapter 202 - Semua Orang Berutang Sesuatu Padanya

Zinnia menegang. Matanya melebar.

"Ah... benar," napasnya keluar pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri daripada kepada orang lain. "Tanggal itu... itu pertama kalinya aku mulai percaya pada laki-laki lagi."

Kenangan langsung membanjiri pikirannya. Kaivan di atas jembatan, senyum lembut yang ia tunjukkan saat mengembalikan dompet yang selama itu ia cari dengan putus asa. Saat dirinya hampir hancur karena panik, Kaivan menenangkannya hanya dengan ketulusan sederhana.

Zinnia meletakkan tangan di dadanya, berusaha menahan getaran di tenggorokannya.

"Aku... aku tidak tahu kalau dia mengingatnya sejelas itu," gumamnya lirih, semburat merah tipis muncul di pipinya.

Felicia membalik ke halaman berikutnya. Nada suaranya menjadi lebih tegas, seolah ingin memastikan semua orang mendengarnya.

"Rabu, 4 November 2009. Lucu juga, aku tidak punya pacar, tapi malah membantu orang mendapatkannya..."

Ruangan itu seperti menahan napas saat ia melanjutkan.

"Hari ini, Frans dengan malu-malu mengaku betapa takutnya dia dulu saat mendekati gadis yang ia sukai. Aku masih ingat saat dia menyatakan perasaannya pada pacarnya. Aku hanya memberi sedikit dorongan dengan meletakkan ember cat di tempat yang akan membuatnya jatuh, lalu menyarankan dia menembak tepat saat cat itu tumpah ke tubuh mereka. Melihat dirinya mengumpulkan keberanian, meski dengan cara canggung, membuatku sadar bahwa hal-hal kecil di sekitar kita bisa memberi seseorang kekuatan untuk mengambil langkah besar."

Frans yang sejak tadi terlihat santai langsung tersentak saat namanya disebut. Ia tertawa kecil dengan suara gemetar, mencoba menyembunyikan emosi yang mulai merayap dalam dirinya.

"Iya... waktu aku nembak dia, dan ternyata dia benar-benar bilang iya," katanya dengan suara bergetar.

Ia menundukkan kepala sejenak.

"Aku sama sekali tidak tahu kalau insiden cat itu rencana Kaivan. Aku benar-benar berterima kasih padanya."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Cahaya neon putih memantul di mata mereka, membuat emosi di dalam diri masing-masing terlihat semakin jelas. Felicia menggenggam buku harian itu erat, setiap halamannya terasa seperti pintu menuju sosok anak laki-laki yang dulu mereka kira biasa saja, namun kini kata-katanya mengguncang hati mereka.

"Yang ini tentang Thivi," kata Felicia. Suaranya terdengar datar, namun tetap dipenuhi emosi yang samar.

Thivi yang duduk di sudut sambil menopang dagunya langsung mengangkat kepala. Mata birunya berkilat penuh rasa penasaran.

"Hah? Tentang aku?" celetuknya cepat, mencoba menyembunyikan getaran gugup dalam nadanya.

Felicia meliriknya sekilas, lalu mulai membaca.

"Sabtu, 7 November."

Suaranya merendah, bergetar di setiap kalimat.

"Thivi mengingatkanku tentang hari ketika aku menariknya keluar dari jalan saat sebuah motor melaju kencang ke arahnya. Jujur saja, aku hampir lupa kejadian itu pernah terjadi. Bagiku itu hanya refleks, tapi bagi dirinya, itu adalah momen yang tidak bisa dilupakan. Dia bilang tanpa diriku, hari itu mungkin akan berakhir berbeda. Melihat dirinya hari ini, masih berani, masih kuat, membuatku bahagia. Hari itu dia juga mengajariku merokok, dan untuk pertama kalinya, aku merasa seperti seseorang yang bisa dilindungi, bukan hanya seseorang yang melindungi."

Suara Felicia memudar di akhir kalimat. Semua tatapan perlahan beralih pada Thivi.

Thivi menatap lantai. Pantulannya di ubin terlihat seperti hantu dari masa lalu yang selama ini coba ia lupakan. Perlahan, ia mengangkat kepala. Matanya kosong, seolah sedang menembus waktu itu sendiri.

"Aku ingat hari itu," bisiknya. Napasnya bergetar. "Aku melaju terlalu cepat. Aku menarik gas, lalu bannya tergelincir karena pasir di dekat tikungan. Aku tidak sempat mengerem. Aku bisa saja..."

Ia terdiam. Air mata mulai memenuhi matanya. Kedua tangannya mengepal kecil, kukunya menekan kulit sendiri.

"Tiba-tiba Kaivan melompat dan menarikku menjauh. Kami jatuh bersama ke semak-semak. Rasanya sakit... tapi aku selamat. Kalau bukan karena dia... mungkin aku sudah..."

Air matanya tidak pecah dalam tangisan keras yang menghancurkan. Dan justru itulah yang membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan. Ia hanya menggeleng pelan, bibirnya bergetar saat berusaha menahan badai di dalam dadanya. Rasa sakit itu mekar dalam diam.

"Kaivan... sekarang kau ada di mana?" bisiknya.

Suaranya retak di udara seperti cermin yang mulai pecah namun belum sepenuhnya hancur.

"Mungkin aku pengaruh buruk... karena hari itu aku yang mengajarimu merokok. Aku ingin meminta maaf... aku tidak tahu kalau itu akan menjadi hari terakhir kita tertawa bersama."

Ia menundukkan kepala, jari-jarinya menggenggam ujung bajunya erat. Isak tangisnya begitu pelan hingga hampir menghilang.

"Yang kuinginkan selama ini... hanya menjadi istri yang baik untukmu. Menemanimu... di setiap detik hidupmu."

Isabel yang duduk sedikit lebih jauh perlahan mengangkat kepala. Gadis yang biasanya berisik dan penuh energi itu kini hanya bisa memandangi Thivi dalam diam. Tatapannya dipenuhi keterkejutan, kesedihan, dan rasa kagum yang sunyi. Kata-kata Thivi bukan sekadar pengakuan. Itu adalah luka yang terbuka paksa dengan keberanian yang tak terduga.

Felicia menarik napas panjang lalu membuka halaman berikutnya. Jari-jarinya yang biasanya tenang kini sedikit gemetar. Suaranya berubah, ada getaran samar yang tak mampu ia sembunyikan.

"Ah... yang ini tentangku."

Ruangan itu seolah menarik napas bersamaan. Felicia, orang terkuat di antara mereka, tiba-tiba terdengar rapuh.

"Sabtu, 14 November. Hari ini Felicia berbicara pelan tentang masa ketika dirinya merasa tersesat dan putus asa. Dia selalu terlihat sangat kuat, jadi aku tidak pernah membayangkan kalau dirinya pernah serentan itu. Hari ini dia berterima kasih padaku, mengatakan bahwa dulu aku pernah membantunya berdiri lagi, meski yang kulakukan saat itu hanya mendengarkan dan tetap berada di sisinya. Tapi melihat dirinya sekarang, tetap teguh dan penuh semangat, membuatku bahagia. Ternyata kehadiran kita bisa berarti lebih besar dari yang kita kira. Meskipun... dia dulu menolakku dengan kasar saat aku hanya menyapanya dan memberinya air minum. Sekarang aku mengerti, luka seseorang tidak selalu terlihat di permukaan."

Felicia membeku. Tubuhnya menegang, rahangnya mengeras, namun matanya tidak mampu berbohong. Air mata mengalir di sepanjang lekuk tajam pipinya.

Ia memeluk buku harian itu erat ke dadanya, seolah takut perasaan itu akan menghilang.

"Ini... salahku," bisiknya. "Aku seharusnya tidak menjauhkannya. Kaivan hanya ingin menolongku. Aku takut. Takut diselamatkan. Takut terlihat lemah."

Radit perlahan berdiri lalu mendekatinya. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya meletakkan tangan dengan lembut di bahu Felicia. Namun Felicia tetap diam di tempatnya, tenggelam dalam rasa bersalah yang tak mampu ia telan.

"Aku ingat..." katanya serak. "Aku berada di pusat perbelanjaan tua itu. Sendirian. Mantan pacarku menendangku dan mengatakan hal-hal mengerikan. Aku sudah tidak punya tenaga. Aku ingin melawan tapi... aku takut dia akan meninggalkanku. Aku terlalu bergantung padanya."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

"Kaivan tiba-tiba muncul. Entah dari mana. Dia berdiri di antara kami dan mencoba menolongku. Tapi aku... aku malah memukulnya. Aku mendorongnya pergi. Aku pikir dia hanya ingin terlihat seperti pahlawan. Tapi dia tidak pergi. Dia tetap di sana, menerima semua pukulanku. Dia... memaksakan dirinya masuk hanya demi menolongku. Dan aku... terlalu takut untuk percaya pada siapa pun lagi."

Felicia menundukkan kepala. Kali ini bukan hanya air mata, isak tangisnya pecah dan mengguncang seluruh ruangan. Di balik kekuatannya, ternyata ia menyembunyikan luka yang jauh lebih dalam daripada yang pernah mereka sadari. Dan Kaivan, dialah satu-satunya orang yang pernah berani menerobos dinding itu.

Keheningan kembali datang saat Felicia mengusap air matanya. Wajahnya memerah, tangannya gemetar saat memegang buku itu. Ia menarik napas dalam, menenangkan dirinya, lalu membalik halaman berikutnya.

"Yang ini... tentang Ethan," bisiknya, matanya menyusuri tulisan tangan Kaivan yang berantakan namun penuh ketulusan.

Ia mulai membaca dengan suara yang lebih tenang, meski setiap katanya menggema di hati orang-orang di sekitarnya.

"Sabtu, 21 November..." gumamnya pelan, nyaris seperti hembusan napas. Matanya bertahan pada tulisan itu seolah kata-kata tersebut bisa menghidupkan Kaivan kembali.

"Ethan, yang jarang sekali berbicara tentang masa lalunya, akhirnya terbuka padaku hari ini. Dia bilang aku adalah orang pertama yang mendorongnya keluar dari gengnya, meski tanpa sengaja. Bagiku, aku hanya ingin dirinya memiliki masa depan yang lebih baik. Tapi baginya, itu adalah dorongan yang sangat besar. Melihat dirinya sekarang berjuang demi kehidupan baru membuatku bahagia. Ethan memiliki masa depan yang cerah, dan aku bangga bisa menjadi bagian kecil dari perjalanannya."

Felicia berhenti. Suaranya bergetar. Tangan kirinya mencengkeram meja, sementara tangan kanannya menggenggam buku harian itu erat.

Sebelum ia sempat melanjutkan, tawa keras tiba-tiba memecahkan keheningan.

"HAHAHA!"

Ethan menyandarkan tubuh di sofa sambil tertawa begitu keras hingga tubuhnya ikut berguncang. Lengan kirinya terlipat di depan dada, sementara tangan kanannya mengusap belakang leher. Senyumnya lebar, memperlihatkan gigi putih tajam di wajahnya yang kasar.

Semua orang menatapnya. Felicia mengernyit. Thivi mengangkat alis. Isabel membeku. Livia memiringkan kepala dengan penasaran.

"Apa yang lucu, Ethan?!"

Ethan perlahan menoleh. Mata cokelat tuanya berkilat dipenuhi nostalgia pahit.

"Kalian tidak tahu, ya? Pertama kali aku bertemu Kaivan... aku mencuri motornya."

More Chapters