Felicia melangkah maju, tatapannya terpaku pada Isabel.
"Apa yang dia lakukan?" tanyanya pelan, meski jauh di dalam dirinya ia sudah tahu jawaban itu akan menghancurkan mereka.
"Dia langsung berlari masuk sambil memanggil ibunya, memanggil kakaknya. Aku cuma bisa berdiri di sana saat dia menemukan mereka…" suara Isabel retak. Air mata mengalir di wajahnya. "Tubuh ibunya… terbelah dua. Dan kakaknya…"
Livia yang duduk di samping Thivi mulai menangis dan memeluk lututnya lebih erat. Thivi menatap kosong ke arah Isabel, terpaku dalam keterkejutan.
"Kaivan memeluk sisa tubuh ibunya, lalu dia mulai melakukan CPR pada bagian atas tubuhnya," bisik Isabel, nyaris tak terdengar. "Dia berteriak memohon agar mereka kembali. Tapi itu mustahil. Mereka sudah…"
"Apakah dia mengatakan sesuatu?" tanya Raphael. Nadanya tenang, namun berat.
Isabel mengangguk.
"Dia bilang, 'Cepat panggil polisi dan ambulans, ibuku masih bernapas.' Dia terus memegang bagian atas tubuh ibunya sambil melakukan CPR. Dia bahkan tidak sadar… kedua tangan ibunya sudah tidak ada."
Zinnia langsung menoleh tajam, menatap Isabel dengan campuran tidak percaya dan marah.
"Maksudmu apa? Dia benar-benar mengatakan itu?"
Isabel kembali mengangguk, rasa bersalah memenuhi matanya.
"Itulah… yang paling menyakitkan. Karena saat aku melihatnya… aku tahu dia sebenarnya tidak sedang mencoba menyelamatkannya. Dia hanya… tidak bisa menerima kenyataan itu. Dia terus menekan dada ibunya bahkan ketika tulangnya mulai retak."
Keheningan menelan ruangan. Hanya suara isak kecil Livia yang tersisa.
"Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Felicia dengan suara serak.
"Kalian semua datang," jawab Isabel. "Saat itu Kaivan terlihat lebih tenang. Tapi aku tahu dia hanya berpura-pura. Dia berusaha terlihat kuat di depan kita, seolah tidak ada yang salah. Tapi ekspresi yang kulihat sebelumnya…"
Ia berhenti, menatap buku harian di tangannya. Jemarinya mengusap sampul buku itu perlahan, seolah sedang menenangkan sesuatu yang tak terlihat.
"Wajahnya… kurasa tidak ada satu pun dari kita yang mampu menahan rasa sakit seperti yang dia rasakan. Seperti seseorang yang seluruh jiwanya direnggut, lalu hanya menyisakan tubuh kosong."
Felicia tidak mampu menahannya lagi. Air matanya pecah saat ia jatuh berlutut dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Kenangan tentang Kaivan yang dulu cerah dan penuh harapan menghantam mereka seperti ombak besar.
Thivi merangkak mendekatinya lalu memeluk tubuhnya. Mata gadis itu juga berkilau oleh air mata.
"Aku tahu ibunya meninggal dengan tragis… tapi aku tidak tahu dia mencoba melakukan CPR pada tubuh yang sudah hancur seperti itu. Kenapa dia harus melalui semua itu sendirian?"
Zinnia menghantam papan tulis dengan telapak tangannya. Suaranya gemetar.
"Karena dia bodoh! Dia pikir bisa melindungi kita dengan menyembunyikan semuanya! Dia tidak tahu kalau kita peduli padanya!"
Radit yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. Suaranya rendah, tenggelam dalam penyesalan.
"Kita semua gagal untuknya. Kita membiarkannya berpikir kalau dia sendirian. Kita mengira dia baik-baik saja hanya karena dia tidak pernah mengeluh. Tapi sekarang… lihat dirinya."
Frans menatap lantai dengan ekspresi kosong.
"Dia cuma berusaha bertahan hidup sendirian. Dan kita tidak pernah sadar. Kita hanya melihat senyumnya, bukan luka di balik itu."
Livia menangis lebih keras lalu memeluk Isabel dari belakang.
"Kenapa dia tidak bilang pada Livia? Livia bisa membantu… Livia pasti membantu…"
Raphael melangkah ke tengah kelompok itu, kehadirannya membuat mereka sedikit lebih tenang.
"Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi," katanya tegas. "Tapi kita masih bisa melakukan sesuatu sekarang. Kita tidak boleh membiarkan dirinya kehilangan dirinya sendiri."
Isabel mengangkat kepala, matanya berkilau oleh air mata.
"Bagaimana? Bagaimana kita membawanya kembali? Dia sudah terlalu jauh…"
"Dengan tetap berada di sisinya," jawab Raphael. "Dengan memastikan dia tahu kalau dia tidak sendirian. Kita ada untuknya, selalu. Dan kita tidak akan membiarkannya jatuh, apa pun yang terjadi."
Langit malam masih gelap ketika Raphael berdiri di depan meja perakitan bom di sudut laboratorium. Matanya yang biasanya tajam kini tampak suram, dipenuhi kekecewaan yang tak mampu ia sembunyikan. Ia menatap bagian-bagian bom di depannya cukup lama, seolah mencari jawaban di dalam keheningan.
"Lucu juga, ya?" gumamnya pahit. "Dia yang dulu menyuruhku meninggalkan jalan ini. Menyuruhku berhenti menjadi teroris… dan sekarang justru dia yang berjalan di jalur itu."
Kata-katanya menggema di ruangan sunyi, menarik perhatian Zinnia. Gadis itu berdiri di depan layar komputer, wajahnya tegang penuh kekhawatiran. Ia menunjuk gambar bangunan yang diproyeksikan di monitor. Beberapa tanda merah berkedip mengerikan di atas peta.
"Pasti ini," bisiknya. "Bangunan ini… sebenarnya apa? Apa yang ingin dia lakukan di sana?"
Namun tak ada yang menjawab. Keheningan berat turun di antara mereka saat semua menatap layar itu. Di sudut ruangan, Isabel berjalan mendekati komputer lain, tempat Tome Omnicent masih terbuka dengan antarmuka futuristik yang bercahaya samar. Ia menarik napas panjang yang gemetar sebelum berbicara.
"Kau tahu apa yang sedang Kaivan coba lakukan, bukan?" tanyanya. Suaranya retak dipenuhi keputusasaan.
Tome itu menjawab dengan barisan teks yang muncul satu demi satu, disertai suara sintetis yang dingin, tenang, dan berwibawa.
"Kaivan memasuki gedung itu untuk menghancurkan beberapa dokumen dan data. Tujuannya adalah melumpuhkan oprasional Vella."
Kata-kata itu menembus ruangan seperti tombak. Mereka semua tahu Kaivan punya alasannya sendiri, tapi itu tidak menghapus rasa takut mereka. Mata Isabel memerah saat menatap layar, kedua tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.
Sementara itu, Kaivan bergerak cepat melewati bangunan gelap itu. Gema langkah kakinya memenuhi koridor. Suara Tome Omnicent masih terdengar di telinganya melalui earpiece yang terhubung, namun kali ini tidak membawa perintah, hanya peringatan.
"Lindungi Kaivan yang berniat meledakkan beberapa ruangan dan fasilitas," ucapnya tegas. "Kaivan, aku tahu kau bisa mendengar ini, tapi aku tidak bisa menghentikanmu lagi. Aku hanya berharap kau tidak melakukan sesuatu yang gegabah."
Kaivan berhenti sejenak lalu mengembuskan napas lelah.
"Tch… Isabel dan yang lainnya pasti sudah sampai di ruang bawah tanah sekarang," gumamnya frustrasi. "Setelah malam itu bersama Isabel, seharusnya dia tidak ikut terlibat lagi…"
Ia mengambil radio kecil di sakunya lalu menghancurkannya tanpa ragu. Ia tahu mereka akan mencoba menghentikannya. Dan ia tidak bisa membiarkan itu terjadi, tidak malam ini. Ini adalah sesuatu yang harus ia selesaikan sendiri.
Kembali di laboratorium, Felicia mencoba menghubunginya melalui saluran komunikasi. Suaranya terdengar tegas meski tangannya gemetar.
"Kaivan, jawab aku! Hei! Kaivan!"
Yang menjawab hanyalah keheningan.
Felicia menghantam meja dengan tangannya, kemarahan dan kesedihan bercampur di wajahnya.
"Dasar bodoh…" desisnya. "Dia benar-benar berpikir ini satu-satunya jalan…"
Radit yang sejak tadi mondar-mandir gelisah akhirnya berdiri tegak.
"Diam di sini tidak akan membantu!" teriaknya. "Kita akan mengejarnya sebelum dia melakukan sesuatu yang tidak bisa dia tarik kembali!"
Mereka tidak membuang waktu sedetik pun. Frans memimpin dengan mobil tercepat yang mereka miliki. Mereka melaju menembus jalanan kota yang redup, wajah mereka mengeras di bawah cahaya lampu yang berlalu.
Di dalam gedung itu, Kaivan terus bergerak maju. Koridor demi koridor berlalu di belakangnya, setiap langkah didorong oleh tekad yang kuat. Beberapa penjaga bersenjata menghadangnya, namun dengan kapasitas otaknya yang kini mencapai 50%, dirinya telah berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Gerakannya tajam dan tanpa belas kasihan.
Satu tendangan menghantam tulang rusuk penjaga hingga pria itu terlempar ke lantai sambil mengerang kesakitan. Dengan gerakan cepat dan presisi, Kaivan merebut senjata lalu menghantam gagangnya ke kepala penjaga lain hingga pria itu langsung pingsan.
Udara malam membawa aroma samar bubuk mesiu. Lampu jalan di luar memantulkan bayangan tipis di dinding beton. Langkah kaki Kaivan menggema di lorong sempit, mantap dan tak tergoyahkan.
"…Hmm. Ternyata ini cukup menyenangkan," gumamnya dengan senyum tipis.
Ia melesat maju, bergerak di antara lorong saat suara tembakan meledak dari belakangnya. Kaivan berlari semakin cepat, menyelinap di antara peluru dengan ketenangan yang mengganggu.
Tangannya menggenggam erat karambit berkilau di bawah cahaya redup. Dengan kecepatan mematikan, ia menjatuhkan para penjaga Vella satu per satu. Setiap tebasan mengalir seperti irama kematian, setiap langkah menjadi penanda jalan menuju kehancuran.
Di sebuah ruangan luas, seorang wanita tinggi dengan rambut hitam pendek berdiri menunggunya. Posturnya tegak dan penuh percaya diri, mata tajamnya berkilat saat melihat Kaivan mendekat. Senyum licik terukir di bibirnya, begitu yakin akan kemenangannya.
"Kaivan… Kaivan," ejeknya saat sosok kecil itu muncul dari bayangan. "Kau datang sendirian? Tanpa Felicia di sisimu, ini akan menjadi terlalu mudah…"
Sebelum Rapi sempat menyelesaikan kalimatnya, Kaivan sudah berada di belakangnya. Dalam satu gerakan cepat yang nyaris tak terlihat, ia melingkarkan lengannya di tubuh tinggi wanita itu. Namun pelukan itu bukan tanda kasih sayang, melainkan jebakan mematikan.
Dengan dorongan kuat tanpa ragu, karambit Kaivan menembus leher Rapi. Darah menyembur keluar, sementara mata wanita itu melebar dalam keterkejutan tanpa suara.
